Matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Terasa gerah. Namun, hal itu tidak menghalangi wisatawan mengunjungi kompleks Candi Plaosan yang berada di Desa Bugisan, Prambanan, Klaten. Walau tidak begitu ramai, pengunjung siang itu datang silih berganti. Tua, muda, warga lokal, orang asing, semua tertarik melihat candi yang diperkirakan ada sejak abad ke-9 Masehi itu.
“Biasanya pagi atau sore lebih ramai, Mbak,” kata Juru Pelihara Candi Plaosan, Gunawan (53), Jumat (10/4/2026), saat ngobrol di bawah pohon dekat pintu masuk candi.
Selain suasana yang syahdu, pemandangan di pagi dan sore hari lebih ciamik. Di pagi hari, candi tampak magis dengan paparan cahaya matahari pagi yang lembut. Kebetulan dua candi induk Plaosan menghadap ke arah barat, ke arah matahari terbit. Keberadaan kabut tipis membuat suasana semakin magis.
Di sore hari, pengunjung bisa menyaksikan candi dengan latar belakang langit yang tak kalah elok: langit siang yang sebelumnya biru cerah perlahan diwarnai semburat jingga menyala, lalu berganti menjadi ungu menuju petang.
Sebenarnya pemandangan indah di Candi Plaosan sudah tidak diragukan. Sekitar 2013-2014, saat candi masih dikelilingi sawah, tempat ini sangat populer di kalangan fotografer. Sawah dengan latar belakang candi dan langit pagi atau sore yang indah menjadi komposisi foto paling favorit.
“Dulu fotografer sampai jongkok-jongkok di sekitar sawah untuk dapat gambar,” kenang Nuri Yanto (40), warga dan anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Plaosan, Dukuh Bugisan.
Saat ini, sawah yang mengelilingi memang sudah tiada karena perluasan ekskavasi kompleks Candi Plaosan. Namun, keindahannya masih tetap ada dan bisa dinikmati pengunjungnya mulai dari pukul 07.30-17.00 WIB.
Menikmati pemandangan dengan harga terjangkau
Dibanding Candi Prambanan yang hanya terpisah 2,6 km jauhnya, Candi Plaosan memang masih kalah populer. Namun, perlahan, situs yang kerap dijuluki dengan candi kembar ini mulai masuk “radar” wisatawan lokal maupun luar negeri.
“Sudah punya jaringan dengan driver-driver, sehingga turis, khususnya turis asing, bisa dibawa ke sini,” tutur Gunawan.
Salah satu wisatawan yang datang berkat rekomendasi supir adalah Al Hafiz (23) dari Kuala Lumpur, Malaysia. Setelah menghadiri acara pernikahan kerabat di Boyolali, dia dan keluarga sengaja menjelajahi tempat wisata yang ada di Jawa Tengah. Dan, Candi Plaosan masuk dalam salah satu rekomendasi supir yang mengantar mereka.
Betapa kaget Hafiz ketika tahu tarif masuk Candi Plaosan hanya dipatok Rp50.000 saja. Sebab, di tempat wisata lain, tarif masuk untuk turis asing kadang tidak masuk akal. Lebih dari itu, dia tidak mengira Candi Plaosan ternyata luas dan aksesnya relatif mudah. Orang tua dan anak-anak bisa menikmati candi dengan nyaman.
Sebagai informasi, harga tiket masuk di hari biasa dan akhir pekan dipatok sama. Pengunjung lokal tarifnya Rp10.000 untuk orang dewasa dan Rp2.000 untuk anak-anak. Sementara turis asing dikenai Rp50.000.

Fasilitas Candi Plaosan yang nyaman
Harga tiket yang ramah di kantong juga membuat Yola Rezki Handika (23) dan Septha Bayu Saputra (20) senang berkunjung ke Candi Plaosan Klaten. Pemuda asal Purworejo yang sedang kuliah di Jogja itu merasa tarifnya cocok untuk mahasiswa mendang-mending seperti mereka.
