Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kerap Bersalah di Perantauan karena Alasan Sibuk, Tangis Ibu Pecah Saat Saya Akhirnya Pulang dari Jakarta

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
27 November 2025
A A
Tinggalkan ibunya demi kuliah di PTIQ Jakarta untuk merantau. MOJOK.CO

Anak rantau yang sendirian dan rindu ibunya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Demi meraih mimpinya sebagai hafidz Al-Qur’an, perempuan asal Pekanbaru, Riau ini rela meninggalkan ibunya yang seorang single parent dan merantau ke Jakarta. Karena kesibukannya kuliah di PTIQ sambil bekerja, ia sampai tidak pulang selama setahun, hingga ibunya hampir lupa perawakan anaknya sendiri.

***

Sekitar 4,5 tahun yang lalu, saat Azka duduk di bangku SMA, ia sudah punya keinginan untuk merantau ke Jakarta. Lulus dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN), ia meminta izin ke sang ibu untuk masuk pondok tahfidz di Jakarta.

“Saya ingin menjadi penghafal Al-Qur’an,” kata Azka saat dihubungi Mojok, Selasa (25/11/2025).

Awalnya, ibu Azka tidak setuju tapi Azka berusaha menjelaskan mimpinya tersebut. Apalagi, Azka adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga. Ayahnya juga sudah meninggal sejak usianya 9 tahun.

“Ibu takut saya kenapa-napa di perjalanan, karena saya sebelumnya nggak pernah ke luar kota sendirian,” jelas Azka.

Mereka pun tak punya keluarga sama sekali di Jakarta, sehingga ibunya khawatir kalau Azka sakit tidak ada yang mengurus maupun menjaganya. Begitu pula Azka yang sebetulnya tidak tega meninggalkan ibunya di Pekanbaru bersama dengan adiknya yang waktu itu masih SD.

Namun, tekad Azka untuk menjadi penghafal Al-Qur’an sudah bulat. Ia memilih mengorbankan kebersamaannya dengan keluarga demi meraih cita-citanya. Toh, selama di perantauan ia masih bisa berkomunikasi dengan keluarganya secara online, meski pada akhirnya Azka jadi jarang pulang untuk menjenguk sang ibu.

Kuliah sambil kerja di Jakarta

Guna meraih mimpinya menjadi penghafal Al-Qur’an, Azka disibukkan dengan kegiatan pondok pesantren selama satu tahun. Setelah itu, ia memutuskan kuliah di Institut Pengembangan Tilawah dan Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta. Sebuah Perguruan Tinggi Islam Al-Qur’an pertama di dunia, yang secara khusus mempelajari dan menghafal Al-Qur’an.

PTIQ Jakarta berdiri tahun 1971. Kini, ia membuka jenjang pendidikan S1 sampai S3. Beberapa program studi unggulannya seperti Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Pendidikan Agama Islam, hingga Ekonomi Syariah.

“Di Pekanbaru belum ada kampus seperti itu, sehingga aku tertarik untuk kuliah di PTIQ Jakarta,” ujar Azka.

Keputusan itu bukanlah hal yang mudah bagi Azka, sebab ia paham bahwa biaya hidup di Jakarta juga tak sedikit. Ia pun tak tega jika harus meminta uang ke ibunya yang ada di Pekanbaru. Alhasil, ia memutuskan kuliah di PTIQ Jakarta sambil bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kasih sayang ibu yang tiada duanya

Tak bisa dipungkiri, dalam perjalanannya, Azka kerap merindukan sang ibu. Ia merupakan sosok berjasa sekaligus role model bagi Azka. Ia pula yang selalu memberikan nasihat ke Azka sehingga ia merasa tenang dan lebih semangat menjalani hidup saat merantau.

“Melihat perjuangannya membesarkan empat anak sebagai single parent, membuat saya termotivasi untuk tidak mudah menyerah saat di Jakarta,” kata Azka.

Iklan

Di tengah chaos-nya hari, Azka juga tak lupa mengabari kondisinya di grup WhatsApp keluarga. Setidaknya, hal itu mengobati rasa rindunya kepada sang ibu, sebab ia tak bisa sering-sering pulang ke Pekanbaru.

