Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
25 Agustus 2026
A A
14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand (Dokumentasi resmi Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bagi orang tua para anak yang berlaga untuk Garuda Pertiwi di final Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026, hasil tak terlalu penting untuk mereka. Berlaga di final sudahlah satu kebanggaan, yang akan dikenang untuk waktu yang begitu lama. Aris, Nia, Haripin, dan Diana, berbagi cerita tentang kebanggaan melihat anaknya berlaga membawa lambang Garuda di dada.

***

Iklan

Masih 5 jam sebelum final, tapi tribun Supersoccer Arena sudah begitu penuh. Pertandingan perebutan juara ketiga antara Jordan vs Malaysia dipenuhi penonton yang sorak sorai tiap pemain melakukan pergerakan menuju sepertiga akhir lapangan. antusiasme dan volume penonton sama rata untuk kedua tim. Ketika Jordan mencetak gol yang berakhir dianulir, kehebohan dan sorak kekecewaan rata terdengar.

Ketika Malaysia menyerang dan mengkonversi serangan mereka menjadi gol, riuh sama rata. Bedanya, mereka meneriakkan yel-yel “UPIN IPIN” beberapa kali. Ya, Malaysia menegaskan dominasi SEA di turnamen ini. Apa pun hasil final nanti, juara 1-2-3 dipegang oleh tim dari Asia Tenggara.

Dukungan penonton di tribun untuk kedua tim yang berlaga di perebutan juara ketiga memang heboh, tapi saat final, kehebohan tersebut jadi terlihat amat sepele. Sebab, di final, tuan rumah, Garuda Pertiwi, akan menantang hegemoni Thailand di dunia sepak bola Asia Tenggara.

Selain karena tuan rumah, ada faktor yang lebih kuat ketimbang tuan rumah, status unggulan, atau sistem terbaik, yaitu, dukungan dan doa orang tua, yang tak terputus dan terbatas waktu.

Nomor 10 yang jadi pembicaraan

Nafeeza Ayasha Nori (15) jadi pembicaraan selama gelaran menuju final. Absennya pemain nomor 10 tersebut di semifinal jadi perhatian khusus dari banyak pihak. Coach Timo (52) sendiri berkata bahwa absennya Nafe bikin ia harus mencari solusi dadakan dalam match.

“Kalau tadi Anda perhatikan, Anya (16 tahun) main di sayap, Anya main di tengah, Anya main di striker, mencari solusi untuk kebolongan yang ada karena Nafe cedera,” ujar Coach Timo.

Nafe memang salah satu pemain dengan kualitas yang mumpuni di Garuda Pertiwi. Ia salah satu pemain U-16 dengan jam terbang yang tinggi. Bermain di Portugal dan Filipina jadi contoh bahwa pengalaman menghadapi pemain dengan skill yang lebih baik, serta pressure yang beragam membuatnya jadi salah satu pemain kunci di Garuda Pertiwi.

Ketika namanya muncul dalam starting line-up, kekhawatiran akhirnya menguap dengan sendirinya. Tapi ada satu pertanyaan yang menarik: bagaimana orang tua Nafe mendukungnya dalam perjalanannya mengarungi dunia sepak bola?

Marseille roulette

Mojok berkesempatan mewawancarai orang tua Nafeeza Ayasha Nori, yang duduk di tribun khusus orang tua pemain. Aris (43), Nia (40), dan adiknya Nafe datang kompak mengenakan seragam timnas bernomor 10, sesuai dengan nomor punggung Nafe. Mereka sudah datang saat tribun masih relatif sepi, sembari melihat para punggawa Garuda Pertiwi dan Thailand melakukan pemanasan di lapangan.

“Semuanya diserahin ke PSSI, pelatih. Cuman sebagai orang tua kita bantu doa saja lah. Sama support dari jauh lah dan mengingatkan, kayak Fe, istirahatnya, terus kan makannya dikurangin, kayak dia suka roti kan, kurangin,” pungkas Aris dan Nia.

