Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Cara Berkendara Motor Orang Jogja bikin Bingung dan Kaget Orang Surabaya, Lampu Hijau pun “Beda Arti”

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
10 April 2025
A A
Cara berkendara orang Jogja (plat AB) bikin bingung dan kegat orang Surabaya (plat L) MOJOK.CO

Ilustrasi - Cara berkendara orang Jogja (plat AB) bikin bingung dan kegat orang Surabaya (plat L). (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beda daerah, ternyata beda pula karakter orang dalam berkendara. Termasuk bagaimana karekter berkendara ala orang di Jogja dan di Surabaya.

Bagi orang Surabaya, karakter berkendara orang di Jogja agak bikin “bingung dan kaget”. Setidaknya begitu yang narasumber Mojok simpulkan setelah mengalami tinggal di dua daerah tersebut.

Iklan

Beda arti lampu hijau di Jogja dan Surabaya

Saat lampu apil menunjukkan warna hijau, alih-alih pelan-pelan menarik gas motor, Febri (27) malah membunyikan klakson. Terdengar nyaring karena hanya dia satu-satunya yang membunyikannya.

Kepala Febri lantas digeplak oleh teman yang dia bonceng. “Ngopo kowe ngebel-ngebel (Ngapain kamu nglakson-nglakson)?” Begitu tegur teman Febri.

Febri, kalau meminjam istilah Suroboyoan, langsung kowah-kowoh, sambil langsung menarik gas motornya. Itu terjadi di masa-masa awalnya studi S2 Jogja, setelah merampungkan S1-nya di Surabaya.

“Guyonan di Surabaya, lampu hijau itu bukan tandanya jalan. Tapi nglakson. Karena biasanya, misalnya di lampu merah Margorejo, itu bagian depan kayak nggak jalan. Kalau nggak macet ya ada saja pengendara dari arah lain menerebos lampu merah,” tutur Febri berbagi cerita, Senin (7/4/2025).

“Sementara kendaraan-kendaraan di belakangnya yang buru-buru kan nggak bisa segera jalan. Akhirnya nglakson-nglakson. Bersahut-sahutan,” sambungnya.

Parade klakson di setiap lampu apil, setiap saat

Febri asli Pasuruan, Jawa Timur. Merantau 4,5 tahun di Surabaya membuat situasi jalanan Kota Pahlawan—yang padat, panas, sumpek, dan penuh keterburu-buruan—mengendapkan karakter yang menurutnya tidak patut itu: nglakson-nglakson saat lampu hijau.

Sepengakuannya, benar-benar riuh sekali suasana di setiap lampu apil Kota Pahlawan. Tidak hanya di jam berangkat dan pulang kerja. Tapi hampir setiap saat. Suasana yang ternyata berbeda sama sekali ketika dia pindah ke Kota Pelajar.

“(Di Jogja) Ada lah satu-dua yang nglakson. Tapi kalau di Surabaya, yang nglakson itu serentak. Motor. Mobil. Semua nglakson. Waktu itu aku memahaminya karena memang hidup di Surabaya itu harus berkejaran dengan waktu,” ungkap Febri.

Misal, mengejar waktu agar lekas sampai tempat kerja. Atau mengejar waktu agar lekas tiba di rumah untuk segera merebahkan badan dan mengurai kesemrawutan dalam kepala usai bekerja seharian.

Baca halaman selanjutnya…

Marahnya orang Jogja itu lucu

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 10 April 2025 oleh

Tags: Jogjapilihan redaksiplat ABplat lSurabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO
Eksplor

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO
Urban

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren MOJOK.CO

Andai Ormas Lain seperti Yakuza Maneges Kediri: Dulu Dihina tapi Buktikan Sangat Berguna

5 Agustus 2026
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, pastikan jaga Lokananta Bloc sebagai kawasan ramah anak MOJOK.CO

Wali Kota Surakarta Pastikan Jaga Lokananta Bloc sebagai Kawasan Ramah Anak dan Ruang Kreatif Anak Muda

9 Agustus 2026
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bertemu dengan tim KKP membahas program budi daya ikan tematik. (Sumber: Humas Pemda DIY)

64 Lokasi di Kalurahan DIY Kecipratan Jatah Program Budi Daya Ikan Tematik dari KKP

5 Agustus 2026
Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman meluncurkan aplikasi Gandheng ATS untuk atasi masalah anak putus sekolah MOJOK.CO

Sleman Punya Aplikasi Pencegahan Dini Anak Tidak Sekolah

5 Agustus 2026
Mahasiswa KKN di desa

Suasana KKN Tak Seindah Konten di TikTok: Banyak Drama Sesama Mahasiswa, hingga Tangis Palsu Saat Perpisahan dengan Warga Desa

5 Agustus 2026
Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja.MOJOK.CO

Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja

6 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.