Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Ngobrol bareng Dahlan Iskan: Bicara Cina, ‘Komunisme Kaki Empat’, dan Uighur

Novi Basuki oleh Novi Basuki
6 September 2020
A A
Ngobrol bareng Dahlan Iskan: Bicara Cina, ‘Komunisme Kaki Empat’, dan Uighur

Ngobrol bareng Dahlan Iskan: Bicara Cina, ‘Komunisme Kaki Empat’, dan Uighur

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bahasa Cina sengaja saya pilih supaya saya bisa melakukan pencitraan di depan Pak Dahlan Iskan. Mau memamerkan kekayaan dan keilmuan? Jelas kalah.

Kalau bukan dipanggil buat menemani Bu Risma menemui tamu dari Cina, saya jelas akan berpikir beribu kali untuk ke Surabaya dalam masa-masa genting pandemi begini.

Namun, tatkala ada pesan Whatsapp masuk dari orang Pemkot Surabaya menanyakan saya lagi di mana dan bilang butuh bantuan buat mendampingi Wali Kota Surabaya itu rapat dengan koleganya dari Negeri Panda, saya spontan menjawab “Siap” dengan tanda seru tiga.

Lalu, berangkatlah saya ke Surabaya dan itu menjadi permulaan kisah yang juga mengantarkan saya bertemu dengan Dahlan Iskan di kediamannya di Surabaya, Jumat (4/9) kemarin.

Ya, Dahlan Iskan yang mantan menteri BUMN dan belum lama ini mendirikan koran jenis baru bernama DI’s Way itu. Ini fotonya kalau nggak percaya.

Tenang, pertemuan ini sudah mengikuti segala macam protokol kesehatan kok.

Ada banyak yang kami bicarakan di beranda rumahnya yang di sampingnya ada sanggar lengkap dengan gamelannya itu. Tapi Cina tetaplah menjadi topik utama. Obrolan kami pun menggunakan bahasa Cina (putong hua). Bahasa Indonesia digunakan sesekali saja.

Bukan karena tidak nasionalis. Bahasa Cina sengaja saya pilih supaya saya bisa melakukan pencitraan di depan Pak Dahlan. Mau memamerkan kekayaan dan keilmuan, jelas saya kalah jauh—bagaikan langit dan inti terdalam (inner core) bumi.

Satu-satunya yang bisa saya pamerkan ya kemampuan bahasa Mandarin saya. Itu pun saya harus ngos-ngosan mengejar kelancaran berbahasa Cina beliau.

Apalagi ketika bahasan mulai mengarah ke hal-hal yang berhubungan dengan relasi Indonesia-Cina selama pemerintahan Presiden Jokowi.

Pak Dahlan agaknya tak setuju kalau dibilang hubungan kedua negara melejit sejak Jokowi berkuasa. Pasalnya, katanya, hubungan Indonesia-Cina yang ada sekarang ini tak bisa dilepaskan dari apa yang telah dilakukan oleh presiden-presiden Indonesia sebelumnya. Semuanya terjadi secara gradual. Tidak kun fayakūn.

Mula-mula, Pak Harto pada awal tahun ’90-an menyambung kembali hubungan Indonesia-Cina yang diputusnya sendiri sejak 1967. Pak Habibie menyambut dengan reformasi. Gus Dur melanjutkan dengan usahanya menghapus beragam bentuk deskriminasi terhadap etnis Tionghoa. Pun demikian Bu Mega yang menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.

SBY melangkah lebih jauh lagi dengan menaikkan status hubungan Indonesia-Cina: dari “partner strategis” ke “partner strategis komprehensif”. Baru terjadilah hubungan Indonesia-Cina seperti yang terlihat sekarang ini.

Saya manggut-manggut mendengarkan jabaran Pak Dahlan Iskan itu, tapi sekaligus terus mencoba menggiringnya supaya mau menyalahkan rezim Jokowi yang, sebagaimana sabda netizen budiman, kentara sangat pro-Cina ini. Sayangnya Pak Dahlan tetap bergeming. Beliau memberikan contoh kasus Afrika.

Cina, kata Pak Dahlan, masuk ke Afrika karena negara-negara Barat meninggalkannya. Negara-negara Barat mencampakkan Afrika sebab merasa Afrika tidak bisa diajak maju dengan nilai-nilai HAM dan demokrasi yang diusungnya.

Nah, ketika Afrika yang didera kemiskinan mulai ditinggalkan negara-negara Barat itu, Cina datang dengan uang dan bantuan yang tidak menuntut Afrika untuk menerapkan sistem politik atau pun ekonomi seperti yang dipraktikkan Cina.

“Kalau begitu siapa yang salah?” tanya Pak Dahlan, tiba-tiba.

Saya kelimpungan, tapi berusaha menutupi kebingungan saya dengan bertanya balik.

“Masak Abah tidak khawatir Cina sambil lalu mengekspor ideologinya ke sini? PKI bisa bangkit kembali!” kata saya dengan maksud maaf-sekadar-mengingatkan.

Pak Dahlan tetap tidak mau menyetujui. Beliau beralasan, sejak Deng Xiaoping mengejawantahkan kebijakan Reformasi dan Keterbukaan (gaige kaifang) pada awal tahun ’80-an, Cina boleh dikata sudah meninggalkan komunismenya.

Kalau pun masih mau dibilang komunisme, itu adalah “komunisme malu-malu!” tegas Pak Dahlan.

