Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Cerita Alumnus UGM yang Kena Bully, Dilabrak Belasan Senior Gara-gara Aktif Berorganisasi

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
11 Maret 2025
A A
Alumnus UGM terkena bully. MOJOK.CO

ilustrasi - alumnus UGM yang pernah terkena bully oleh belasan senior. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Semakin dewasa, Eren (23) jadi sulit mempercayai orang lain. Ada perasaan takut yang menyelimuti hatinya karena pernah di-bully. Lebih-lebih jika ada orang yang menghakiminya. Oleh karena itu, alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut lebih sering menarik diri dari lingkungan sosialnya. 

Peringatan: Tulisan ini dapat memicu pengalaman traumatis, khususnya bagi kamu yang pernah mengalami bullying. Mojok menyarankan kalian tidak melanjutkan membaca apabila dalam keadaan rentan.

Curhat alumnus UGM yang mengalami bully

“Ketika SMA, saya sudah tidak punya keinginan untuk ikut organiasi, sebab semangat itu sudah saya kubur dalam-dalam berkat pengalaman buruk di bangku SMP,” kata Eren saat dihubungi Mojok, Selasa (11/3/2025).

Saat SMP, Eren mengaku mengalami bullying di pondok pesantren. Setidaknya ada 15 orang yang ramai-ramai melabraknya hanya karena ia aktif ikut Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). 

Pondok pesantren tempat Eren nyantri menganut sistem poin. Anak yang melanggar bisa mendapat sanksi ringan hingga berat, tergantung jumlah poinnya. Salah satu sanksi terberat adalah dijemur di depan masjid sambil mengaji berjam-jam, bahkan ada yang sampai pingsan.

Orang yang bisa mengakses poin itu hanyalah guru dan beberapa anggota OSIS. Jadi tidak semua. Sementara, Eren yang punya jabatan inti di OSIS dan daya ingat yang kuat akhirnya dipercai oleh gurunya.

“Sebenarnya bukan saya yang ngasih poin, tapi kebetulan saya punya ingatan bagus untuk menghafal nama-nama panjang. Jadi saya orang yang pertama kali dicari kalau guru-guru tak tahu nama mereka,” kata alumnus UGM tersebut.

Kesalahpahaman itu semakin beralut hingga beberapa santri di pondok pesantren menjauhinya bahkan merundungnya secara fisik dan mental. 

Suatu hari, 15 orang siswa melabraknya. Satu dari mereka melempar sapu ke arah Eren. Beruntung tangannya cekatan menangkis sapu tersebut. Tak berhenti sampai di situ, melihat Eren yang berani melawan, sebuah wadah berisi body lotion kali ini meluncur ke arahnya.

“Saya tidak siap dan belum sempat menghindar, sebelumnya akhirnya mendarat dengan mulus di pelipis,” kata alumnus UGM tersebut.

Melihat Eren yang kesakitan, mereka justru tertawa terbahak-bahak. Lalu, meninggalkan Eren sendirian. Di depan belasan orang tadi, Eren berjanji pada dirinya sendiri agar tidak menangis. Namun, air matanya pecah saat mengambil wudu di keran musala. 

“Sakit di pelipis memang tak seberapa, tapi sakit hatinya luar biasa,” ucapnya.

Bullying di pondok pesantren yang berulang

Bullying itu tak terjadi sekali. Saat menjadi siswa baru, ia sudah dilabrak oleh kakak kelas hanya karena lirikannya dinilai judes. Beberapa kakak kelas memaki-maki Eren dengan suara keras dan tidak mau berhenti sebelum ia meminta maaf.

Tak berhenti sampai di situ, mereka diam-diam masuk ke kamar Eren lalu membuka lemari pribadinya yang sengaja tidak dikunci. Rupanya, salah satu dari mereka mengambil buku harian Eren yang berisi keluh kesahnya selama ini.

Iklan

Eren pikir buku itu hilang karena kecerobohannya. Bisa saja buku itu jatuh atau ketinggalan di suatu tempat. Namun, saat malam tiba, Eren justru dipanggil oleh anak-anak tadi ke salah satu ruangan. Di sana, mereka memarahi Eren hingga pukul 02.00 WIB.

