Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

“Ibu Jualan Balon, Saya Jualan Donat” – Upaya Keras Perempuan Surabaya Wujudkan Mimpi meski Diremehkan Guru hingga Saudara Sendiri

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
21 Februari 2025
A A
wisuda, tuli.MOJOK.CO

Ilustrasi - Mahasiswa Wisuda (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Perasaan Aida Mahmudah (21) campur aduk saat prosesi wisuda di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Senin (17/2/2025). Antara lega karena dia bisa menuntaskan kuliahnya usai rentetan masa-masa sulit, juga kecamuk rasa sedih karena kedua orangtuanya tidak bisa lagi menemani.

Usai mengikuti wisuda di UM Surabaya, Aida sempat ziarah ke makam kedua orangtuanya. Masih mengenakan toga dan baju wisuda. Aida ingin memberi kabar baik pada orangtuanya di pembaringan terakhir mereka: bahwa Aida berhasil menuntaskan harapan mereka.

“Pesan dari orangtua dulu, kita boleh miskin keuangan, tapi tidak dengan miskin pendidikan. Pendidikan itu penting yang akan menarik keuangan kelak,” ungkap Aida mengenang ucapan kedua orangtuanya yang semasa hidup terus mendorong Aida untuk tetap sekolah.

“Sekarang walau kamu sakit, ibu sakit, ayah sakit, atau meninggal, tapi sewaktu itu kamu sekolah, berangkat lah, jangan sampai nggak masuk sekolah.” Begitu lah baris kalimat dari almarhumah sang ibu yang terus terngiang. Baris kalimat yang membuat Aida tak punya alasan untuk berhenti dalam pendidikan, kendati situasinya teramat berat.

Perjuangan Aida Mahmudah (21) kuliah di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya MOJOK.CO
Aida Mahmudah (21) saat prosesi wisuda Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Sejak SD sering puasa karena kesulitan ekonomi

Aida adalah wisudawati UM Surabaya asal Kenjeran, Surabaya. Dia anak terakhir dari lima bersaudara. Kakak-kakaknya kini sudah berkeluarga.

Semula kondisi ekonomi keluarganya baik-baik saja. Hingga akhirnya, ketika dia kelas 6 SD, sang ayah mengalami stroke.

“Waktu itu kondisinya sulit sekali, karena bukan hanya diuji sakitnya orangtua. Semenjak ayah masuk RS, dulu nggak ada namanya BPJS,  jadi bayar kalau ke rumah sakit. Jadinya semua (aset) dijual, seperti mobil, motor, hingga tanah,” ungkapnya bercerita kepada Mojok, Selasa (18/2/2025).

Stroke membuat sang ayah tidak bisa bekerja lagi. Alhasil, tanggungjawab mencari nafkah saat itu diambilalih oleh sang ibu dengan jualan balon. Sang ibu biasanya akan jualan keliling dari pukul 06.00 WIB dan baru akan pulang di pukul 23.00 WIB.

Kata Aida, ibunya menjual balon di harga Rp3 ribu. Kalau ramai, ibunya bisa membawa pulang Rp50 ribu sehari. Namun, kalau sepi, mentok biasanya hanya dapat Rp15 ribu. Jelas sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Terkadang untuk makan juga sulit, sehingga akhirnya sering berpuasa untuk menahan lapar dan agar mendapat pahala juga,” ungkap Aida.

Aida sendiri tidak tinggal diam. Di usianya yang masih enam tahun, diam-diam dia bekerja di sebuah pasar di Kenjeran, Surabaya. Menjaga toko pakaian.

Karena ibunya baru akan pulang larut malam, maka tugas mengurus sang ayah di rumah pun dia ambil. Pagi diurus oleh sang ibu, malam bagian Aida yang mengurus.

“Malam setelah memandikan ayah dan menyuapinya makan, saya keliling jualan juga,” katanya.

