Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Cara Berkendara Plat AB di Jogja bikin Plat L Surabaya “Malu” dan Introspeksi, Dirugikan tapi Malah Kasih Wejangan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
6 Oktober 2025
A A
Pengendara plat L Surabaya kaget sama sikap plat AB Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi - Pengendara plat L Surabaya kaget sama sikap plat AB Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Baru satu tahun tinggal di Jogja, Prayoga (23) mengaku kagok dengan sikap para pengendara motor atau mobil daerah sini—terutama plat AB. Mengendarai motor lawas ber-plat L (Surabaya), Prayoga teramat sering mengalami insiden dengan kendaraan plat AB. Entah menabrak, ditabrak, atau sekadar serempetan.

Nah, penyikapan orang-orang asli Jogja pasca insiden itulah yang membuat Prayoga agak kaget. Tak seperti apa yang kerap dia alami kala bersinggungan dengan kendaraan-kendaraan plat L, M, dan lain-lain yang memenuhi jalanan Surabaya.

Nyaris dipukul, dicaci maki, hingga KTP difoto

Menjadi kurir makanan di Surabaya hawanya memang agak kemrungsung. Apalagi kalau mendapat pesanan di jam-jam rawan macet.

Situasi seperti itu membuat Prayoga kerap kali berkendara dengan grasak-grusuk. Pasalnya, kalau pesanan telat diantar, bukannya tip, pasti makian dan bintang 1 yang dia dapat. Merusak reputasinya sebagai kurir makanan.

Tak pelak, insiden “tabrakan” teramat sering terjadi pada Prayoga, dengan motor lawas plat L-nya. Seperti pada suatu ketika, karena tergopoh, Prayoga menyerempet sebuah mobil plat L.

Pemilik mobil berteriak meminta Prayoga menepi. “Jancuk” dan rentetan umpatan lantas memberondong Prayoga yang hanya bisa diam dengan kaki gemetar.

“Kerahku ditarik. Nyaris dipukul. Terus dituntut ganti rugi. Ya saya bilang saya mau ganti rugi. KTP-ku difoto buat jaminan kalau aku lari dari tanggung jawab. Ancamannya ngeri, dilaporkan polisi,” ujar Prayoga saat bersua saya di pertengahan September 2025 lalu.

“Kesalahan kecil” bisa memancing keributan

Beberapa kali Prayoga juga mengalami hal serupa. Jangankan menabrak atau menyerempet, wong jelas-jelas dia jadi korban saja kerap kena sasaran amuk pengendara plat L atau plat M yang nabrak kok.

Kalau kata Prayoga, kesalahan kecil saja di Surabaya bisa jadi memicu keributan serius.

Misalnya, Prayoga kerap nyaris kebablasan: Lampu merah sudah menyala, tapi motornya malah digas kenceng. Alhasil, dia harus ngerem mendadak karena kendaraan dari arah lain mulai melaju.

Pernah juga, perkaranya nyaris tabrakan karena tiba-tiba kendaraan di depannya belok ke lain arah mendadak. “Itu bisa memicu keributan, loh. Pasti langsung jancuk atau asu yang keluar dari mulut pengendara lain,” kata Prayoga.

Pertama kali plat L hadapi plat AB: kok ada yang aneh

Pengalaman-pengalam buruk di Surabaya itu ternyata terbawa di batin Prayoga sampai dia merantau ke Jogja pada 2024 lalu.

Prayoga menyadari, memang dasar dia saja yang kerap ceroboh. Suatu waktu, di jalanan Kota Jogja, dia tiba-tiba belok mendadak tanpa sein. “Karena belum hafal jalan kan, aku lupa kalau harusnya belok. Alhasil mendadak belok,” tutur Prayoga.

Tak pelak belokan tiba-tibanya itu membuat pengendara motor plat AB di belakngnya harus oleng dan menubruk motor Prayoga. Keduanya sama-sama berhenti dengan kondisi motor setengah terjatuh.

Iklan

Di titik itu, Prayoga menundukkan kepala. Sudah bersiap akan kena damprat, caci maki, dipukul, atau bahkan KTP-nya bakal difoto. Tapi Prayoga malah dibuat kaget atas apa yang terjadi selanjutnya.

“Memang wajahnya kesal, tapi cuma bilang gini, ‘Mas… mas… sing ati-ati (yang hati-hati). Hanya itu, terus orang itu lanjut,” ujar Prayoga. Bayangkan, bahkan dalam situasi kesal, pengendara asal Jogja itu masih sempat-sempatnya berpesan “hati-hati.”

