Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tengah berfokus pada program teknologi waste-to-energy (WtE) guna mengatasi masalah sampah perkotaan yang semakin menumpuk. Menurut guru besar IPB, program ini dapat diterapkan secara aman dengan prasyarat yang ketat.
Baru-baru ini, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) merilis sebuah Laporan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025-2045. Laporan tersebut menunjukkan bahwa volume sampah nasional diperkirakan bakal naik mencapai 82,2 juta ton pada 2045.
Sedangkan tahun 2025, volume sampah nasional diproyeksi mencapai 63 juta ton. Volume sampah yang semakin tinggi tentunya tak baik bagi kesehatan, termasuk merusak ekosistem sekitar. Oleh karena itu, BPI Danantara menggencarkan program teknologi waste-to-energy (WtE) sebagai solusi jangka panjang.
WtE: Solusi nasional pengelolaan sampah di perkotaan
Guru Besar IPB University, Arief Sabdo Yuwono, menilai pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste-to-energy (WtE) memiliki peluang besar sebagai bagian dari solusi nasional pengelolaan sampah, khususnya di wilayah perkotaan.
Menurut Arief, persoalan sampah di Indonesia telah memasuki fase darurat. Ketergantungan pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan sistem open dumping tidak hanya memicu pencemaran lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.
“Dalam kondisi ini, WtE dapat berfungsi sebagai instrumen pengelolaan sampah yang efektif, selama diterapkan dengan prasyarat teknologi dan lingkungan yang ketat,” kata dosen di Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University tersebut, dikutip dari keterangan resmi, Rabu (21/01/2026).
Arief menjelaskan dari sisi lingkungan, WtE berpotensi mempercepat waktu pengolahan sampah sekaligus mereduksi volumenya secara signifikan. WtE juga membantu menurunkan emisi kebauan, memperbaiki sanitasi lingkungan, serta mengurangi produksi air lindi dan populasi lalat sebagai vektor penyakit.
“Panas hasil pembakaran selanjutnya dapat dikonversi menjadi energi listrik yang berkontribusi pada penurunan emisi karbon nasional,” ujarnya.
Sampah organik di Indonesia masih mendominasi
Sebagai guru besar IPB University yang telah menyelesaikan pendidikan S3 di University of Bonn, Jerman, Arief menegaskan keberhasilan WtE sangat ditentukan oleh kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah nasional. Sampah perkotaan di Indonesia, kata Arief, masih didominasi oleh sampah organik dengan kadar air tinggi sehingga membutuhkan penanganan awal dan pemilahan di sumber.

“Teknologi harus dipilih setelah karakteristik sampah diketahui, bukan sebaliknya. Sampah perkotaan kita cenderung basah, sehingga perlu pengolahan awal agar proses pembakaran efisien dan aman bagi lingkungan,” ujar Arief.
Lebih jauh Arief menyoroti aspek keamanan lingkungan sebagai prasyarat utama penerapan WtE. Ini dimulai, kata Arief, dari sistem flue gas treatment untuk mengendalikan emisi, hingga pengelolaan abu sisa pembakaran yang dapat dikategorikan sebagai limbah B3 maupun non-B3.
Selanjutnya, kata dia, harus ada edukasi dan komunikasi kepada publik agar masyarakat memahami manfaat serta risiko teknologi ini secara proporsional.
Negara di Asia telah membuktikannya
Program Waste-to-Energy (WtE) menjadi salah satu agenda strategis yang mendapat perhatian serius dari Danantara Indonesia. Lead of Waste-to-Energy Danantara Investment Management, Fadli Rahman, menegaskan peran Danantara dimulai sejak tahap awal perencanaan proyek, khususnya dalam memastikan kualitas tata kelola dan pemilihan teknologi.
“Bagi Danantara Indonesia, WtE bukan sekadar proyek teknologi, melainkan bagian dari kebijakan publik lintas sektor. Karena itu, fokus kami adalah memastikan tata kelola yang kuat sejak hulu, termasuk proses pemilihan Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) PSEL yang transparan dan berbasis mitigasi risiko,” ujarnya.
Arief menilai langkah pemerintah yang tengah mengembangkan program WtE melalui Danantara sudah berada pada jalur yang tepat, meski tetap memerlukan kehati-hatian dalam implementasi. Program WtE ini menjadi salah satu proyek unggulan Danantara Investment Management.
“Insinerator itu memang cara efektif untuk menyelesaikan sampah dalam waktu yang singkat, tetapi harus dijalankan dengan tata kelola dan pengawasan yang kuat agar benar-benar menjadi solusi, bukan sumber masalah baru,” katanya.
Arief menyebutkan sejumlah negara telah membuktikan keberhasilan WtE dengan pendekatan lingkungan yang ketat. Di antaranya Jepang di Osaka dan Yokohama, Zurich di Swis, serta Dubai. Praktik baik juga dapat ditemukan di Tiongkok, Singapura, Jerman, dan Belgia.
“Insinerator modern mampu mengurangi volume sampah hingga lebih dari 90 persen dengan standar pengendalian emisi yang ketat. Kunci keberhasilannya terletak pada pemilihan teknologi yang sesuai dengan karakteristik sampah nasional, serta pengawasan lingkungan yang transparan dan berkelanjutan untuk melindungi kesehatan masyarakat,” jelas Arief.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kudus: Kota Sekecil Itu Berjibaku agar Tak Jadi “Kota Sampah” di Jawa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














