Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

3 Kuliner Jawa yang Penemunya Harus Diucapin “Terima Kasih”: Simpel tapi Solutif, Jadi Alasan Orang Tak Mati Dulu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
16 Februari 2026
A A
Kuliner Jawa terbaik yang penemunya patut diberi ucapan terima kasih. Dari pecel hingga penyetan MOJOK.CO

Ilustrasi - Kuliner Jawa terbaik yang penemunya patut diberi ucapan terima kasih. Dari pecel hingga penyetan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

#2 Penyetan, kuliner Jawa yang simpel tapi nikmat dan solutif

Sementara Hanifa (26), perempuan asal Jawa Timur, mengaku ingin berterima kasih kepada penemu kuliner Jawa bernama “penyetan”. 

Sama seperti pecel, penyetan cukup mudah ditemukan di daerah-daerah lain. Entah penyetan khas daerah tertentu atau orang Jawa Timur merantau ke daerah lain untuk jualan kuliner tersebut. 

“Kalau menurutku, kuliner ini selalu jadi penyelamat di malam hari. Misalnya, di malam hari bingung mau makan apa, pilihan terakhir pasti jatuh ke penyetan. Solutif. Makanan simpel, tapi enak,” ungkap Hanifa. 

Menu dasar penyetan memang nasi hangat dan sambal halus. Lalu lauknya bisa bermacam-macam: ada lalapan berupa kubis, timun, terong, dan kemangi. Sementara untuk “ikannya” bisa milih sesuai selera: lele, telur, ayam, bebek, atau bahkan hanya sekadar tahu-tempe. 

Apapun lauknya, tetap masuk-masuk saja. Karena memang cita rasa utamanya berasal dari olahan sambalnya. 

Makanan rumahan jadi menu urban

Ini bagian yang tidak Hanifa sadari. Hanifa sebenarnya amat sering masak masakan simpel di kosannya kalau memang sedang malas makan di luar, tapi juga agak malas mengolah bahan di dapur. 

Maka, ia cukup menanak nasi, mengolah cabai-cabaian menjadi sambal, dan mendadar telur dan tempe. “Jadi aku mengira, ya ini inspirasinya dari penyetan di warung. Cuma minus nggak ada lalapan,” ucap Hanifa. 

Jika ditelisik, ternyata situasi awalnya sebenarnya terbalik. Mengutip sejarawan kuliner Fadly Rahman dalam bukunya Jejak Rasa Nusantara, penyetan sebenarnya hanyalah masakan rumahan biasa. Terutama di wilayah Arekan (Surabaya dan sekitarnya). 

Kata Fadly, kultur masyarakat di wilayah Arekan memang kurang afdal kalau makan tanpa sambal. Sambal wajib ada di meja makanan, entah sekadar pelengkap atau justru menjadi menu utama (sambelan). 

Sambelan kemudian berubah menjadi kuliner urban sejak medio 1980-1990-an, seiring dengan arus urbanisasi di Surabaya. Penyetan langsung menjadi kuliner jujukan bagi banyak pekerja urban. 

Ada tiga asumsi. Pertama, menjadi obat kangen atas masakan sederhana berupa sambelan di rumah. Kedua, menjadi makanan yang simpel dan mudah ditemukan di banyak sudut jalan hingga gang-gang perkampungan. Secara harga pun cenderung ramah kantong. Ketiga, mereka pun tidak akan takut tidak cocok dengan rasanya. Sebab, mereka hanya butuh makan dengan sambal. 

#3 Bakso mie ayam: makanan sejuta umat yang beri alasan untuk tetap hidup

Di atas pecel dan bakso, Hanifa, Faizal, dan dua responden lain yang saya mintai pendapat sepakat, bakso dan mie ayam memang menjadi kuliner puncak yang penemunya patut diberi ucapan terima kasih. 

Bakso dan mie ayam memang bukan kuliner khas Jawa. Sejumlah catatan gastronomi menyebutnya berasal dari Tiongkok. Namun, kuliner ini dinilai sangat berjasa terutama bagi masyarakat Jawa. 

Pertama, banyak orang-orang kabupaten di Jawa yang berprofesi sebagai pedagang bakso dan mie ayam di kota-kota besar. Salah satu yang terkenal adalah Wonogiri, sebuah daerah di Jawa Tengah yang kebanyakan warganya merantau sebagai pedagang bakso dan mie ayam. 

Iklan

Kedua, bakso dan mie ayam menjadi makanan cepat saji yang kerap menjadi alternatif jika seseorang tidak mood makan nasi. Di Jakarta, mie ayam bahkan menjadi salah satu menu sarapan. Pun apalagi jika cuaca dingin atau saat hujan, dua kuliner tersebut akan menjadi penghangat yang dicari-cari. 

Ketiga, bagi beberapa orang, bakso atau mie ayam bisa menjadi makanan pelarian yang membuat orang untuk tetap memiliki alasan untuk hidup meski tengah dihajar oleh nasib buruk, seperti dalam tulisan, “Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua”.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Cerita Satu-satunya Warung Kuliner Ekstrem di Jogja: Di Tangannya Segala Jenis Reptil Jadi Masakan Menggoda atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 16 Februari 2026 oleh

Tags: Kulinerkuliner jawakuliner jawa terbaikpecelpenyetanpilihan redaksisejarah pecelsejarah penyetan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Seorang kakak (anak perempuan pertama) kerja keras jadi tulang punggung keluarga gara-gara ortu miskin dan adik tidak tahu diri MOJOK.CO
Urban

Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik “Hama”, Tapi Tetap Dihina Keluarga

10 Maret 2026
Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran
Kuliner

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
lowongan kerja, kerja di kota, lebaran.MOJOK.CO
Catatan

Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong

10 Maret 2026
Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati di Cirebon.,MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati

9 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pertunjukan stand-up comedy Pertigapuluhan Priska Baru Segu akan hadir di Yogyakarta MOJOK.CO

Menertawakan Usia 30 Tahun Bersama Priska Baru Segu Lewat “Pertigapuluhan” di Yogyakarta

6 Maret 2026
Nelangsa pemuda desa saat teman sepantaran yang kerja di perantauan mudik ke desa (pulang kampung): tertekan dan tersisihkan MOJOK.CO

Nelangsa Pemuda Desa saat Teman Pulang dari Perantauan, Tertekan dan Tersisihkan karena Kesan Tertinggal tapi Tak Punya Banyak Pilihan

9 Maret 2026
Jogja macet saat mudik Lebaran

Sebagai Warlok, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja

9 Maret 2026
Lebaran.MOJOK.CO

Lebaran adalah Neraka bagi Pekerja Usia 30 tapi Belum Menikah, Sudah Mapan pun Tetap Kena Mental

8 Maret 2026
Pemuda Kediri Nekat kerja di luar negeri (Selandia Baru) sebagai Tukang Cukur. MOJOK.CO

Pemuda Kediri Nekat ke Selandia Baru sebagai Tukang Cukur usai Putus Cinta dan Ditolak Ratusan Lamaran Kerja

10 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.