Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Mendalam

Malang di Persimpangan: Ketika Kos LV dan Kumpul Kebo Menguji Identitas Kota Pendidikan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
30 Juli 2025
A A
mahasiswa malang, mahasiswa jogja, kumpul kebo, kohabitasi, kos LV.MOJOK.CO

Ilustrasi - kumpul kebo alias kohabitasi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Malang, yang selama ini dikenal sebagai kota pendidikan, kini menghadapi konflik moral yang tak terhindarkan. Fenomena kumpul kebo yang dilakukan mahasiswa pendatang, khususnya di kos LV, telah memicu keresahan mendalam di kalangan warga lokal.

Liputan ini akan membongkar benturan nilai dari sudut pandang mahasiswa, warga asli, dan pemilik kos yang terjebak di tengah dilema.

Malang: Magnet Mahasiswa dan Lahirnya Kos LV

Malang, sejak lama, memang menjadi magnet bagi puluhan ribu mahasiswa dan pekerja dari berbagai daerah di Indonesia. Setiap tahun, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mengestimasi sekitar 22.000 mahasiswa baru masuk ke kota ini. Mereka menambah lebih dari 330.000 mahasiswa aktif yang memadati berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta. 

Kehadiran populasi pendatang yang masif ini membawa serta keragaman gaya hidup dan nilai. Tak jarang, berbeda dari nilai masyarakat yang sudah disepakati.

Indikasi paling nyata dari fenomena ini, misalnya, adalah menjamurnya “kos campur” atau “kos bebas” atau “kos LV” di area-area strategis dekat kampus. Kawasan seperti Lowokwaru yang mencakup Dinoyo, Sumbersari, Ketawanggede, Tunggulwulung, dan Karang Besuki, telah menjadi kantong-kantong utama karena kedekatannya dengan universitas besar seperti UB Malang, UM, dan UIN. 

Tak hanya itu, area Tlogomas, Dau, dan Landungsari juga padat dengan kos, terutama bagi mahasiswa UMM. Bahkan di pusat kota seperti Klojen, Celaket, atau Oro-oro Dowo, kos campur mulai ditemukan.

Ciri khas kos-kosan ini adalah minimnya aturan jam malam, kebebasan menerima tamu lawan jenis, dan privasi yang lebih tinggi bagi penghuninya.

Jejak Kumpul Kebo di Malang

Konsekuensi paling nyata dari menjamurnya kos bebas atau kos LV adalah kumpul kebo di kalangan penghuninya. Sebelumnya, Mojok pernah menuliskan fenomena ini dalam liputan “Hari-hari Mahasiswa Malang yang Jalani Kumpul Kebo: Latihan Berumah Tangga, Hidup Layaknya Suami Istri meski Tak Siap Menikah”.

Liputan itu memotret cerita pasangan mahasiswa Malang yang mengaku menjalani praktik kumpul kebo dengan berbagai alasan.

Namun, kalau berkaca pada data, fenomena ini memang bukan isapan jempol belaka. Sejumlah kasus yang mencuat ke publik menjadi bukti nyata. 

Pada Februari-Maret 2025, menjelang bulan Ramadan, Satpol PP Kota Malang menggelar operasi cipta kondisi di Jalan Sigura-gura, Lowokwaru. Teriakan panik dan wajah-wajah pucat para penghuni kos saat pintu digedor, menjadi pemandangan biasa saat petugas bergerak. 

Dalam razia tersebut, sebanyak 31 orang, mayoritas mahasiswa, berhasil “diamankan” karena kedapatan kumpul kebo. Yang lebih mengejutkan, lima di antaranya bahkan diduga terlibat praktik Open BO yang menambah kompleksitas isu ini. 

Tak hanya di kos-kosan, razia serupa juga menyasar penginapan. Pada Juni 2022 dan April 2022, penggerebekan di penginapan Klayatan dan hotel di Klojen menjaring sejumlah pasangan bukan suami istri, dengan beberapa kasus bahkan terkait prostitusi. 

Puncak keresahan masyarakat terlihat pada Maret 2022, di Gondanglegi Wetan (Kabupaten Malang), ketika sepasang “kumpul kebo” digerebek dan diarak oleh ratusan warga yang resah. Insiden ini menunjukkan tingkat kemarahan yang meluap dan tindakan langsung yang diambil masyarakat.

