Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

“Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
13 Januari 2026
A A
Film Suka Duka Tawa mengangkat panggung stand-up comedy. MOJOK.CO

ilustrasi - aktor utama Tawa dalam film Suka Duka Tawa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Film Suka Duka Tawa yang tayang di bioskop pada 8 Januari 2026 ini tak hanya menghadirkan banyak adegan jenaka, tapi juga getirnya hidup menjadi orang lucu. Mulanya, penonton dibuat menahan tawa di adegan pertama dan perlahan lepas hingga akhir. Begitu juga dalam proses penyembuhan luka.

***

Saat saya SMP, Bapak selalu menguasai televisi di malam hari. Ia selalu menjadwalkan nonton Opera van Java (sketsa komedi terkenal pada zamannya), lalu stand-up comedy setiap pukul 19.00 WIB. Alhasil, saya jadi ikutan suka dengan acara-acara tersebut. Karena acara itu, saya dan bapak bisa tertawa bersama. 

Namun, menonton film “Suka Duka Tawa” yang dibalut dengan komedi jujur malah membuat saya kurang bisa tertawa lepas. Apalagi ceritanya mengangkat isu soal fatherless, di mana tokoh utama bernama Tawa (diperankan oleh Rachel Amanda) adalah seorang komedian yang memiliki persona “yatim pasif”.

Ironi. Di balik tawa lepas saya melihat stand-up comedy bersama Bapak dulu. Kini, saya harus menertawakan kisah seorang komedian yang berusaha membuat penonton tertawa dengan kisah masa lalunya yang kelam.

Tawa. MOJOK.CO
Karakter Tawa membuka dalam panggung stand-up besar. (Tangkapan layar trailer film “Suka Duka Tawa”/Youtube Visinema Pictures)

Meski terlihat kejam, tapi saya tahu bukan hanya itu pesan yang ingin disampaikan Aco Tenriyagelli, sang sutradara film “Suka Duka Tawa” kepada penonton. Dalam film debutnya itu, Aco ingin menunjukkan perjalanan emosional manusia dan cara mereka memaknai tawa sebagai proses menyembuhkan luka.

“Buat saya, tawa itu bisa jadi peredam luka, bahkan pengobat dari semua luka,” kata Aco dikutip dari Tempo, Selasa (13/1/2026).

Di balik tawa seorang komedian dalam “Suka Duka Tawa”

Berangkat dari perenungannya soal menertawakan luka masa lalu, Aco ingin memperkenalkan tokoh utama bernama Tawa (Rachel Amanda), seorang komika perempuan dengan persona “Yatim Pasif” di film “Suka Duka Tawa” karya pertamanya. Namanya saja yatim pasif, artinya Tawa “merasa” tak punya seorang bapak. 

Berbeda dengan makna yatim secara harfiah yang ditinggal mati oleh bapak, bapak Tawa sebetulnya masih hidup. Hanya saja perannya sebagai bapak sering absen. Dalam dunia psikologi, isu ini dikenal dengan istilah fatherless.

Di awal film, penonton sudah disajikan adegan perjuangan Tawa yang dituntut mandiri bersama ibunya Cantik (Marissa Anita) tanpa kehadiran ayahnya, Hasan Keset (Rifnu Wikana). Mulai dari susahnya bekerja, bayar kos-kosan, sambil merintis karier sebagai seorang komedian dengan open mic di kafe.

Beruntung, Tawa masih memiliki teman-teman yang selalu mendukungnya di situasi apapun. Mereka adalah Adin (Enzy Storia), Nasi (Arif Brata), Fachri (Gilang Bhaskara), dan Iyas (Bintang Emon). Dari interaksi mereka lah justru penonton bisa tertawa meski animonya tidak besar dan kurang mendalam.

