Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

10 Tahun Merantau Bikin Sadar Kalau Kuliner Semarang Super Enak, Sedangkan Jogja Overrated

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
24 Oktober 2025
A A
Kuliner Semarang.MOJOK.CO

Ilustrasi - 10 Tahun Merantau Bikin Sadar Kalau Kuliner Semarang Super Enak, Sedangkan Jogja Overrated (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Selama tiga hari liputan di Semarang, saya seperti tak kehabisan alasan untuk kulineran. Di kawasan atas dekat kampus Universitas Diponegoro (Undip), saya mampir ke warung soto di tepi jalan Kecamatan Banyumanik. Kuahnya memang bening, tapi gurihnya terasa, citarasa rempah dominan. 

Cukup untuk menemani malam di Semarang bagian atas yang hawanya lumayan sejuk.

Hari berikutnya, sekitar Simpang Lima yang berada di pusat kota, suasananya lebih sibuk. Di sana, deretan gerobak sudah siap menjajakan makanan sejak sore. Di Pecinan, saya mencoba lumpia hangat dan nasi ayam yang disajikan cepat tanpa banyak bumbu tambahan.

Kelihatan cuma seperti ayam goreng biasa yang kerap saya makan. Namun, entah mengapa, rasa rempah dan sambalnya lebih nendang. Seporsi ayam goreng bisa saya pakai untuk habiskan dua piring nasi.

Hari terakhir atau ketiga, saya menutup perjalanan di pesisir utara, tepatnya di sebuah warung tenda tanpa nama di Kecamatan Tugu. Menu utamanya ikan bakar dengan sambal dan jeruk nipis. 

Ikan bakarnya, sih, biasa aja. Namun, di warung itu, saya menikmati menu-menu khas yang tak biasa dan untuk pertama kalinya saya makan: oseng krokot dan keripik mangrove. Citarasa unik bikin saya tak bisa berhenti untuk mengunyah.

Bagi perantau asal Jogja, kuliner Semarang jauh lebih enak

Di sela-sela perjalanan saya di Semarang, saya bertemu dengan Malik (32), lelaki yang sudah sepuluh tahun tinggal di Semarang untuk kuliah dan bekerja. 

Ia memang lahir di Jogja, tapi sekarang lebih hafal nama warung di Semarang daripada di kampung halamannya sendiri. 

“Awalnya saya kira Jogja paling enak,” katanya sambil minum kopi di warung dekat Simpang Lima, Minggu (28/10/2025). 

“Tapi setelah lama di sini, saya sadar, Semarang itu jauh lebih unggul kalau soal kuliner. Bahkan kalau dibandingkan Jogja, rasanya lebih berani dan lebih bervariasi.”

Menurut Malik, hal paling menonjol dari kuliner Semarang adalah keberagamannya. 

“Kamu bisa nemu rasa dari banyak budaya di satu kota kecil ini,” katanya. 

Kuliner Semarang lebih variatif dari Jogja

Malik seperti memvalidasi apa yang saya temukan di Semarang. Ia menjelaskan, di Semarang atas, misalnya, banyak warungnya menjual makanan khas Jawa pegunungan. Berkuah dan citarasa rempah kuat.

Di pusat kota dan pesisir, pengaruh Tionghoa dan Arab terasa kuat. Ada lumpia, nasi kebuli, lontong tahu, soto daging, hingga aneka olahan seafood.

Iklan

“Sedangkan Jogja enak, tapi agak monoton,” lanjutnya. “Rasanya itu-itu aja, nuansa Jawanya kuat sekali. Kadang bagus karena konsisten, tapi ya itu sensasinya cuma gitu-gitu aja.” 

Menurut Malik, di Semarang setiap wilayah seperti punya identitas sendiri. Sementara di Jogja, di manapun orang berada, “yang ditawarkan” itu-itu saja. 

“Kalau di Semarang, kamu pindah satu kecamatan aja, cita rasanya bisa berubah total.”

Karakter rasa nggak monoton

Malik bilang, lidah orang Semarang cenderung suka rasa yang “nendang”. Karakternya lebih ke arah gurih agak pedas.

“Ini yang bikin dalam satu suapan bisa ada manis, asin, gurih, dan pedas sekaligus. Bumbunya nendang,” ujarnya. 

Ia mencontohkan tahu gimbal dengan bumbu kacang yang kental dan sedikit asam, atau nasi goreng babat yang gurih dan pedas tapi tetap seimbang. Belum lagi kalau bicara makanan khas pesisir yang “terlihat sederhana”, tapi langsung menghentak di suapan pertama.

“Bumbunya berani. Lebih medok, lebih bisa diterima semua lidah.”

Sebaliknya, di Jogja rasa manis lebih mendominasi hampir semua hidangan. “Kalau di Jogja, yang manis dianggap khas. Tapi lama-lama bikin bosan juga,” katanya sambil tertawa. 

“Semarang itu lebih fleksibel. Rasa pedasnya bisa menantang, tapi nggak sampai bikin nyesel. Manisnya cukup, gurihnya juga pas. Kalau di Jogja, kadang nasi goreng pun masih manis.”

Pengaruh laut dan sejarah kota dagang

Dua hal yang, menurut Malik, membuat kuliner Semarang lebih dinamis adalah pengaruh budaya dan kedekatannya dengan laut. Sejak dulu, Semarang adalah kota pelabuhan dan tempat pertemuan banyak etnis: Jawa, Tionghoa, Arab, hingga Belanda. 

Dari situ, selera masyarakat terbentuk. Kata dia, karakternya lebih terbuka, nyampur, dan selalu ingin mencoba hal baru.

Faktor geografis juga berperan besar. “Bahan di sini lebih segar. Ikan, sayur, bahkan bumbu dapur gampang didapat,” kata Malik. Kondisi ini membuat masakan sehari-hari pun terasa hidup. 

Kekaguman saya pada kuliner Semarang seperti divalidasi oleh perantau yang sudah 10 tahun tinggal di sini. Namun, bagi orang yang baru pertama datang ke Semarang, first impression-nya juga demikian.

Salah satunya rekan sejawat saya, Aish (23), perempuan asal Surabaya yang kini menetap di Jogja. Untuk pertama kalinya ia datang ke Semarang. Kali ini karena tugas kantor.

Dan, kalau bicara soal kuliner, ia mengaku Semarang jauh lebih unggul ketimbang Jogja.

Saya pun jadi teringat kata-kata Malik, yang sempat berkomentar singkat: “Semarang nggak butuh embel-embel kota kuliner atau istimewa. Cukup datang dan coba sendiri.”

Saya cuma mengangguk. Setelah tiga hari mencicipi kuliner dari gunung sampai laut, saya paham maksudnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pertama Kali Coba Tahu Gimbal Khas Semarang, Dibuat Bingung dan Khawatir karena Pedagangnya yang Suka Iri-irian atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 Oktober 2025 oleh

Tags: JogjaKuliner Jogjakuliner semarangmakanan khas semarangpilihan redaksiSemarangwisata kuliner
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

alfamart 24 jam.MOJOK.CO
Ragam

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO
Ragam

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO
Ragam

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO
Kuliner

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
14 juta pekerja terima gaji di bawah UMP/UMK, sebagian besar dari kalangan lulusan perguruan tinggi (sarjana) MOJOK.CO

Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

9 Januari 2026
Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026
19 Tahun Gempa Jogja dan Teror di Bangsal Rumah Sakit MOJOK.CO

19 Tahun Setelah Gempa Besar Mengguncang, Ingatan akan Teror di Sebuah Rumah Sakit Besar di Jogja Datang Kembali

8 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.