Iklan

Memilih kos LV buat Fleksibilitas, Bukan Seks Bebas

Bagi sebagian mahasiswa pendatang, memilih kos LV bukan berarti mencari kebebasan untuk melakukan hal-hal negatif. Apalagi kumpul kebo.

Seperti yang diungkapkan Andi* (22), seorang mahasiswa semester 5 asal Jakarta, yang dengan senang hati membagikan ceritanya kepada Mojok baru-baru ini.

“Bebas di sini bukan berarti bebas dalam konotasi negatif kayak ‘kumpul kebo’ atau hal-hal yang aneh-aneh itu, ya. Buat gue, ‘bebas’ itu artinya fleksibilitas dan otonomi,” ujar mahasiswa Malang ini kepada Mojok, Selasa (29/7/2025).

Andi menjelaskan, bahwa jadwal akademik yang padat, praktikum hingga larut malam, atau rapat organisasi yang tak mengenal waktu, menuntut fleksibilitas tinggi. 

“Gue pernah nyaris diusir dari kos lama cuma karena pulang jam 12 malam karena kegiatan padat di kampus. Rasanya seperti anak kecil yang tidak dipercaya,” kenangnya. 

“Kalau kos yang ada jam malamnya, itu repot sekali. Gue nggak mau tiap malam harus buru-buru atau takut dimarahi ibu kos.”

Lebih fleksibel ngajak teman main ke kos

Selain itu, bagi Andi, “kebebasan sosial” juga menjadi poin penting. Kebebasan ini yang sangat jarang ia temui di kos-kosan yang tidak bebas.

“Teman-teman gue kadang perlu diskusi di kos sampai larut, atau sekadar main game bareng. Kalau ada aturan ketat dilarang bawa teman lawan jenis, itu kan membatasi interaksi sosial yang sebenarnya positif. Jadi nggak melulu bawaannya kumpul kebo.”

Bagi Andi, dengan tinggal di kos LV, kebutuhan akan privasi juga krusial. Sesederhana ia punya ruang lebih untuk sendiri, tanpa distraksi pemilik kos.

“Nggak ada yang terlalu ikut campur urusan pribadi, selama gue nggak bikin onar atau mengganggu tetangga lain,” tegasnya.

Andi mengakui adanya stigma negatif tadi. Namun, ia menegaskan bahwa tidak semua mahasiswa yang tinggal di kos LV itu untuk kumpul kebo.

“Banyak juga teman-teman gue di sini yang hidupnya biasa-biasa saja, fokus kuliah, kerja sambilan, atau kegiatan positif lainnya.”

Baca halaman selanjutnya…

Tapi, ada suara lain dari warga asli Malang yang nggak mau nama kotanya tercoreng.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 30 Juli 2025 oleh

Tags: Kos LVkos lv di malangKota Malangkumpul kebokumpul kebo di malangkumpul kebo mahasiswa malangmahasiswa malangMalangpilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Peserta beasiswa LPDP bukan afirmasi tidak diafirmasi
Edumojok

Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang

21 Februari 2026
Wawancara beasiswa LPDP
Edumojok

Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara

20 Februari 2026
kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO
Edumojok

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026
Toxic sibling relationship antar saudara kandung karena rebutan sertifikat tanah. Saudara kandung bisa jadi mafia tanah soal warisan MOJOK.CO
Sehari-hari

Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliah di Universitas Terbuka (UT) menjadi pilihan yang disyukuri oleh Gen Z. Meski diremehkan tapi dapatkan jawaban konkret untuk kebutuhan MOJOK.CO

Kuliah di Universitas Terbuka (UT), Meski Diremehkan tapi bikin Gen Z Bersyukur karena Beri Jawaban Konkret untuk Kebutuhan

18 Februari 2026
Kos di Jogja

Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari

19 Februari 2026
Tukang parkir coffe shop di Jogja

Nongkrong di Coffe Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir

16 Februari 2026
Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
papua.MOJOK.CO

Tolak Tawaran Kerja di Amerika Demi Mengajar di Pelosok Papua, Berambisi Memajukan Tanah Kelahiran

18 Februari 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.