MOJOK.COSoe Tjen Marching mengisahkan pengalaman sebagai putri dari ayah yang tercatat sebagai pengurus PKI. Baginya itu bukan masalah besar.

Saya pertama kali berjumpa Soe Tjen Marching secara tak sengaja tatkala sekitar satu dasawarsa silam saya menginap di rumah ibunya di Surabaya.

Shi Laoshi, demikian saya biasa memanggil ibunya, sangat irit bicaranya tapi murah sekali senyumnya. Meski saya beberapa kali bertemu dan duduk semeja dengannya, tak pernah ia singgung soal masa lalunya.

Apalagi ihwal suaminya yang setelah G30S menjadi tapol gegara tercatat sebagai pengurus PKI, partai berlambang palu arit yang kini diisukan diam-diam bangkit kembali.

“Mamaku masih ketakutan dengan hal ini. Juga masih trauma. Bahkan sampai sekarang,” kata Soe Tjen ketika saya hubungi via Whatsapp, Selasa (28/7) kemarin.

Mengikuti jejak ibunya yang seorang guru-cum-penulis, Soe Tjen kini adalah dosen senior School of Oriental and African Studies, University of London, Inggris. Buku teranyarnya, The End of Silence: Accounts of the 1965 Genocide in Indonesia, diterbitkan Amsterdam University Press, Belanda.

Dari judul buku itu bisa kita baca apa yang membedakan Soe Tjen dengan ibunya: menolak bungkam terhadap genosida 1965.

Selengkapnya, sila nikmati obrolan kami ini tanpa tendensi, emosi, dan prasangka tak berdasar. Gaaasss.

Mama pernah dapat ancaman?

Pernah.

Dari?

Tidak tahu dari mana. Mereka mengirim surat kaleng. Ada juga yang SMS. Tapi untungnya tidak terjadi apapun.

Cik Soe Tjen pernah diancam juga, kan?

Wah, sering!

Diancam dibunuh dan diperkosa?

Iya. Plus disiram air raksa dan disembelih. Macem-macem lah pokoknya.

Pengancamnya bisa diidentifikasi?

Pakai nama samaran semua.

Dari ormas-orang tertentu, mungkin? Atau malah dari aparat?

Rasanya dari kedua-duanya.

Mama pernah larang Cicik untuk tidak usah suarakan soal stigmatisasi keluarga PKI?

Sering.

Demi keamanan?

Iya.

Papa kan pengurus PKI. Apa tidak akan dianggap bias?

Jelas! Tapi banyak juga yang merasa karena pengalamanku, maka aku juga orang yang tepat untuk menyuarakannya. Jadi tergantung gimana melihatnya.

Menyuarakan karena keluarga jadi korban?

Iya.

Tapi Mama kayaknya nerima-nerima aja? Atau sebenarnya tidak menerima tapi lebih memilih diam?

Dia memilih diam karena merasa kondisi sekarang sudah lebih baik. Jadi kenapa mesti cari perkara? Sedangkan aku beda.

Lebih memilih memperkarakan, ya? Makanya nolak keras Sarwo Edhie jadi pahlawan?

Tentu! Soalnya ini bukan cuma masalah PKI atau tidak. Lah saya sendiri tidak setuju dengan sistem komunis. Ini masalah HAM dan keadilan.

Cik Soe Tjen kok gowesnya sendirian? Nggak takut diculik nih?

Itu terlepas siapapun pelakunya, ya? Orang-orang tua di desa saya banyak yang bilang sebelum ‘65 juga tidak sedikit yang jadi korban kekerasan PKI. Ada saksi mata yang cerita dia melihat tetangganya dipotong telinganya, hidungnya, dan bibirnya saat orangnya masih hidup, dan itu pelakunya PKI. Entah kebalik atau nggak ini ceritanya…

Rasanya ceritanya memang sering dibalik dan PKI difitnah.

Tapi bukan berarti PKI tidak pernah salah. Menurut beberapa sumber yang bisa saya percaya, PKI memang pernah melakukan kekerasan juga. Terutama waktu mereka membantu kaum buruh dan petani dalam land reform yang pelaksanaannya kedodoran.

Waktu itu PKI membantu buruh tani. PKI ngotot tuan tanah harus menyerahkan tanahnya. Inilah yang menyebabkan gontok-gontokan tidak karuan.

