Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Trotoar UINSA Surabaya Jadi Tempat Pacaran dan Ngumpul Mahasiswa, Meresahkan tapi Membantu Keuangan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
15 Januari 2025
A A
Trotoar UINSA Surabaya jadi tempat ngumpul mahasiswa MOJOK.CO

Ilustrasi - Trotoar UINSA Surabaya jadi tempat ngumpul mahasiswa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Trotoar depan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya di Jalan Ahmad Yani nyaris selalu ramai tiap malam. Hanya sunyi, mungkin, jika sedang hujan saja.

Pemandangan itu sempat membuat saya agak kaget. Fenomena apa ini? Sementara di masa saya kuliah dulu (2017-2021), trotoar UINSA Surabaya tidak lebih dari sekadar trotoar. Tempat pejalan kaki—baik mahasiswa maupun orang sekitar—berlalu-lalang.

Di masa saya kuliah dulu, suasana riuh hanya terlihat di gerbang masuk dan gerbang keluar, sebagai akses masuk-keluar mahasiswa dan civitas UINSA Surabaya. Sisanya adalah beberapa pedagang yang menanti pembeli: pentol, batagor, siomay, rujak, es teh, pedagang buah potong keliling, dan lain-lain.

Bermula dari pandemi?

Saat awal pandemi 2020, saya sempat meninggalkan Surabaya agak lama. Toh tidak ada aktivitas perkuliahan di kampus.

Saya kembali dan tinggal lagi di Surabaya pada 2021. Mengurus sidang skripsi, wisuda, lalu lanjut bekerja. Dari situlah kekagetan saya bermula.

Bagaimana pun, frontage Ahmad Yani depan UINSA adalah perlintasan yang sering saya lewati. Nyaris setiap malam di 2021 itu, saya mendapati sejumlah mahasiswa duduk-duduk di trotoar UINSA.

Ada yang berdua dengan pasangan, berdua dengan teman dekat, ada pula sekelompok kecil yang melingkar (mungkin dari kalangan komunitas atau anak organisasi). Kesemuanya duduk ngemper di trotoar. Bukan di kursi besi yang tersebar di beberapa titik depan UINSA Surabaya.

Sementara saat saya masih jadi mahasiswa dulu, hanya ada satu-dua mahasiswa yang tampak duduk. Itu pun pasti di kursi besi tersebut. Jika kursi besinya penuh, maka tidak ada yang nekat duduk ngemper di trotoar.

Waktu itu saya sempat mengonfirmasi kepada beberapa teman. Penggunaan trotoar depan kampus sebagai titik kumpul adalah imbas dari pembatasan akses aktivitas di dalam kampus. Wajar saja, masih pandemi.

Terlebih, aktivitas di sekretariat organisasi pun juga dibatasi. Sehingga, trotoar depan kampus jadi solusi.

Mahasiswa UINSA Surabaya kena nyinyir mahasiswa kampus lain

Seiring waktu, apalagi setelah pandemi benar-benar mereda, makin banyak mahasiswa yang menggunakan trotoar depan UINSA Surabaya sebagai titik kumpul.

Seiring waktu pula, akhirnya muncul gejolak dari kalangan mahasiswa UINSA sendiri: merasa resah dengan penggunaan trotoar tersebut sebagai tempat ngumpul-ngumpul hingga tampak penuh sesak.

Satu di antara yang meresahkan adalah Huzaira (nama asli disamarkan demi kenyamanan narasumber). Perempuan 23 tahun sekaligus mahasiswa semester akhir itu awalnya biasa saja dengan fenomena penggunaan trotoar UINSA Surabaya sebagi titik kumpul.

Akan tetapi, lama-lama dia merasa resah lantaran mendapat sentilan dari teman-temannya dari kampus lain Surabaya.

Iklan

“Misalnya ada yang bilang, “Mahasiswa kampus Islam, tapi ada yang pacaran di depan kampus”. Tapi ya benar juga kata temenku,” katanya kepada Mojok, Selasa (14/1/2025).

Menurut si teman Huzaira, persoalannya trotoar depan UINSA itu kan jalur perlintasan yang sangat ramai. Masa tidak ada rasa riskan jika jadi perhatian banyak orang?

Termasuk teman Huzaira sendiri yang kalau melintas menilainya tidak patut. Mengingat, label UIN harusnya membuat mahasiswanya memberi contoh perihal moralitas dan relijiusitas.

Berduaan hingga tengah malam

“Aku sempat membantah. Loh, itu kan ramai, to. Bukan berduaan saja. Dan justru karena ramai, pacarannya nggak aneh-aneh. Tapi temanku punya bantahan yang nggak kalah masuk akal,” beber Huzaira.

Temannya mengatakan, sudah beberapa kali melihat, di tengah keramaian itu, ada saja sepasang laki-laki perempuan yang tidak sekadar ngobrol biasa. Tapi tampak saling mesra.