Saya tertawa.

Disebut “komunisme malu-malu”, lanjut Pak Dahlan, karena komunisme yang diterapkan Cina saat ini adalah “komunisme kaki empat.”

Saya makin ngakak dengan istilah-istilah hora umom yang dipakainya.

Pak Dahlan Iskan terus menjabarkan dengan mengawali penjelasannya dari Soviet. Komunisme yang dijalankan Soviet, terang Pak Dahlan, adalah komunisme berkaki satu karena hanya mengandalkan buruh sebagai sokoguru perjuangannya melawan kapitalisme.

Setelah masuk ke Cina, komunisme ditambah satu lagi kakinya oleh Mao Zedong dengan menyertakan petani ke dalamnya. Itu dilakukan Mao karena Cina saat itu adalah negara agraris di mana lebih banyak petaninya ketimbang buruhnya.

Dus, era Mao adalah era komunisme berkaki dua.

Hanya saja, setelah Mao wafat dan terbukti komunisme berkaki dua yang diterapkan semasa hidupnya itu malah membikin Cina sengsara, Deng Xiaoping perlahan meninggalkannya dengan merangkul elemen-elemen positif kapitalisme yang diharamkan Mao. Cina menjadi kaya raya seketika.

Lantas, setelah Deng mangkat dan Jiang Zemin menggantikannya, Jiang menambahkan satu kaki lagi untuk komunisme: pengusaha.

“Apakah komunisme yang seperti itu masih bisa dibilang komunisme? Komunis, kan, alat kaum proletar untuk melawan kapitalis. Lah ini di Tiongkok si kapitalis malah ikut-ikutan dimasukkan sekalian ke dalam komunisme,” terang Pak Dahlan Iskan.

Kendati dengan komunisme berkaki tiga ini Cina sudah bisa menjadi negara berkekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, Cina masih belum puas dan menambahkan satu kaki lagi supaya makin cepat mengejar dan bahkan menyalip Amerika.

Kaki keempat komunisme yang ditambahkan Hu Jintao pengganti Jiang Zemin itu bernama sains alias ilmu pengetahuan.

Terbukti, dengan komunisme berkaki empat inilah Xi Jinping bisa mecanangkan proyek “jalur sutra baru” di mana-mana dan membikin kalang kabut Amerika sehingga harus terus melakukan perang dagang di tengah semrawutnya penanganan COVID-19 di negaranya.

Begitu elaborasi dari Pak Dahlan. Meski pertanyaan-pernyataan saya selalu ditangkis dengan ciamik olehnya, saya—yang berspirit pantang menyerah meski salah—tetap melanjutkan obrolan dengan pertanyaan ahli surga ini:

“Oke, katakanlah komunisme berkaki empat itu adalah ‘komunisme palsu’ dan karena itu Cina mustahil menyebarkan ideologinya ke Indonesia. Tapi, kan, Cina itu anti-Islam. Muslim Uighur dibantai!”

Pak Dahlan lagi-lagi menjawab dengan analogi dan pertanyaan retoris.

Katanya, kalau Cina anti-Islam, muslim Hui seharusnya juga ditekan. Kalau Cina hanya membela sebangsanya, kenapa orang-orang Hong Kong juga ditekan ketika melakukan demo menuntut kemerdekaan?

Suasana hening seketika.

Belum sempat saya menjawab, Pak Dahlan memecah kesunyian, “Ini kalau dilanjut, nanti malah saya dibilang tidak berpihak pada…”

Kami terbahak-bahak. Obrolan sore itu pun berakhir dengan gelak tawa.

BACA JUGA Wawancara Soe Tjen Marching: ‘Papaku PKI atau Bukan, Tak Masalah Bagiku’ atau tulisan NOVI BASUKI lainnya.

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2026 oleh

Tags: cinaDahlan IskanPKIuighur
Novi Basuki

Novi Basuki

Kandidat Doktor di Sun Yat-sen University, Guangdong, Cina.

Artikel Terkait

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika MOJOK.CO
Esai

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika

11 Maret 2026
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)
Pojokan

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
Ketika Dosen UGM Mengajar di Cina saat Natal dan Tahun Baru: Libur Bukan Hadiah, tetapi Utang yang Harus Dibayar Lunas MOJOK.CO
Esai

Ketika Dosen UGM Mengajar di Cina saat Natal dan Tahun Baru: Libur Bukan Hadiah, tetapi Utang yang Harus Dibayar Lunas

2 Januari 2026
PKI dan Politik Ingatan: Dari Demonisasi hingga Penghapusan Sejarah
Video

PKI dan Politik Ingatan: Dari Demonisasi hingga Penghapusan Sejarah

27 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Event lari Merbabu Skyrace makin diminati banyak orang lintas negara, jadi potensi sport tourisme di Jawa Tengah dengan daya tarik lari lintas alam di Gunung Merbabu MOJOK.CO

Merbabu Skyrace: Event Lari Melintasi Keindahan Gunung Merbabu, Sport Tourism yang Bikin Sebuah Dusun Mendunia

6 Juni 2026
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Pengalaman Merusak Astrea Grand Jadi Motor Racing Kampung MOJOK.CO

Pengalaman Saya “Merusak” Astrea Grand Milik Bapak Menjadi Motor Racing Kampung: Jebakan Menyenangkan dari Motor Honda yang Menjerat Saya Sampai Tua

2 Juni 2026
Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.