Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
19 Januari 2026
A A
Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO

Ilustrasi - Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat (selanjutnya disebut Istora Senayan Jakarta), memberi degup tersendiri bagi anak-anak muda yang menaruh mimpinya pada genggaman raket dan shuttlecock. Daihatsu Indonesia Masters 2026 menjadi saksinya. 

***

Rasanya di setiap rumah di kampung-kampung berbagai pelosok Indonesia–sepanjang masih terhubung dengan akses televisi atau layanan internet streaming–tiba-tiba akan menjadi gayeng setiap ada event bulu tangkis yang Indonesia turut menjadi partisipan. 

Sudah menjadi rahasia umum kalau bulu tangkis menjadi cabang olahraga dengan banyak penikmat selain sepak bola. 

Di kampung halaman saya di Rembang, Jawa Tengah, gambaran situasinya begitu. Orang bisa betah mantengin televisi berjam-jam demi memantau jagoan-jagoan (para pebulu tangkis Indonesia) bertanding. 

Kalau di Surabaya–tempat saya merantau bertahun-tahun–sejumlah warung kopi juga akan menyiarkan secara maraton siaran langsung pertandingan bulu tangkis. 

Saya dan sebagian banyak orang yang nonton mungkin hanya sekadar menikmati. Namun, ada orang-orang seperti Mohammad Zaki Ubaidillah (19). Dari layar kecil di rumahnya di Sampang, Madura, ada tekad yang diam-diam menyala. 

Gemuruh Istora Senayan Jakarta menjadi awal mimpi

Ada sensasi merinding tiap menyaksikan gemuruh sorak-sorai di tribun Istora Senayan, Jakarta Pusat. Sensasi merinding itu bahkan terasa sekalipun Ubed, sapaan akrab Mohammad Zaki Ubaidillah, hanya menonton dari televisi. 

Oleh karena itu, sejak kecil Ubed menaruh mimpinya untuk menjadi orang yang berdiri di dalam arena Istora. Lalu orang-orang dari tribun meneriakkan namanya, bersanding dengan teriakan nama “Indonesia”, memberi dukungan. 

Ubed lantas memulai langkahnya mengejar mimpi itu sedari sekolah dasar. “Dulu di kampung halaman saya di Sampang, saya berlatih bareng ayah. Saya mulai ikut-ikut turnamen seperti Porseni,” ungkap Ubed saat saya temui sehari menjelang Daihatsu Indonesia Masters 2026 di kawasan Istora Senayan, Jakarta, Senin (19/1/2025) siang. 

Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO
Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta. (Dok. Daihatsu Indonesia Masters 2026)

Menyeberang Madura, menahan tangis karena kangen orang tua

Bahkan sejak kelas 2 SD, Ubed mulai berani menyeberangi Madura demi mengasah kemampuannya dalam olahraga tepok bulu. 

Ia pernah berlatih di klub PB Rahmat, Pati, Jawa Tengah. Tak berhenti di situ, ia lalu bertualang menjajal sejumlah klub di beberapa daerah. Ke Klaten (Jawa Tengah), hingga berlatih di Surabaya dan Gresik (Jawa Timur). 

Mohammad Zaki Ubaidillah dan para atlet lain MOJOK.CO
Mohammad Zaki Ubaidillah dan para atlet lain. (Dok. Daihatsu Indonesia Masters 2026)

Di usia yang masih belia, sejujurnya ada dilema antara mengejar mimpi dan kangen dengan orang tua. Ubed mengaku ia amat sering menangis saat tinggal di asrama karena perasaan kangen yang tak terbendung. 

“Tapi mau bagaimana lagi. Nggak mungkin aku berhenti,” ujarnya dengan senyum hangat. 

Iklan

“Untuk mengobati kangen, ya aku telepon orang tua. Mereka support terus, jadi aku terus semangat berlatih,” sabun Ubed. 

Meski sudah malang-melintang, tapi Istora Senayan Jakarta tetap sakral

Sekarang coba saja ketik nama “Mohammad Zaki Ubaidillah” di mesin pencari. Anak muda asal Sampang, Madura, ini sudah menorehkan banyak prestasi gemilang di cabang olahraga bulu tangkis. Baik di level nasional maupun internasional. 

Ia bahkan digadang-gadang sebagai “Masa depan tunggal putra bulu tangkis Indonesia”. Di level junior, setidaknya untuk saat ini, namanya bertengger di posisi teratas peringkat BWF Junior 

“Tapi Istora Senayan tetap sakral. Karena sejak kecil saya pengin bisa main di Istora. Di bawah jutaan pasang mata rakyat Indonesia sendiri,” kata Ubed. 

Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO
Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta. (Aly Reza/Mojok.co)

“Daihatsu Indonesia Masters 2026 ini jadi kesempatan pertama saya main di Istora. Jadi, selain untuk mencapai impian saya, saya juga pengin ngasih yang terbaik buat rakyat Indonesia, negara ini, dan tentunya orang tua,” imbuhnya penuh tekad. 

Lebih-lebih, Daihatsu Indonesia Masters 2026 dikonsep sebagai “Pesta Rakyat”. Selain harga tiket yang jauh lebih terjangkau dari edisi sebelumnya, juga dilengkapi beragam booth dan fasilitas yang bisa diakses oleh warga. 

Ubed ingin memberi kebanggaan dan kebahagiaan bagi mereka yang datang, melalui penampilan terbaik yang bisa ia berikan. 

Doa dan pesan orang tua, serta harapan agar mereka tak hanya nonton di layar kaca

Bahkan ia berencana memberangkatkan orang tuanya dari Sampang, Madura ke Jakarta. Itu jika Ubed bisa melaju jauh di Daihatsu Indonesia Masters 2026. 

Istora Senayan, Jakarta, itu sakral. Titik awal menaruh mimpi di kancah bulu tangkis.

Maka, di kesempatan pertama kali tampil di arena tersebut, ia ingin orang tuanya datang untuk menyaksikan langsung aksi sang anak. Agar tidak hanya menonton dari layar televisi saja. 

Orang tua Ubed harus turut merasakan bagaimana atmosfer Istora Senayan, Jakarta bisa begitu menggetarkan hati, membanggakan sekaligus mengharukan. 

Apalagi Daihatsu Indonesia Masters 2026 menghadirkan 274 atlet dari 21 negara. Akan sangat riuh dan penuh persaingan. 

“Setiap sebelum tanding aku pasti telepon orang tua buat minta doa. Mereka selalu pesen, kalau berprestasi jangan sombong, terus rendah hati, paling penting salat jangan ditinggal,” tutup pemuda kebanggaan Madura itu. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: PB Djarum dan Cara Mereka Menyiapkan Masa Depan Atlet Bulu Tangkisnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2026 oleh

Tags: bulu tangjkisdaihatsu indonesia masters 2026indonesia mastersindonesia masters 2026Istoraistora senayanjakartaMadurapilihan redaksisampang madurazaki ubaidillah
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO
Sehari-hari

Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan

10 April 2026
Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” MOJOK.CO
Urban

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

10 April 2026
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO
Urban

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Horor, Evolusi Kelelawar Malam di Album "Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata.MOJOK.CO

Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata

9 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Gen Z mana bisa slow living, harus side hustle

Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

8 April 2026
Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Mahasiswa KKN di desa

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO

Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan

10 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.