Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Cerita Mahasiswa UNAIR Anak Caleg Gerindra Lulus Cepat agar Bisa All Out Bantu Bapak Kampanye

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
14 April 2024
A A
prabowo subianto gerindra jatah 3 menteri pertahanan

prabowo subianto gerindra jatah 3 menteri pertahanan

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Memilih lulus cepat dan membantu ayahnya dalam kontestasi politik adalah pilihan yang ditempuh oleh Ryan Devananda, mahasiswa UNAIR jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2020. Menggantikan peran kakaknya, Ryan membantu ayahnya, caleg Gerindra, bertarung di DPRD Surabaya di Dapil 4.

***

Jika kita bicara mahasiswa yang terjun ke politik, nama macam Budiman Sudjatmiko, Fadli Zon, dan Adian Napitupulu akan muncul. Tak bisa dimungkiri, bahwa merekalah top of mind topik tersebut. Makin ke sini, tak banyak nama baru yang kita dengar, tapi bukan berarti tak ada.

Ryan Devananda, jelas tak sementereng mereka. Tapi mahasiswa UNAIR Surabaya ini juga terjun ke politik, meski tak sedalam nama-nama di atas. Ryan membantu ayahnya “bertarung” di Dapil Surabaya 4, di bawah Partai Gerindra. Dan untuk membantu ayahnya, dia memilih untuk lulus cepat.

Lulus cepat demi bantu bapak nyaleg

“Faktor kenapa saya memilih lulus cepat itu gara-gara teringat 5 tahun lalu, Bapak dulu riweh banget dalam pemilu ini. Dulu ada dua kakak saya, yang juga bantu bapak. Sebelumnya saya nggak ada gambaran mau lulus cepat dan bantu bapak. Tapi saat menginjak semester 7 itu, baru kepikiran. Saat itu juga saya sudah ambil skripsi, dan kebetulan ambil tema komunikasi politik. Pas banget kan,” terangnya pada saya saat wawancara (13/04/2024).

“Saat saya mulai mengerjakan skripsi, kalau tak salah Oktober, meski belum kampanye, tapi Bapak sudah mulai ngumpulin tim. Saya saat itu masih skripsi dan magang, dan melihat Bapak sudah mulai riweh, baru itulah saya ngebut skripsi dan magang, biar bantu Bapak saat Januari dan Februari. Salah satu faktornya itu, Mas.”

“Biar bisa all out, Mas, pas bantu. Nggak kepikiran skripsi. Terlebih kakak saya udah jadi orang partai, di DPC Gerindra Surabaya, jelas sibuk banget. Mau nggak mau ya saya yang all out ke Bapak.”

Setelah Desember, saat sudah kelar semua dan lulus dari UNAIR, Ryan ikut terjun bantu Bapaknya. Seperti ikut memasang APK, bantu branding ayahnya, belajar komunikasi dengan tim, dan lain-lain.

Bantu Bapak agar branding tidak membosankan

Ryan bilang bahwa dia yang bantu Bapaknya branding. Bagi caleg muda, branding jadi hal utama. Tapi untuk caleg senior seperti Bapaknya, branding tak jadi hal utama. Dia ingin menerapkan ilmu komunikasi yang sudah dia dapat dalam kuliahnya, agar branding Bapaknya lebih fresh.

Hal seperti baliho, dokumentasi, semua didesain oleh Ryan. Alasannya seperti paragraf sebelumnya, agar lebih fresh. Bagi Ryan, cara pemasangan baliho dan hal semacamnya itu perlu diubah, agar tidak terlihat kuno, tidak meresahkan.

“Dalam hati saya tuh miris, Mas. Dari dulu melihat kampanye para politisi yang boring. Foto sembarangan, desain tidak menarik, baliho berjejeran. Makanya saya bantu Bapak, pengin kampanye bapak tuh eyecatching dan bagus. Nggak mengganggu, nggak ditaruh di depan rumah orang, trotoar.”

“Kebetulan, Bapak juga kepikiran hal yang sama.”

Belajar banyak

Dalam proses membantu bapaknya kampanye sebagai caleg Gerindra di dapil 4 Surabaya, Ryan mendapat banyak hal yang dia dapat dalam proses. Salah satunya adalah, dia mendapat insight dari banyak obrolan dari tim pemenangan. Sebagai pemuda, dia bisa jadi penyeimbang pandangan dan sumber informasi dari media sosial. Tim pemenangan dan masyarakat biasanya mendapat informasi dari media konvensional, jadi Ryan bisa memberi informasi dari sumber lain.

“Pengalaman yang kudapet juga banyak, Mas. Aku nggak mau terjun ke politik sebenere, Mas. Tapi gara-gara ikut ke lapangan inilah, jadi tau realitasnya, Mas. Selama ini aku hanya belajar teori, tapi gara-gara terjun inilah aku tahu realitasnya di masyarakat. Yang terjadi di media sosial dan di dunia nyata itu beda jauh, Mas.”

