Menjadi pekerja Gen Z itu serba salah. Kalau resign bakal dihujat keluarga dan tetangga. Tapi kalau bertahan di kantor bisa gila karena toksik.
***
Nisa (27) menatap layar laptopnya dengan mata mengantuk. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, pada hari Sabtu, tetapi notifikasi WhatsApp dari atasannya terus berbunyi.
“Di tempat lain mah kerja itu wajarnya delapan jam. Tapi di eks kantorku, pekerjaan dibawa pulang. Nggak bisa gitu kita malam minggu santai-santai,” ujarnya, saat ditemui di sebuah kedai kopi di Solo, Minggu (3/5/2026) siang.
Sebagai lulusan salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) top di Jogja, Nisa pernah punya ekspektasi bahwa dunia kerja akan berjalan profesional. Kenyataannya, ia terjebak di sebuah perusahaan rintisan yang memintanya mengerjakan tugas tiga divisi sekaligus.
Mulai dari mengurus media sosial, menulis laporan, hingga meladeni keluhan klien.
“Dan tahu apa yang paling menyedihkan dari semua itu? Aku kerja ‘borongan’ dengan gaji cuma nyentuh UMR Jogja. Nggak lebih dan nggak kurang.”
Gen Z resign karena burnout kerja
Selama hampir satu setengah tahun, Nisa mencoba bertahan. Namun, kelelahan fisik dan tekanan yang tiada henti mulai merusak kesehatannya.
Ia mulai sering sakit. Asam lambungnya kerap kambuh. Dan, yang paling mengkhawatirkan, setiap kali bangun pagi untuk bersiap ke kantor, ada rasa mual dan dada yang berdebar kencang.
Setelah menyadari bahwa ia mulai kehilangan kewarasan, Nisa akhirnya mengambil keputusan bulat. Ia menyerahkan surat pengunduran diri atau resign.
“Setelah kira-kira satu setengah tahun kerja kantoran, aku mutusin resign hanya beberapa saat setelah ultah. 2025 lalu,” ungkap Nisa.
Keputusan Nisa untuk keluar dari pekerjaan tanpa memiliki pekerjaan pengganti seringkali dipandang sebelah mata oleh generasi yang lebih tua. Seperti tetangga, bahkan orang tuanya sendiri.
Anak muda zaman sekarang kerap dicap manja, lembek, dan tidak tahan banting. Padahal, apa yang dialami Nisa bukanlah kasus individu. Tindakannya adalah gambaran nyata dari fenomena sebuah generasi.
Banyak laporan ketenagakerjaan saat menunjukkan tren yang sama. Pekerja Gen Z rata-rata hanya bertahan satu hingga dua tahun di perusahaan pertama mereka. Bahkan, laporan dari Jakpat, 69 persen pekerja Gen Z memiliki kecenderungan buat resign dari kantor mereka saat ini.
Alasan utama mereka keluar bukanlah semata-mata mencari gaji yang lebih besar. Tetapi karena kelelahan kerja yang parah (burnout) dan lingkungan kerja yang tidak sehat alias toksik.
“Jujur aja psikolog mahal. Kalau aku nggak resign, bisa gila mungkin dulu.”
Gen Z sudah sadar kesehatan mental di dunia kerja
Laporan yang sama menyebutkan, fenomena ini terjadi karena adanya pergeseran prioritas yang sangat mendasar antara generasi anak dan orang tua dulu.
Generasi masa lalu bekerja dengan mode “bertahan hidup”. Tujuan utama mereka adalah mencari makan, menyekolahkan anak, dan memiliki tempat tinggal.
Sementara itu, sebagian besar anak muda saat ini lahir ketika kebutuhan dasar tersebut sudah berhasil dipenuhi oleh orang tua mereka. Fokus hidup generasi muda pun bergeser pada pencarian kualitas hidup.
Ditambah lagi, mereka tumbuh bersama internet. Mereka bisa mengakses informasi yang jelas untuk mengenali batas wajar rasa lelah. Mereka tahu membedakan mana capek yang biasa, dan mana stres kerja yang sudah merusak kesehatan mental.
Kesadaran inilah yang membuat anak muda zaman sekarang menolak untuk menormalisasi eksploitasi di tempat kerja.
Kerja keras bagai kuda, tetap hidup susah
Namun, di luar alasan kesehatan mental, ada hitung-hitungan matematika yang membuat keputusan Gen Z untuk resign menjadi sangat logis dan masuk akal.
Orang tua zaman dulu sering menasihati, “Kerja keras dan tahan banting saja dulu, nanti lama-lama pasti mapan dan bisa beli rumah.”
Janji manis ini mungkin berlaku di tahun 80-an atau 90-an. Namun, menurut riset David P. Varady dalam Housing Affordability: Challenges for the New Generation, saat ini, hitungan matematis membuktikan bahwa sekeras apapun Gen Z berusaha, tanpa adanya privilese mereka sulit membeli rumah.
Ada banyak alasan. Salah satunya, kenaikan gaji UMR di berbagai daerah berjalan sangat lambat, seringkali tidak sampai lima persen per tahun. Di sisi lain, harga tanah dan rumah naik secara gila-gilaan setiap tahun.