Di titik itu, Huzaira tidak bisa memberi bantahan lagi. Apalagi dia sendiri juga beberapa kali melihat ada saja sepasang muda-mudi yang duduk di trotoar depan UINSA Surabaya hingga menjelang tengah malam.

“Pada dasarnya aku nggak masalah. Itu hak. Toh nggak ada larangan dari kampus. Tapi kalau mahasiswa kampus lain aja meresahkan, aku kan jadi resah juga,” ucap Huzaira.

Mengganggu pejalan kaki

Fungsi utama trotoar adalah untuk memfasilitasi pejalan kaki. Sementara itu yang Salsabil (22) tekankan.

Salsabil tidak begitu meresahkan persoalan moralitas dan rilijiusitas seperti yang Huzaira singgung. Baginya, itu urusan masing-masing. Dia tidak punya hak apapun untuk menghakimi.

Dia hanya menggarisbawahi kenyamanan pejalan kaki di trotoar UINSA Surabaya.

“Karena memang nyaris penuh di sepanjang trotoar. Jadi pejalan kaki seperti aku kan susah. Kalau mau jalan akhirnya jalan di pinggir frontage,” keluh Salsabil.

“Itu juga nggak nyaman, karena kalau sudah di frontage, maka harus berhadapan dengan kendaraan-kendaraan. Apalagi di situ sering banget ada yang lawan arah,” sambungnya.

Menurutnya, bagaimana jika mahasiswa yang menggunakan trotoar depan UINSA Surabaya untuk kumpul-kumpul itu tertib? Bikin perkumpulannya di pinggir sekali, dekat pagar pembatas kampus.

Dengan begitu, area tengah masih bisa dilewati dengan leluasa oleh pejalan kaki. Akhirnya jadi sama-sama nyaman.

Kampus tidak menyediakan ruang publik

Sedangkan Abrar (23) memiliki pandangan yang berbeda sama sekali dari dua mahassiwa UINSA Surabaya di atas.

“Pertama begini, ada nggak berita-berita miring soal hal nggak senonoh di depan trotoar kampus? Nggak ada kan? Sebab, memang hanya sebagai titik kumpul. Salahnya di mana?”.

Malah seharusnya, penggunaan trotoar sebagai titik kumpul bisa mengusik nalar kritis para mahasiswa, perihal ketidakmampuan pihak kampus dalam menyediakan ruang terbuka/ruang publik bagi mahasiswanya.

UINSA Surabaya, kata Abrar, tak seluas kampus-kampus besar lain di Surabaya. Jadi wajar saja jika ruang kumpul bagi mahasiswa sangat terbatas.

“Ada titik kumpul lain, warung kopi. Tapi di sekitar UINSA, tidak banyak warung kopi dengan ruang cukup luas untuk menampung perkumpulan mahasiswa. Terutama yang rapat atau diskusi,” bebernya.

Bagi Abrar, seandainya pihak kampus memberikan fasilitas ruang publik tersebut, rasa-rasanya mahasiswa tidak akan keleleran di trotoar.

Trotoar UINSA Surabaya jadi “ladang rezeki”

Lebih dari itu, Abrar mencoba mengajak orang-orang yang nyinyir dengan mahasiswa yang ngumpul di trotoar UINSA Surabaya dari sudut pandang lain.

“Ada banyak pedagang, khususnya starling (kopi keliling), yang bisa menyambung hidup dari situ. Semakin banyak yang ngumpul, semakin besar harapan mereka untuk mendapat rupiah,” kata Abrar.

Bahkan, Abrar tahu, ada beberapa mahasiswa UINSA Surabaya yang ikut berdagang di trotoar tersebut.

“Mereka kuliah tanpa biaya orang tua. Cari uang sendiri. Kumpulan mahasiswa di trotoar itu seolah menjadi ladang rezeki kan akhirnya. Cobalah berpikir sampai situ. Jangan hanya menghakimi,” tegas Abrar.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Dominasi Ormek di Unair dan UINSA Surabaya Bikin Mahasiswa Muak, Bagi-Bagi Kursi Sampai Nilep Duit Organisasi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 Januari 2026 oleh

Tags: jalan ahmad yanikampus surabayaSurabayatrotoar uinsaUINSAuinsa surabayauniversitas di surabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO
Edumojok

Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP

7 Februari 2026
Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO
Urban

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
Ribuan istri di Surabaya minta cerai. MOJOK.CO
Ragam

Perempuan Surabaya Beramai-ramai Ceraikan Suami, karena Cinta Tak Lagi Cukup Membayar Tagihan Hidup

30 Januari 2026
Kesedihan perantau yang merantau lama di Surabaya dan Jakarta. Perantauan terasa sia-sia karena gagal menghidupi orang tua MOJOK.CO
Ragam

Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua

29 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO

Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

4 Februari 2026
Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026
Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026
Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumatera Selatan menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun ke-42 sebagai momentum strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif dan kolaboratif MOJOK.CO

BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

7 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.