Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Mencintai Anak dengan Cara Childfree adalah Pilihan Logis bagi Gen Z Jogja yang Bergaji di Bawah UMR

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
5 Maret 2024
A A
Mencintai Anak dengan Cara Childfree adalah Pilihan Logis bagi Gen Z Jogja yang Bergaji di Bawah UMR.mojok.co

Ilustrasi Mencintai Anak dengan Cara Childfree adalah Pilihan Logis bagi Gen Z Jogja yang Bergaji di Bawah UMR (Mojok)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Buat banyak orang, anak adalah anugerah. Tak sedikit juga yang beranggapan kalau banyak anak sama dengan banyak rezeki. Devi (21), seorang Gen Z asal Kota Jogja, sebenarnya juga beranggapan demikian. Ia begitu menyukai tingkah polah anak kecil dengan segala kelucuannya. Bahkan, ia akan dengan senang hati momong anak tetangga yang sedang ditinggal ibu mereka bekerja. Namun, karena rasa cintanya pada anak-anak itu, Devi justru memilih untuk childfree.

Bagaimana bisa?

Devi, gen Z yang harus mengubur mimpi

Devi, sudah dua tahun bekerja sebagai penjaga butik di salah satu mal Kota Jogja. Sejak lulus SMA “jalur corona” pada 2021 lalu, ia memutuskan untuk tidak lanjut kuliah karena masalah biaya.

Ayahnya meninggal karena virus corona. Sementara ibunya tak sebugar dulu lagi buat bekerja. Adiknya pun ada dua, satu baru masuk SMA dan satu lagi masih berusia 4 tahun. Alhasil, sebagai anak sulung, ia punya kewajiban buat memikul beban menghidupi keluarganya. 

Selama pandemi, Devi yang saat itu nganggur masih bisa menggantungkan hidupnya dari tabungan orang tua dan bantuan sosial alias bansos. Namun, uang simpanannya tak bisa bertambah dengan sendirinya. Mau tidak mau, ia harus bekerja buat menyambung hidup.

Pada awal 2022 lalu, di usia yang masih 18 tahun, ia menerima tawaran bekerja di salah satu butik di mal ternama Kota Jogja. Di saat kawan-kawan sebayanya menikmati masa muda mereka dengan kuliah, nongkrong, dan healing, Devi sudah harus banting tulang menghidupi keluarga.

“Maaf ya, Mas, telat. Soalnya tadi motor dipakai adik keluar,” sapa perempuan asli Jogoyudan itu, Senin (4/3/2024) malam. Sebelumnya, kami memang sudah janjian buat ketemu di salah satu warkop di Kotabaru.

Seperti biasanya, Devi datang dengan tote bag gambar kucing andalannya, yang berisi beberapa buah buku. Penampilannya itu tak berubah sejak kami pertama bertemu dalam sebuah diskusi di kampus yang membahas soal gender equality pertengahan 2023 lalu.

Kala itu, di depan forum, Devi mengaku ingin childfree–atas beberapa alasan yang dulu belum bisa dia terangkan. Topik childfree inilah yang ingin saya perjelas dalam pertemuan kami malam itu.

“Bawa buku apa kamu?,” tanya saya, yang dengan seketika Devi mengeluarkan buku bersampul ungu karya Bu Ester Lianawati.

“Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan,” ujarnya.

Memilih childfree karena alasan finansial

Fenomena childfree, sudah beberapa kali meramaikan timeline saya di media sosial. Banyak netizen yang saling melempar pendapat. Banyak yang pro, tapi tak sedikit juga yang kontra.

Fenomena ini juga bukan lah hal baru, meski di Indonesia keramaiannya baru terjadi dalam beberapa tahun ke belakang. Kalau menengok ke negara-negara Barat, misalnya, keputusan buat childfree sudah jadi pembahasan serius sejak era 1900-an. Alasannya beragam, mulai dari faktor finansial hingga trauma masa kecil.

Sementara di Indonesia, childfree malah mendapat pandangan yang sinis. Konsep tak ingin punya anak dianggap tidak lumrah dan melanggar aturan budaya maupun agama. Salah satu perempuan yang sempat dirujak netizen gara-gara ingin childfree adalah influencer Gita Savitri alias Gitasav.

Iklan

Kala itu, Gitasav mengaku ingin childfree karena merasa tidak siap menjadi ibu. Bagi dia, menjadi seorang ibu adalah pekerjaan mulia sekaligus punya beban berat. Ia pun mengaku belum siap buat menanggung beban-beban tersebut.