Seorang pekerja di Jogja dengan gaji rata-rata Rp2,5 juta sudah harus dihadapkan dengan harga rumah sederhana yang angkanya sudah menyentuh ratusan juta rupiah. Secara hitungan di atas kertas, sekeras apa pun mereka menahan stres di kantor, gaji itu tetap tidak akan cukup untuk membeli rumah dalam waktu dekat.
Belum lagi soal adanya lilitan beban tambahan: generasi sandwich. Gaji yang pas-pasan itu seringkali tidak bisa mereka nikmati secara utuh, apalagi buat menabung. Banyak pekerja muda yang gajinya langsung terpotong begitu cair untuk membiayai kebutuhan orang tua, membayar utang keluarga, atau menyekolahkan adik-adiknya.
“Jadi kalau aku pikir, nasihat orang tua tentang Gen Z yang harus bisa beli rumah asal kerja keras, itu udah nggak relevan,” tegas Nisa.
Gen Z resign malah kena nyiyir keluarga dan tetangga
Sayangnya, hitungan logis dan kebutuhan menjaga kesehatan mental ini tidak selalu dipahami oleh tetangga bahkan orang tua di rumah. Inilah yang dirasakan oleh Dimas (26).
Sama seperti Nisa, Dimas juga lulusan perguruan tinggi negeri top di Jogja yang akhirnya memilih resign karena tidak tahan dengan sistem kerja di kantornya yang hancur-hancuran.
Niat awal Dimas pulang ke rumah adalah untuk mencari jeda, beristirahat sejenak, dan menata ulang rencana kariernya dengan pikiran yang lebih jernih.
Kenyataannya, rumah bukanlah tempat yang nyaman untuk rehat. Keputusannya untuk resign langsung disambut dengan omelan panjang dari orang tuanya.
“Bayangin coba. Aku resign kerja langsung dianggap beban keluarga,” ujar pria Solo ini, Minggu (3/5/2026).
Hampir setiap hari Dimas harus mendengar kalimat seperti “sayang sekali ijazah kampus negeri kalau cuma buat bengong di rumah,” atau teguran yang membandingkan dirinya dengan anak tetangga yang sudah mapan hidupnya.
Tekanan tidak berhenti di ruang keluarga. Ketika keluar rumah, ia harus berhadapan dengan pertanyaan basa-basi para tetangga yang terasa menusuk.
“Mereka basa-basi, tapi aslinya nyinyir. ‘Loh, kok jam segini belum berangkat kerja?’ Padahal udah tahu aku lama resign,” kata Dimas.
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Dimas tak nyaman. Perlahan, ia merasa bahwa dirinya hanyalah beban keluarga. Status pengangguran sementara yang niatnya untuk memulihkan kewarasan, justru membawa Dimas pada tekanan mental yang luar biasa.
Generational gap Gen Z dan orang tua
Jika dilihat dari kacamata orang tua Dimas, kemarahan dan teguran yang mereka lontarkan sebenarnya bukan karena mereka membenci anaknya. Reaksi keras yang ditunjukkan oleh banyak orang tua ketika anaknya resign berasal dari alasan psikologis yang tertanam puluhan tahun.
Karl Mannheim menyebutnya sebagai generational gap. Intinya, generasi dibentuk oleh kesamaan lokasi sejarah dan pengalaman peristiwa penting pada periode waktu yang sama, yang memengaruhi kesadaran kolektif mereka.
Misalnya, bagi generasi yang lebih tua, mereka punya memori trauma tentang betapa susahnya mencari pekerjaan di masa lalu. Beberapa dari mereka mungkin pernah melewati masa krisis ekonomi di mana pemutusan hubungan kerja terjadi besar-besaran.
Pengalaman pahit itu membuat mereka melihat rutinitas pergi ke kantor dan menerima gaji bulanan sebagai satu-satunya bentuk rasa aman. Ketika anak mereka dengan sengaja memutuskan rutinitas tersebut, seperti Dimas, misalnya, insting pertama orang tua adalah panik karena mereka merasa rasa aman itu terancam.
Lebih jauh lagi, generasi tua sering kali melekatkan identitas dan harga diri keluarga pada nama perusahaan tempat anak mereka bekerja. Bagi orang tua, memiliki anak yang bekerja di perusahaan bergengsi adalah sebuah kebanggaan yang bisa diceritakan saat kumpul keluarga atau arisan warga.
Saat Dimas resign tanpa membawa status pekerjaan baru, orang tuanya seketika panik karena merasa status sosial keluarga mereka di mata tetangga ikut runtuh.
Kemarahan orang tua di rumah pada dasarnya adalah wujud dari kecemasan sosial mereka sendiri. Namun, bagi anak muda yang baru saja lari dari tekanan kantor yang melelahkan, kepanikan orang tua itu justru berubah menjadi rantai beban baru yang mengikat leher mereka setiap hari.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup atau liptan Mojok lainnya di rubrik Liputan