Dengan harga segitu pengunjung bisa dapat fasilitas yang memadai. Misal, gerbang masuk kawasan candi yang sudah dilengkapi dengan alat pemindai tiket QRIS. Jalan masuk area candi pun mudah karena belum lama ini ada penambahan jalur pejalan kaki dari kayu. Di dalam kompleks candi juga sudah tersedia toilet dan musala. Lingkungan sekitar candi pun bersih, tidak ada sampah berserakan.
Kalau pengunjung kepanasan atau kelelahan, mereka bisa duduk-duduk di bawah pohon dekat pintu masuk candi. Dari sana mereka bisa menikmati pemandangan dua candi induk tanpa harus lelah berjalan kaki. Pengunjung yang haus atau lapar juga bisa jajan di warung-warung yang berada tepat di pintu keluar kawasan candi.
Septha yang gemar menyusuri candi-candi belum populer mengaku sudah beberapa kali mengunjungi Plaosan. Dia pun melihat perkembangan yang semakin baik dari tiap kunjungannya. Selain kompleks candi yang kian luas, penemuan-penemuannya baru terus ada. Itu mengapa, dia tidak ragu merekomendasikan tempat ini ke orang lain.
Kendati menuai pujian dari pengunjung, Gunawan dan Nuri sepakat Candi Plaosan sebenarnya bisa lebih dimaksimalkan dibanding kondisi saat ini. Terlebih, candi ini sebenarnya punya potensi wisata yang sangat besar. Misal, pengunjung sebenarnya bisa menikmati Candi Plaosan Klaten dipadukan dengan paket wisata lain seperti bersepeda di sekitar kawasan candi, menikmati gejok lesung, hingga membatik. Dengan begitu, pariwisata candi bisa lebih berdampak untuk warga sekitar.

Mengenal kompleks Plaosan
Bagi kalian yang belum tahu, Candi Plaosan Klaten dibangun oleh para penguasa Dinasti Syailendra yang terdiri atas Plaosan Lor (utara) dan Plaosan Kidul (selatan). Jarak keduanya tidak begitu jauh, terpisah jalan kampung sekitar 1 km saja. Bahkan, dari pintu keluar Candi Plaosan Lor kalian sudah bisa melihat pintu masuk candi Plaosan Kidul yang berada di sisi selatan.
Candi Plaosan Lor dengan dua candi induk yang berdiri megah menjadi daya tarik utamanya. Dua candi induk yang berjejeran itu menyimbolkan perempuan (candi utama sisi utara) dan laki-laki (candi utama sisi selatan), terlihat dari relief dan arca yang ada di dalam candi.
Candi induk kembar itu dikelilingi oleh candi-candi kecil disebut perwara. Beberapa candi “pendamping” ada yang berdiri utuh, tapi lebih banyak yang masih dalam berbentuk reruntuhan.
Nuri menjelaskan setidaknya ada 174 candi kecil yang mengelilingi candi utama. Sejauh ini diketahui ada 50 perwara biasa, 116 stupa perwara, dan sisanya adalah candi-candi patok. Kemungkinan jumlahnya masih bisa bertambah ke depan karena ekskavasi terus dilakukan. Adapun sekarang ini Perwara 1, 3, 10, 2, dan 50 tengah dalam proses pemugaran dengan dukungan dari Djarum Foundation. Harapannya, pemugaran tersebut bisa selesai di akhir 2026 ini, sehingga 1 per 1 perwara dapat berdiri dengan utuh.
Selain candi kembar yang ikonik, Candi Plaosan Klaten unik karena arsitekturnya perpaduan Buddha dan Hindu. Corak Buddha terlihat dari keberadaan Dhyani Boddhisatwa, stupa, dan ukiran teratai. Sentuhan Hindu terlihat dari candi perwara yang mengelilinginya adalah perwara ratna yang mirip dengan pura-pura di Bali.
Keunikan ini menyimpan cerita panjang yang sarat akan nilai toleransi dan gotong royong. Nilai-nilai inilah yang membuatnya penting untuk dilestarikan dan diketahui lebih banyak orang.
Penulis: Kenia Intan
Editor: Aly Reza
BACA JUGA Hubungan Istimewa di Balik Pohon Gayam sebagai “Tanaman Peneduh” dan Candi Borobudur atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