Baca juga:  Kontroversi La Nyalla: Akui Pernah Sebut Jokowi PKI sampai Sentil Salat Jumat Prabowo

Beritanya juga simpang siur. Ada yang bilang PKI yang mulai; ada yang bilang tuan tanah yang mulai. Pokoknya kacau. Tapi PKI merasa mereka bertindak karena sudah ada payung hukumnya: land reform dari Soekarno.

Masalahnya, banyak kiai-kiai yang tanahnya besar, tidak mau membagikan tanahnya karena itu tanah wakaf. Lha PKI tidak pandang bulu: wakaf tidak wakaf, harus dibagi. Aidit mendorong buruh tani untuk mengambil jatah lahan secara sepihak—karena dia sudah tak sabar. Akhirnya sesama buruh tani pun saling berantem. Inilah yang menyebabkan adanya sebutan ‘tujuh setan desa’ itu.

Tapi tidak semua anggota PKI setuju dengan cara-cara kekerasan.

Itu mirip waktu land reform di Cina dulu. Termasuk dengan sebutan-sebutannya. Di Cina sebutnya ‘niu gui she shen’, hantu sapi dewa ular.

Gitu ya? Yang memberi sebutan begitu siapa?

PKC. Harian Rakyat (Renmin Ribao) yang menggaungkan.

Artinya apa itu ‘hantu sapi dewa ular’?

Tuan-tuan tanah. Termasuk juga yang dicap kaum-kaum feodal macam pemuka agama…

Wah, hampir sama.

Iya. Mungkin karena kemiripan-kemiripan itu juga Soeharto bisa tuduh Cina ada di belakang G30S.

Mungkin juga.

Slogan Soekarno waktu itu: “Tanah bukanlah bagi mereka yang duduk ongkang-ongkang dan menjadi gemuk dan makmur karena menghisap dari keringatnya orang-orang yang disuruh menggarap tanahnya.”

Ya itu mirip juga. Jargon orang-orang PKC waktu itu: “Tak masalah bunuh 100 tuan tanah, asal tidak mematikan 1 petani miskin.”

Tapi PKI tidak ada slogan kekerasan macam itu.

Mereka melakukan aksi sepihak hanya untuk merampas tanah yang secara hukum adalah hak mereka. Itu semata demi keadilan dan bukan untuk menghapuskan kepemilikan pribadi atas tanah kayak PKC.

Mereka juga tidak mau begitu saja membunuh seperti yang dilakukan PKC. Kalau PKC kan memang keras sekali, dan kadang siapapun yang dianggap borjuis, bisa celaka. Ini bedanya dengan PKI.

Masalahnya, ketika sudah sampai bawah, jadinya kebablasan. Partai segede PKI dan PKC punya agenda-agenda bagus di atas, tapi waktu diimplementasikan di bawah kadang malah acakadut. Pasti sulit lah mengontrol sampai akar rumput.

Memang!

Sekarang narasi di Indonesia sangat menyudutkan PKI, ya? Yang diglorifikasi Pak Harto, malahan.

Iya. Padahal sudah ada banyak bukti kekejaman Soeharto.

Kalau memang ada PKI yang berbuat kekerasan, ya dihukum saja toh orang itu? Tapi jangan lupa untuk menghukum tuan-tuan tanah juga, karena banyak sekali tuan-tuan tanah yang berbuat kekerasan juga saat itu.

Dan kalau dibilang PKI mau kudeta, lha banyak orang PKI yang kebingungan kok apa yang terjadi waktu itu. Mereka ditangkap juga bingung, karena memang tidak akan kudeta dan tidak punya senjata.

Kalau memang mereka siap kudeta, maka yang terjadi adalah perang saudara bertahun-tahun lamanya. Ingat, PKI adalah partai terbesar ketiga di dunia. Anggotanya jutaan. Tapi karena mereka memang kebanyakan tidak bersenjata, dan tidak menggunakan kekerasan, maka mereka berhasil ditumbangkan dan ditangkapi dengan cepat.

Perlawanan PKI terhadap tentara Soeharto itu baru terjadi pada akhir ‘66, waktu mereka mulai sadar apa yang terjadi dan dapat info dari kawan-kawan di penjara. Tapi sudah terlambat!