Sementara, adegan open mic Tawa sendiri di kafe masih terasa kurang lucu dalam film “Suka Duka Tawa”. Ledakan tawa baru ia dapatkan saat Tawa menceritakan keresahannya soal Hasan Keset, bapaknya yang kini sukses menjadi aktor komedi sketsa televisi.

Dalam materi stand-up comedy-nya, Tawa menceritakan aib bapaknya yang meninggalkan keluarga sejak Tawa masih kecil tapi dibalut dengan komedi satir. Tanpa disangka, materi itu sukses membuat penonton tertawa dengan persona yatim pasifnya.

Iklan

Lagu-lagu yang mewakili cerita sehingga terasa hidup

Sebagai aktor yang memulai karier sejak kecil, akting Rachel Amanda sebagai Tawa tak bisa diragukan. Chemistry-nya terjalin apik dengan aktor kawakan Teuku Rifnu Wikana yang berperan sebagai bapak. 

Hasan Keset. MOJOK.CO
Hasan Keset yang berhasil menyembunyikan luka di balik tawa. (Tangkapan layar trailer film “Suka Duka Tawa”/Youtube Visinema Pictures)

Bak seorang “Joker”, Teuku Rifnu berhasil menunjukkan karakter bapak yang tampak bahagia di luar tapi rapuh di dalam. Bekerja untuk membuat orang-orang tertawa lewat perannya sebagai korban sketsa komedi di televisi, tapi meninggalkan anak dan istri. 

Setelah 20 tahun berlalu, barulah ia sadar bahwa mimpinya itu telah mengorbankan banyak hal, termasuk kebahagiaannya bersama keluarga. Lewat pengalamannya menjadi seorang komedian, Tawa akhirnya paham dan perlahan mulai bisa memaafkan bapaknya. Ia pun menyadarkan bapaknya untuk meminta maaf, tak hanya ke Tawa tapi ibunya.

“Bapak sadar nggak sih yang dilakuin Bapak itu salah?” tanya Tawa.

“Kalau kesempatan kedua itu masih ada, tolong terima maaf Bapak.” Ujar Hasan Keset yang disambut lagu epik karya The Lantis berjudul “Bunga Maaf”.

Pada akhirnya, film Suka Duka Tawa tak hanya mengajak penonton untuk tertawa lewat stand-up comedy, tapi memaafkan peristiwa menyakitkan di masa lalu untuk kehidupan masa kini. Seperti lagu The Adams berjudul “Timur”.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2026 oleh

Tags: Acofatherlessfilm 2026film bioskopfilm keluargarekomendasi film komedistand up comedySuka Duka Tawa
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal
Video

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
Udin Amstrong: Menertawakan Hidup dengan Cara Paling Jujur
Video

Udin Amstrong: Menertawakan Hidup dengan Cara Paling Jujur

2 Desember 2025
Seorang bapak di Semarang tak tega lihat anak stunting, hindari isu fatherless. MOJOK.CO
Ragam

Awalnya Tak Tega Lihat Anak Sakit hingga Dampingi Istri ke Puskesmas, Lalu Sadar Pentingnya Peran Seorang Bapak

7 November 2025
ayah, kehilangan ayah, fatherless, kasih sayang ayah.MOJOK.CO
Ragam

Saya Tidak Akrab dengan Ayah, tapi Terasa Sangat Kehilangan Saat Dia Sudah Tiada

6 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

celengan investasi, ai.MOJOK.CO

Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS

30 Januari 2026
Pertama kali makan donat J.CO langsung nangis MOJOK.CO

Orang Berkantong Tipis Pertama Kali Makan Donat J.CO, Dari Sinis Berujung Nangis

3 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
Sesi mengerikan kehidupan di desa: orang tua nelangsa karena masih hidup tapi anak-anak (ahli waris) sudah berebut pembagian warisan MOJOK.CO

Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal

3 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Benarkah Keturunan Keraton Jogja Sakti dan Bisa Terbang? MOJOK.CO

Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

30 Januari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.