Mencintai Anak dengan Cara Childfree adalah Pilihan Logis bagi Gen Z Jogja yang Bergaji di Bawah UMR.mojok.co
Banyak orang memuruskan childfree karena banyak alasan. Salah satunya belum siap menjadi orang tua (dok. Unair.ac.id)

Alasan serupa juga disampaikan Devi. Bedanya, ia tidak siap punya anak karena memang secara finansial, semuanya belum memungkinkan. Beban di keluarganya banyak, ia harus menghidupi ibu dan dua orang adiknya sendirian. Sementara gajinya, buat urusan pribadi saja masih mengkis-mengkis.

Bergaji kecil, tapi sering “dipandang” berkecukupan karena akamsi Jogja

Dua tahun bekerja di butik, Devi baru dua kali mengalami kenaikan upah. Yang pertama, dari Rp1,2 juta ke Rp1,5 di enam bulan pertamanya kerja. Bosnya bilang itu adalah “gaji penyesuaian”. Katanya, gaji akan naik secara berkala kalau kondisi pasca pandemi makin membaik.

Kenaikan kedua terjadi pada awal 2023 lalu, dari Rp1,5 juta ke Rp1,8 juta. Naik tiga ratus ribu. Sementara yang terakhir, Devi dapat awal tahun 2024 ini. Naik Rp250 ribu menjadi Rp2,05 juta.

“Masih kurang beberapa ratus lagi buat setara UMR Jogja,” ujarnya sambil geleng-geleng. Fyi, per 2024 pemerintah daerah menetapkan UMR Jogja sebesar Rp2,4 juta. “Udah UMR kecil, upahku di bawahnya pula,” sambungnya, masih dengan gestur terheran-heran.

Upah yang ia dapat pun tak mendarat utuh di kantongnya. Ia masih harus dipotong buat membeli kebutuhan dapur, uang saku adiknya, uang transport dan uang makannya, dan tetek bengek lain. “Sebulan ngantongin tiga ratus ribu buat aku jajan itu udah untung banget sih. Seringnya dah kering di tengah bulan.”

Sayangnya, beberapa teman kerja Devi malah kerap meremehkan kehidupan Devi yang serba pas-pasang. Mereka selalu “memandang” Devi pasti hidup berkecukupan mentang-mentang akamsi Jogja. 

“Misalnya kalau aku ngeluh enggak ada duit, pasti pada sinis, ‘Lah, duitmu kan utuh, makan tinggal pulang’,” ujarnya, mengingat kata-kata teman kerjanya. “Aku biarin aja, sih. Enggak tahu aja mereka gimana capeknya hidupku.”

Menyukai anak kecil, tapi memutuskan buat childfree?

Dengan kondisi finansialnya yang masih amburadul, Devi mengaku belum punya angan-angan buat masa depannya. Ia belum berani bercita-cita. Jangankan membayangkan untuk menikah, membeli rumah sendiri, dan punya anak, buat bayar tagihan paylatter-nya saja masih sulit.

“Mau makan apa anak-anakku nanti, Mie Gacoan dari hasil paylatter?,” kelakarnya sambil tertawa.

Devi punya pacar, yang kata dia, sebentar lagi akan lulus dari salah satu kampus swasta di Jogja. Hubungan mereka sudah terjalin sejak masih SMA. Namun, membayangkan untuk lanjut ke tahapan serius, sama sekali belum terlintas di kepala Devi. “Jalani dulu aja, saling mematangkan finansial. Jangan sampai kalau sudah jalan malah bubar gara-gara urusan perut,” tegasnya.

Soal keputusannya yang mantap untuk childfree, sebenanrnya ia mengaku amat menyukai anak kecil. Hampir tiap sore sampai malam–bahkan pagi, tetangganya menitipkan anak mereka ke Devi karena ditinggal kerja shift malam. Tentu, dengan senang hati Devi memomong anak tersebut.

Ia merawatnya juga penuh totalitas. Diajak jalan-jalan cari angin, jajan, hingga dikeloni. “Beda lho momong anak orang lain dan menghidupi anak sendiri tuh. Aku sekadar senang momongnya aja. Kalau suruh punya anak sendiri, enggak dulu. Takut!”

Baca halaman selanjutnya…

Jangan egois! Kalian boleh ngebet punya anak, tapi pikirkan juga cara menghidupinya

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 5 Maret 2024 oleh

Tags: alasan childfreealasan childfree gen z jogjachildfreeGen ZJogjapilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO
Ragam

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO
Ragam

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO
Ragam

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO
Ragam

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.