Oke. Anyway, nama Cicik ini kok komunis banget? Marching. Terinspirasi long march-nya Mao Zedong?

Baca juga:  Kanda Eggi Sudjana yang Baik dan Benar

Betul. Waktu itu kan banyak orang-orang PKI yang ngefans sama Mao. Aidit juga. Njoto yang tidak. Aku ya sama sekali tidak.

Itu papa yang kasih nama?

Iya.

Menarik sekali!

Walaupun kemudian, saat-saat terakhir dia mengaku kalau Mao punya kesalahan juga.

Itu cerita ke Cicik?

Dia ngomong ke kakakku. Ke aku sama sekali tidak pernah bicara hal ini. Aku kan anak yang lahir sesudah papaku keluar penjara. Jadi semua dirahasiakan dariku. Makanya mungkin karena itu justru aku yang paling bersemangat mencari sekarang.

Dan yang mengerem malah mama sendiri.

Iya. Kan keluargaku dulu miskin sekali. Makan aja susah. Dulu aku ingat, boneka cuma punya satu. Itupun pemberian tetangga. Pokoknya aku dibilangin, kalau bonekanya rusak, ya sudah, tidak punya boneka lagi.

Nah, sesudah ekonomi kami membaik, Mama merasa hidup kami sudah enak. Jadi tidak perlu cari gara-gara.

Dulu kakakku sempat cerita, kalau makan, mamaku cuma masak bubur dan satu biji telur. Telur sebiji itu didadar karena harus cukup untuk makan tiga anak.

Kakakku perempuan lahir waktu papaku di penjara. Mamaku tidak bisa menyusui karena stres, asinya tidak keluar. Tapi mamaku juga tidak punya duit untuk beli susu. Akhirnya kakakku minum tajin (air rebusan beras). Makanya badan kakakku itu lemah sekali waktu kecil, karena asi sama sekali tidak dapat, dan makan-minumnya cuma tajin itu.

Terus, besar sedikit, makannya juga tidak boleh banyak-banyak—karena harus dibagi dengan kakakku yang lain.

Waktu aku lahir, keadaan ekonomi keluargaku sudah lumayan. Karena papaku sudah keluar dari penjara dan sudah bekerja lagi. Itupun mainan aku jarang dibelikan. Ya seperti kataku tadi: boneka cuma punya satu dan pemberian tetangga.

Tapi paling tidak, waktu aku kecil aku sudah tidak pernah kekurangan makanan seperti kedua kakakku.

Terlihat spirit hidup orang Tionghoa yang pantang menyerah.

Aku rasa bukan karena Tionghoa atau bukan. Yang bukan Tionghoa juga luar biasa perjuangannya.

Tapi posisi Cicik ini menarik sekali: sudahlah Tionghoa, lahir dari ayah PKI, kafir lagi!

Iya. Dan sering dianggap lesbian karena aku dekat dengan Dede Oetomo. Jadi komplet!

Jahannam is waiting for you!

Wkwkwk..

Dulu ada buku Aku Bangga Jadi Anak PKI. Kalau Cicik gimana?

Aku sih tidak bangga. Walaupun aku kira buku itu bagus, karena menjadi penyemangat orang-orang yang sudah distigma. Bagiku, penting sekali ada yang bicara seperti itu.

Tapi menurutku bukan bangga atau tidaknya. Yang lebih penting adalah kemanusiaan dan keadilannya.

Papaku PKI atau bukan, tidak masalah bagiku. Tetap saja dia papaku.

Tapi terus terang ada perasaan bersyukur juga sih.

Bersyukur karena?

Karena kalau papaku tidak mengalami hal-hal seperti itu, mungkin aku bakal kena cuci otak juga. Bakal seperti orang-orang lain yang tidak peduli politik dan sejarah. Mungkin saja aku jadi seperti itu.

Dan, kalau papaku tidak mengalami pemenjaraan dan penyiksaan, mungkin aku tidak jadi penulis, tapi jadi orang yang sangat membosankan.

Jadi bagiku bukan masalah bangga atau tidak.

Tapi aku tidak pernah menyesal dilahirkan sebagai anak tapol. Justru karena itu, aku bisa mempunyai ide-ide seperti sekarang ini.

BACA JUGA Mengapa Kita Harus Membenci Partai Komunis Indonesia? atau tulisan dari Novi Basuki lainnya.