Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Mendalam

Rakyat Jelata Tak Bisa Gembira dengan Pertunjukkan Clash of Champions, Cuman bikin Kesal Anak Broken Home yang Suka Adu Nasib

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
10 Juli 2025
A A
game clash of champions ala ruangguru. MOJOK.CO

ilustrasi - clash of champions ala ruangguru tuai kontroversi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tahun ini, Clash of Champions yang diselenggarakan Ruang Guru memasuki musim ke dua. Namun, seperti tak belajar pada pengalaman sebelumnya, banyak netizen yang masih nyinyir dengan reality show tersebut. Maklum, warga negara Indonesia memang punya “mental kepiting”. Tapi, jauh lebih dari itu sebenarnya diskriminasi dan hierarki di dunia pendidikan adalah realitas pelik yang tak bisa dihindari.

***

Sepekan terakhir kompetisi Clash of Champions milik bimbingan belajar Ruangguru menjadi perbincangan di dunia maya. Hingga Kamis pagi, (10/7/2025), reality show yang diunggah di Youtube itu sudah ditonton oleh 6 juta penonton pada episode pertama sejak dua pekan penayangan.

Sekilas, reality show ini menunjukkan kehebatan dari puluhan mahasiswa berprestasi asal Indonesia yang kuliah di kampus dalam negeri maupun luar negeri. Penonton dapat mengetahui lebih jauh profil para peserta pada episode pertama, termasuk informasi IPK tinggi dan prestasi yang pernah mereka raih.

Misalnya, seorang peserta asal Indonesia yang bisa kuliah di luar negeri. Sebut saja, Joshua yang menjadi pelajar di University of Oxford, salah satu kampus peringkat pertama di dunia selama 9 tahun berturut-turut. 

Selain Joshua, ada juga peserta Clash of Champions, Omura yang juga belajar di Kyoto University. Kyoto University merupakan kampus terbaik peringkat kedua di Jepang. Selain pelajar yang kuliah di luar negeri seperti Korea, Hongkong, Amerika, dan sebagainya, mahasiswa yang kuliah di universitas dalam negeri juga tak kalah berani.

Clash of Champions memicu mental kepiting rakyat jelata

Sayangnya, alih-alih ikut bangga dengan prestasi yang ditonjolkan, beberapa komentar negatif dari netizen sering bermunculan. Baik pada Clash of Champions season 1 maupun 2. Kebanyakan komentar berisi sindiran bahkan adu nasib.

Tak pelak, ajang adu kecerdasan itu berubah menjadi ajang membanding-bandingkan. Ada yang menganggap para peserta dalam kompetisi Clash of Champions beruntung karena berasal dari latar belakang keluarga yang memiliki privilege.

“Apalah aku yang ingin kuliah terhalang biaya dan harus kerja buat orang tua, walaupun beasiswa ada tapi tetap pilih kerja,” tulis akun Tiktok @js_***** dikutip pada Kamis, 10 Juli 2025.

“Mereka juga bisa les sana sini karena orang tua mampu, nah di luar sana orang mau berkembang tapi finansial kurang juga susah, les mahal,” kata akun Tiktok @her*****.

“Yang anak broken home, yang emak (ibu), bapaknya udah bahagia sama keluarga masing-masing, bisa apa? minta dukungan dari mereka pun sungkan. Entah dari financial atau dukungan dengan kata-kata pun enggak pernah dapet,” tulis akun Tiktok @chl*****.

Pakar psikologi sosial dari Universitas Indonesia, Dicky C. Pelupessy menjelaskan fenomena ini merupakan realitas sosial dari sindrom crab mentality. Artinya, ada orang yang menginginkan orang lain untuk tidak maju atau mencapai kesuksesan yang lebih besar dari dirinya, seperti komentar netizen terhadap game Clash of Champions.

“Bayangkan, sejumlah masyarakat tadi adalah kepiting yang diletakkan bersama-sama dalam ember. Di sana terlihat kalau para kepiting ini saling menjatuhkan. Begitu ada yang coba naik, pasti akan ditarik oleh kepiting lain,” ujar dia saat dihubungi Mojok, Sabtu (6/7/2025).