“Karena kuliah sambil bekerja membuat waktu libur sangat terbatas, ditambah harga tiket pesawat cukup mahal sehingga tidak bisa terlalu sering pulang,” ucap Azka.

Kalau kondisinya sudah begitu, Azka terpaksa harus menyampaikan kabar buruk ke ibunya bahwa ia tidak bisa pulang ke Pekanbaru. 

“Bu, maafin Azka ya.. Azka belum bisa pulang sekarang. Ada kuliah dan kerjaan yang belum bisa ditinggal InsyaAllah kalau ada waktu dan rezeki, Azka pulang ya Bu,” pesan Azka ke ibunya di WhatsApp.

Ibunya pun tak bisa memaksa Azka pulang, tapi ia berusaha memahami kondisi anaknya yang merantau. Meski begitu, Azka tentu tahu kalau ibunya tetap berharap agar ia bisa pulang lebih sering. Apalagi, saat Azka sakit. Perasaan home sick jadi jauh lebih terasa. 

“Ketika sakit di perantauan tidak ada yang mengurus. Kalau di rumah, ibu pasti berusaha melakukan apa pun agar saya cepat sembuh,” ucap Azka.

Kejutan untuk sang ibu

Selama 4,5 tahun merantau di Jakarta, Azka akhirnya pulang setelah satu tahun tak pernah menyambangi ibunya di Pekanbaru. Namun, ia memutuskan memberi kejutan ke sang ibu dengan tidak mengabari kalau dia akan pulang.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Azka Nur A’yunin (@azkanurayunin)

Setibanya di Pekanbaru, Azka menutupi sebagian mukanya dengan jilbab. Ia lalu menyapa ibunya yang sedang berkebun di halaman rumah. Saat Azka menyapa, ibunya sama sekali tak mengenali. 

“Assalamu’alaikum Bu, Azka-nya ada Bu? Saya mau ngantar undangan untuk Azka Bu,” ujar Azka ke ibunya.

“Azka sudah lama di Jakarta, Nak. Nggak pulang-pulang,” jawab sang ibu saat menoleh ke sumber suara.

Alih-alih menjawab, Azka malah terdiam selama beberapa detik sembari melihat reaksi sang ibu. Sampai akhirnya, sang ibu menyadari jika orang yang mengaku tamu tadi adalah Azka.

“Astagfirullahaladzim,” kata ibu Azka yang langsung beranjak dari dingklik.

“Kok bisa datang, sama siapa?” ucapnya yang berusaha menahan tangis, hingga tak lama setelah itu ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menangis.

“Udah lama nggak ke sini, ibu kangen,” kata ibunya yang disambut pelukan oleh Azka.

Melihat ibunya yang menangis, Azka jadi ikut terharu. Seolah beban hidupnya di Jakarta ikut terlepas dan mengobati segala lukanya.

“Beliau memeluk saya erat, langsung memasak makanan kesukaan saya, dan bercerita panjang tentang hari-harinya selama saya tidak di rumah,” ujar Azka.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tak Tega Lihat Ibu Sakit-sakitan, Akhirnya Belikan Sepatu Mahal dari Hasil Gaji UMR Jogja agar Ibu Lekas Sembuh atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 27 November 2025 oleh

Tags: home sickjakartamerantaupekanbaruPTIQriaurindu ibu
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO
Cuan

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Catatan

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Sehari-hari

Penyesalan Penumpang Kereta Eksekutif: Bayar Mahal untuk Layanan Mewah, Malah Lebih Nyaman Pakai Kereta Gaya Lama

31 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Naik pesawat Super Air Jet untuk mudik Lebaran ke Jogja

Terpaksa Naik Super Air Jet karena Tiket Murah, tapi Malah Dibikin “Plonga-plongo” karena Kelakuan Sok Asik Awak Kabin

1 April 2026
Ambisi beli mobil sebelum usia 30. Setelah terbeli Suzuki Ertiga tetap tidak bisa senangkan orang tua dan jadi pembelian sia-sia MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia

3 April 2026

Video Terbaru

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.