Sebagai salah satu pemain yang punya pengalaman paling banyak, seperti bermain di Portugal dan Filipina, serta meraih best player di Swedia dan Denmark, orang tua Nafe sudah tau bahwa tinggal memberikan motivasi dan mengingatkan Nafe untuk selalu konsisten dalam berusaha.

Orang tua dan adik Nafeeza Ayasha Nori.

Nafeeza Ayasha Nori pun masuk starting line-up Garuda Pertiwi. Ia tidak terlihat seperti pemain yang barusan cedera dan harus absen. Bahkan ia sempat melakukan Marseille roulette, mengecoh Thiritat Samrong (15), penyerang Thailand, dan bikin Thiritat harus menarik Nafe hingga jatuh.

Di sisi lain, ada Anya Gabriella Chandra (16), pemain yang sempat dijadikan Coach Timo untuk mengisi lubang yang ditinggalkan Nafe. Orang tuanya ada di sana, ikut menyaksikan anaknya menyisir sisi kiri pertahanan Thailand.

14.900 kilometer untuk Garuda Pertiwi

Haripin (48) dan Diana (48) duduk di tribun orang tua pemain di bagian atas, mendapat view yang lebih luas agar bisa menyaksikan Anya Gabriella Chandra yang diplot oleh Coach Timo untuk menjaga kelebaran, serta sesekali menusuk pertahanan, agar ada ruang untuk kawannya overlap di sisi kanan pertahanan lawan. Anya adalah salah satu pemain yang punya menit bermain terbanyak di skuat Garuda Pertiwi dengan 390 menit total waktu bermain menuju final.

Berlaganya Anya di final adalah kebanggaan terbesar bagi Haripin dan Chandra. Mekihat anaknya mengenakan jersey Tim Nasional Indonesia sudah memberikan mereka kebanggaan tak terkira. Tak mengagetkan jika mereka rela mengorbankan waktu dan dedikasi mereka untuk mendukung Anya.

“Pengorbanannya waktu, kita harus dedikasi untuk support untuk Anya. Untuk latihan, harus diantar latihan, harus disupport kalau mau main games itu tiap hari harus latihan,” ucap Diana.

Iklan

“Pagi, latihan jam 6-7, terus pulang sekolah, latihan lagi. Jadi satu minggu kita 20 jam lah di jalanan,” tambah Haripin.

Orang tua Anya harus merelakan anaknya berpisah selama 3 minggu, untuk turnamen ini. Haripin berdomisili di San Diego, Amerika Serikat. Jadi perkara dedikasi, perkara dukungan, tentu mereka sudah membuktikannya dengan berada di Supersoccer Arena, Kudus, yang berjarak 14.900 kilometer jauhnya dari San Diego.

Haripin (berkaca mata) dan Diana, orang tua Anya Gabriella Chandra

Berlaga di final tentu memberikan ekspektasi tersendiri bagi semua yang terlibat. Penonton ingin melihat tim yang didukung menang. Pelatih ingin pemainnya berlaga secara maksimal. Lalu, bagaimana dengan orang tua pemain? Bagaimana jika kalah?

Apa pun hasil yang Garuda Pertiwi raih, mereka bangga

“Jadi, anak jangan dilatih untuk terus menang. Kalah, menang, cedera, jadi cadangan, itu harus bisa dilewati. Karena itu sebagai pembentukan mental dan karakter.”

Aris dan Nia, orang tua Nafeeza Ayasha Nori menjawab dengan tegas bahwa jika anaknya kalah, tidak akan kecewa. Kekalahan harus bisa dilewati, karena ini penting untuk jadi pembentukan karakter ke depannya.

Hal serupa juga diutarakan oleh Haripin dan Diana, orang tua Anya Gabriella Chandra, kalah pun tak masalah.