Sifat alamiah manusia yang suka “adu nasib”

Namun, Dicky menegaskan bahwa respons membanding-bandingkan diri dengan orang lain merupakan sifat alamiah manusia. Dalam bahasa psikologi, teori ini disebut sebagai social comparison.

Iklan

Teori ini, kata Dicky, adalah suatu proses di mana seseorang membandingkan kemampuan, pendapat, atau sifatnya dengan orang lain. Dalam kasus ini, masyarakat juga bisa membenturkan kehidupannya dengan para peserta Clash of Champions.

Ia menjelaskan kondisi tersebut bisa terjadi saat penonton merasa terganggu dengan tontonan tersebut dan membenturkannya pada realita yang mereka hadapi. Tak pelak, muncul banyak respon negatif di media sosial. 

“Kemungkinan lebih besar untuk nyinyir atau iri, itu karena dia berpikir sepertinyaakan sulit sekali untuk mendapatkan kondisi seperti (peserta) itu,” ucapnya.

Dicky menduga adanya fenomena membandingkan dan mental kepiting tadi diperkuat dengan mahasiswa Clash of Champions yang berasal dari luar negeri. Di sisi lain, panitia pembuat konten tidak menyuguhkan kisah perjuangan dari masing-masing peserta. Sehingga, kesan yang ditangkap tampak negatif.

Clash of Champions bukan untuk adu nasib

Ruang Guru memang tak menampilkan secara detail profil peserta Clash of Champions, terutama dari latar belakang keluarga atau kondisi ekonomi mereka. Yang jelas, tak semua peserta berasal dari keluarga kaya.

Salah satu peserta bernama Muhammad Ainurriza Al Kahfi, yang tampil di season 2 mengungkap bahwa ia berasal dari keluarga kurang mampu. Mahasiswa Jurusan Ilmu Fisika Universitas Brawijaya (UB) itu berujar jika orang tuanya bekerja sebagai tukang bangunan yang tak pernah mengenyam bangku kuliah. Sementara, dirinya bersyukur karena bisa kuliah dengan memanfaatkan beasiswa dari pemerintah.

“Berkat program KIP Kuliah, saya bisa menapaki jenjang pendidikan tinggi tanpa terbebani biaya. Saya sadar, di luar sana ada banyak isu soal ketidaktepatan sasaran bantuan pendidikan ini, tapi hari ini izinkan saya menjadi saksi bahwa KIP Kuliah juga sampai ke tangan yang tepat,” ujar Riza di akun Instagramnya, @riza_alkahfi, dikutip Mojok, Kamis (10/7/2025).

Riza adalah salah satu contoh dari sekian banyak mahasiswa yang berhasil terpilih sebagai peserta Clash of Champions, meski lahir dari keluarga sederhana. Sementara itu, Dicky berharap penonton masih bisa mengambil sisi positif dari pertunjukkan Clash of Champions. 

Sehingga, alih-alih merasa tersaingi, penonton seharusnya lebih termotivasi dalam belajar. Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa penonton yang gugur dalam kompetisi tersebut bukan berarti gagal dalam kehidupan.

“Jangan memberikan penilaian kepada orang lain semau kita, jangan berikan penilaian yang tidak berdasar,” ucap Dicky.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Bagi Anak Desa Clash of Champions Tak “Semengancam” Hafiz Indonesia, Orang Tua Tak Bisa Banding-bandingin karena Sadar Diri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 10 Juli 2025 oleh

Tags: broken homeclash of championsmahasiswa berprestasimahasiswa kip kuliahpilihan redaksiruangguruuniversitas ternama
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
Sekolah penerima manfaat beasiswa JPD Pemkot Jogja

Beasiswa JPD Jadi Harapan Siswa di Jogja untuk Sekolah, padahal Hampir Berhenti karena Broken Home

17 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

19 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.