Plat L nyerobot celah sempit, dimarahi dengan cara “tak biasa”

Dasar orang grasak-grusuk, berkali-kali Prayoga nyaris serempetan dengan pengendara plat AB. Baik di jalanan Kota Jogja hingga di Jalan Kaliurang. Perkaranya, dengan motor lawasnya, Prayoga gemar sekali serobat-serobot di celah-celah sempit.

Alhasil, berulang kali dia hampir senggolan dengan pengendara plat AB Jogja. Namun, anehnya, kalau ada yang kesal dengan Prayoga, alih-alih berteriak dengan amarah dan umpatan, orang-orang asli Jogja itu hanya melempar kalimat, “Mbok sing sabar, Moas (Mbok yang sabar, Mas).”

Raut wajahnya kesal. Tapi tidak ada tekanan penuh amarah. Ini jelas tak biasa bagi Prayoga yang selama ini kenyang umpatan selama di Surabaya.

Berlatih tak grasak-grusuk seperti orang Jogja

“Marah aja masih bilang ‘hati-hati’ dan ‘sabar’. Kayak bukan orang marah, hahaha,” ungkap Prayoga.

Kejadian paling aneh dia alami saat berkendara di Jalan Magelang, pada suatu siang yang terik belum lama ini.

Mobil di depan Prayoga berhenti mendadak saat di belakangnya Prayoga tengah ngebut-ngebutnya. Mati-matian Prayoga mengerem mendadak gara-gara mobil di depan tersebut. Karena kalau tiba-tiba banting kanan atau kiri, dia bisa kesamper kendaraan lain.

Yang terjadi selanjutnya: Motor plat L Prayoga menabrak bagian belakang mobil berplat nomor Jogja tersebut. Si pemilik mobil langsung keluar.

“Aku sudah siap-siap ganti rugi itu. Tapi bukannya marah, orang itu cuma ngecek seberapa penyok mobilnya, lalu tanya kondisiku,” tutur Prayoga.

Prayoga minta maaf dan berniat ganti rugi. Tapi si pemilik mobil malah bilang enggan diganti. Dia tidak mempermasalahkan. Malah mengakui kesalahan karena ngerem mendadak. Kata Prayoga, itu kalau terjadi di Surabaya, pasti sudah habis dia.

Makin ke sini, Prayoga makin sadar, ini Jogja bukan Surabaya. Dia menyadari betapa banyak orang di sini hidup dalam ritme yang pas. Tidak terlalu cepat, tapi disebut lamban pun tidak sepenuhnya begitu.

“Aku akhirnya belajar nggak grusak-grusuk, terutama pas bawa motor. Malu juga sama orang-orang sini, baik-baik e,” kata Prayoga.

Kini dia kerap membawa motor tanpa keterburu-buruan. Menikmati suasana jalanan tanpa kemungkinan menabrak orang lain. Kalau dirasa-rasakan, ternyata riuh-rendah Jogja amat menyenangkan, tak sesumpek Surabaya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Cara Berkendara Motor Orang Jogja bikin Bingung dan Kaget Orang Surabaya, Lampu Hijau pun Beda Arti atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2025 oleh

Tags: jalan rawan macet jogjajalan rawan macet surabayajam rawan macet surabayaJogjaplat Bplat lSurabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO
Catatan

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja muak dengan tingkah mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja MOJOK.CO
Urban

Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah

20 Februari 2026
mie ayam Surabaya. MOJOK.CO
Catatan

Mie Ayam Surabaya Buatan Pak Man, Tempat Saya “Berobat” setelah Lelah di Perantauan meski Pedagangnya Pendiam

20 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO
Catatan

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor Vespa Matic Primavera 150 warna hijau toska

Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu

19 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
Orang desa ogah bayar pajak motor (perpanjang STNK) di Samsat MOJOK.CO

Orang Desa Ogah Bayar Pajak Motor (Perpanjang STNK), Lebih Rela Motor Disita daripada Uang Hasil Kerja Tak “Disetor” ke Keluarga

19 Februari 2026
Jakarta membunuh nurani kemanusiaan MOJOK.CO

Jakarta Kota “Pembunuh” Nurani: Orang Jatuh malah Ditekan, Lebih Ringan Beri Makan Anak Kucing ketimbang Anak Manusia yang Kelaparan

16 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026
Sejahtera ekonomi di Negeri Jiran ketimbang jadi WNI. Tapi berat terima tawaran lepas paspor Indonesia untuk jadi WN Malaysia MOJOK.CO

WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!

21 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.