“Saya sudah bangga, bangga sekali. Anak saya duduk di sana saja sudah bangga, apalagi main,” ucap Haripin. Diana menambahkan, “Yang saya lihat, Anya sejak 3 minggu saja, dari sejak kita drop di TC sampai hari ini, dia sudah berkembang jauh. Jadi kita nggak ekspektasi semua harus menang, yang paling menonjol, apa pun. Kita maunya dia main jadi supportive, dan Tim Indonesia (meraih hasil) yang terbaik.”

Bagaimana 10 tahun ke depan?

Sebagai penutup, tim dari Mojok menanyakan apakah mereka bisa melihat anaknya berlaga di Piala Dunia Putri sepuluh tahun ke depan. Aris dan Nia, orang tua Nafeeza Ayasha Nori, menjawab inshaallah bisa. Nia menambahkan, “Sebelumnya anaknya juga sudah main di Eropa untuk kelompok usia, ya mudah-mudahan di 10 tahun kemudian, inshaallah, mudah-mudahan.”

Haripin dan Diana, orang tua Anya Gabriella Chandra menjawab secara kompak, aamiin. Haripin menambahkan, “Saya juga bangga, cuman terakhirnya terserah anaknya. Kita sebagai orang tua kita support, kalau Anya mau nerusin, kita support.”

***

Usaha Anya dan Nafe malam itu belum sesuai dengan keinginan. Garuda Pertiwi harus mengakui keunggulan Thailand, yang sudah 3 dekade memahat pemainnya dengan latihan, pembinaan yang sistematis, serta sejarah yang panjang. Tapi perlu diingat, malam itu, Thailand dibuat frustrasi hingga harus melakukan 19 kali fouls, dan hanya meraih 49 persen ball possessions. Tidak ada yang bisa meragukan, bahwa beberapa tahun ke depan, Anya dan Nafe bisa jadi pilar yang membuat dominasi Thailand di ASEAN runtuh, dan menjadi penguasa baru.

Malam itu, “Tanah Airku” bergemuruh, dinyanyikan oleh para pendukung yang memadati tribun Supersoccer Arena. Hasil mungkin sedikit pahit, tapi bagi Aris, Nia, Haripin, dan Diana, melihat seribu lebih manusia menyanyikan “Tanah Airku” untuk anak-anaknya bisa jadi momen paling membanggakan dalam hidup mereka, dan akan terngiang selama, 10, 20, tahun ke depan.

Srikandi Merdeka Cup 2026 merupakan turnamen sepak bola putri kelompok usia U-16 yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation. Edisi tahun ini diikuti Timnas Putri U-16 Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapore, Hong Kong, Saudi Arabia, dan Jordan.

BACA JUGA: Srikandi Merdeka Cup: Turnamen Sepak Bola Putri U-16 Level Internasional di Kudus, Momentum Unjuk Kualitas Timnas

Terakhir diperbarui pada 25 Agustus 2026 oleh

Tags: Anya Gabriella ChandraCaffino Srikandi Merdeka Cup 2026garuda pertiwiNafeeza Ayasha Norithailand
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

24 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026
Perjalanan biksu Thudong dari Thailand ke Candi Borobudur. MOJOK.CO

Cerita Seorang Muslim Ikut Menyambut Biksu Thudong di Candi Borobudur, Seperti Melihat Kyai Melaksanakan Ibadah Haji

15 Mei 2025
Mendengar Alasan Para Perempuan Belajar Muay Thai: Lebih Efektif Buat Bela Diri, Tanpa Perlu Gimik Tenaga Dalam Khodam.MOJOK.CO

Mendengar Alasan Para Perempuan Belajar Muay Thai: Lebih Efektif Buat Bela Diri, Tanpa Perlu Gimik Tenaga Dalam Khodam

7 Agustus 2024
Liburan Gaib, Teror di Thailand Berlanjut Tangis di Jogja MOJOK.CO

Liburan Gaib, Teror di Thailand Berlanjut Tangis di Jogja

14 Juli 2022
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak-Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu MOJOK.CO

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu

24 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.