Iklan

Nggak dapet masalah selama bantu caleg Gerindra

Pemilu 2024, tak bisa dimungkiri, “membelah” banyak kalangan. Tiap kalangan, punya jagonya masing-masing, dan memujanya dengan cara masing-masing. Media sosial pun jadi arena pertarungan. Sebagai anak caleg Gerindra, partai pengusung Prabowo Subianto, pastilah Ryan menemui beberapa kawannya yang berseberangan dengan Prabowo.

Saya pun bertanya pada Ryan, bagaimana reaksi dia melihat kawannya berseberangan dengan dia. Di luar dugaan, jawaban dia justru senang.

“Aku justru seneng sih, Mas, karena artinya temen-temen melek secara politik. Ikut andil, ikut argumentasi, ikut diskusi. Aku sih belum pernah lihat temen-temen ngatain sih, Mas, tapi ngomongin tentang programnya. Saya sih nggak pernah diserang secara personal. Lagi pula, ini urusan nasional, Mas, soalnya saya juga nggak terlibat langsung.”

Ryan juga mengatakan bahwa tak ada masalah yang menimpa dia sekalipun dia anak caleg Gerindra, pengusung Prabowo. Dalam pertemanan pun baik-baik saja, karena pemilu ini, katanya, pilihan partai tak melulu sejalan dengan presiden. Maksudnya, memilih partai A tak otomatis juga memilih presiden dari partai yang sama.

Pelajaran yang didapat saat kampanye caleg Gerindra

Pengalaman terjun ke kampanye caleg Gerindra ini begitu berharga untuk Ryan, lulusan UNAIR Surabaya. Dia bisa memahami apa yang masyarakat minta, belajar memimpin rapat, berorganisasi, berpolitik. Pada akhirnya, ketika dia terjun ke dunia kerja nanti, apa yang dia dapat di kampanye ini akan dia terapkan. Dunia kerja pun isinya politik, dan itu tak bisa dimungkiri, tegas lulusan UNAIR ini.

Dia tidak memungkiri bahwa dia bisa mendapat semua pengalaman ini karena punya privilege sebagai anak caleg, terlebih partai besar macam Gerindra. Bagi Ryan, hal ini kembali lagi ke orangnya. Banyak anak caleg yang tak peduli bagaimana bapak atau ibunya berkampanye dan berpolitik. Privilege, kalau tak dimanfaatkan, juga tak berguna.

Kalau masih gampang panas, mending nggak usah

Saya akhirnya bertanya, apakah dia tertarik terjun politik, dan akan menyarankan pemuda yang lain untuk terjun ke politik. Ryan menjawab mungkin dia akan terjun. Sebab, dia menikmati prosesnya. Hanya saja, dia ingin masuk partai dengan normal, alias lewat kaderisasi atau prosedur yang seharusnya. Dia tidak ingin mendompleng nama bapaknya atau dipermudah karena bapaknya.

Untuk saran terjun ke politik, Ryan menyarankan terjun saja, tapi di daerah saja, seperti pemilihan wali kota, DPR daerah, bupati, dan semacamnya. Sebab, monitoringnya lebih dekat. Selain itu, Ryan menekankan jadi relawan daerah itu bisa belajar lebih banyak. Kalau jadi relawan DPR pusat atau presiden, memang lebih banyak serunya, tapi belajarnya lebih dikit. Kebanyakan hanya jadi tim hore, dan nggak bisa belajar lebih banyak. Terlebih, monitoringnya susah.

“Temen-temen yang masih gampang panas, mending nggak usah ikut relawan legislatif.”

Reporter: Rizky Prasetya
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Penyesalan Mahasiswa yang Gagal Masuk UNAIR lalu (Terpaksa) Kuliah di UNESA: Kantin Kampus Mirip Kantin Pabrik, Mau Parkir Saja Sulit!

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 14 April 2024 oleh

Tags: caleggerindraSurabayaunair
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO
Urban

Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

25 Februari 2026
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO
Sehari-hari

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
Pekerja gila Surabaya yang melamun di Danau UNESA. MOJOK.CO
Urban

Danau UNESA, Tempat Pelarian Pekerja Surabaya Gaji Pas-pasan dan Gila Kerja. Kuat Bertahan Hanya dengan Melamun

24 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO
Catatan

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gen Z photobox di Tugu Jogja

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) kerap disalahpahami mahasiswa PTN atau PTS umum lain MOJOK.CO

4 Hal yang Sudah Dianggap Keren dan Kalcer di Kalangan Mahasiswa UIN, Tapi Agak “Aneh” bagi Mahasiswa PTN Lain

28 Februari 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

25 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

25 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.