“Buku itu isinya mostly misuh-misuh, ya saya ngeluh aja karena udah capek sekolah plus diniyah, masih senang-senangnya oragnisasi tapi malah diganggu,” kata alumnus UGM tersebut.

Tak puas memarahi Eren, kadang-kadang saat bertemu di jalan, bahu Eren ditabrak oleh satu atau dua orang sampai ia hampir jatuh. Namun, Eren memilih tak menggubrisnya. Sebetulnya, ia sempat ingin pindah sekolah tapi tak bisa menceritakan masalah tersebut ke orang tuanya.

“Saya nggak mau mereka cemas, apalagi ayah saya punya penyakit jantung sejak saya SD,” ucap Eren.

Proses pemulihan diri hingga lulus kuliah di UGM

Pengalaman Eren saat SMP masih membekas hingga sekarang, walaupun ia mengaku sudah bisa berdamai dengan masa lalu tersebut. Sebab sebelumnya, Eren berujar jadi sulit mengelola emosi. Termasuk mengendalikan ledakan amarah yang sering terjadi. 

Tak jarang, ia lebih memilih menghindari konflik, baik dalam hubungan pertemanan maupun di dunia kerja. Bahkan dalam situasi yang seharusnya membutuhkan ketegasan

“Ketika marah saya takut, kata-kata saya justru menyakiti dan memperburuk keadaan,” ucap alumnus UGM tersebut.

Namun, bagi Eren, pengalaman adalah guru terbaik. Dari bullying di pondok pesantren, ia bisa merefleksikan perjalanan hidupnya. Tak mudah memang, tapi ia berusaha menghargai prosesnya untuk bertumbuh. Mungkin karena itu, ia jadi lebih peka terhadap sekitarnya.

Pengalaman bullying tersebut juga membuat Eren belajar, betapa pentingnya empati dan berlaku baik pada orang lain.

“Alih-alih menekan atau mengabaikan perasaan yang muncul, cobalah merasakan dan memahami emosi yang masih tersisa,” ujarnya, “lalu menerima bahwa kejadian tersebut adalah bagian dari masa lalu yang tidak bisa diubah,” lanjutnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Anak Saya Direndahkan, Dibilang Anak Setan–Ucap Orang Tua Korban Bully di Jakarta  atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 14 Maret 2025 oleh

Tags: alumni UGMberdamai dengan masa lalubullyinggangguan kesehatan mentalkehidupan pondok pesantren
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Mahasiswa Pariwisata UGM Jogja belajar dari kepala suku di Raja Ampat, lebih dari ilmu kuliah
Edumojok

Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata

13 Maret 2026
Kuliah S2 Jurusan Matematika UGM. MOJOK.CO
Kampus

Rahasia di Balik Alumnus S2 Matematika UGM yang Bisa Lulus Hanya dalam Waktu 1 Tahun lewat Program “Studi Kilat”

31 Oktober 2025
Gaji Fresh Graduate Alumni UI, UGM. MOJOK.CO
Kampus

Kuliah di Universitas Terbaik Malah Merasa Gagal: Kampus Sibuk Naikkan Ranking Dunia, tapi Melupakan Nasib Alumninya

2 Oktober 2025
UGM Memang Kampus Terbaik Lulus Gagal Kerja Salah Sendiri! (Dok. UGM)
Pojokan

UGM, Kampus Terbaik yang Bikin Alumni Menderita karena Sulit Dapat Kerja, padahal Nyatanya Tidak: Alumni Stop Banyak Mengeluh, Bikin Muak Saja

1 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

4 April 2026
Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

5 April 2026
PNS tetap WFO saat WFH

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Gagal seleksi CPNS (PNS ASN) pilih nikmati hidup dengan mancing MOJOK.CO

Gagal Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Dicap Tak Punya Masa Depan tapi Malah Hidup Tenang

9 April 2026
Lulusan farmasi PTS Jogja foto keluarga

Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

7 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.