Teman, tetangga, guru, dan saudara yang mengerdilkan cita-cita Aida

Seperti disinggung di awal tulisan, meski dalam keterbatasan, tapi orangtua Adia benar-benar mendorongnya dalam hal pendidikan. Tak pelak jika Aida juga punya cita-cita bisa lanjut pendidikan hingga perguruan tinggi.

Iklan

Namun, banyak orang yang mengerdilkan cita-cita Aida. Teman, tetangga, guru, bahkan saudara sendiri. Kurang lebih begini: orang seperti Aida, mimpi bisa kuliah itu kejauhan.

“Gara-gara di-bully teman dan guru, saya pulang sekolah menangis kepada ibu dan ayah. Waktu itu ibu bilang, ‘Ya pantas kamu diomongi gitu, wong kamu aja gampang nyerah! Kalau omongan itu kepadamu nggak pantas, ya harus buktikan sama prestasimu’,” beber Aida.

Suntikan moral tersebut nyata-nyata membuat Aida memberi sederet pembuktian prestasi. Dia selalu langganan juara kelas.

Nyaris tak bisa wujudkan kuliah di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya

Jauh sebelum akhirnya kuliah di UM Surabaya, Aida nyaris putus sekolah setelah lulus SD. Kondisi ekonomi keluarganya tidak membaik.

Syukurnya, Aida bisa sekolah di sebuah yayasan panti asuhan di Surabaya. Itu membuatnya lebih ringan. Dia sekolah di yayasan tersebut dari SMP hingga SMK, sebelum akhirnya bisa kuliah di UM Surabaya mengambil jurusan Teknik Elektro dengan beasiswa KIP Kuliah.

“Semasa SMK juga nabung buat tambah-tambah biaya kuliah,” katanya.

Aida menjadi satu-satunya perempuan di jurusan Teknik Elektro. Kendati begitu, tidak ada rasa gentar. Yang ada justru motivasi untuk mengoptimalkan diri.

“Di SMK saya juga mempelajari terkait robotik. Jadi saya ingin mempelajarinya di prodi ini,” tuturnya. Terlebih, di era sekarang, teknologi tidak lepas dari kehidupan manusia. Oleh karena itu, Aida melihat kalau prospek Teknik Elektro sangat menjanjikan untuk masa depannya.

Kuliah di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya sambil jualan donat

Kondisi rumah Aida kian memburuk saat dia memasuki semester 3 masa kuliahnya di UM Surabaya. Ayahnya meninggal.

Setahun berselang, ibunya menyusul karena penyakit darah rendah. Aida, lantas tinggal sendirian di rumah.

Perjuangannya pun makin keras. Untuk mencukupi kehidupannya, Aida kuliah sambil jualan mainan anak di marketplace dan donat yang diberi nama “Tatakies”. Dia menjualnya di ShopeeFood. Selain itu, Aida juga nyambi bantu-bantu di yayasan panti asuhan.

Produktif dalam keterbatasan

Meski harus kuliah sambil bekerja, Aida masih sempat-sempatnya menggarap kesibukan lain di UM Surabaya. Dia gabung di organisasi-organisasi kampus seperti IMM, HIMA, UKM, dan lain-lain.

Banyak perlombaan dia ikuti, yang membuatnya tercatat sebagai salah satu mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah berprestasi. Prestasi-prestasinya antara lain:

1. Juara 1 Lomba puisi MTK tahun 2022
2. Juara 1 Lomba puisi Islamic short story tahun 2022
3. Juara 1 Poster tema islami tahun 2022
4. Juara 1 Electrical Orientation tahun 2021
5. Juara 1 puisi english Ramadhan 2021
6. Finalis PIM (Program Inovasi Mahasiswa) Sistem Diagnosa Buta Warna berbasis mikrokontroler dengan metode ishihara tahun 2023
7. Juara 3 PKP2 PTMA KE 1 PKM KC Tahun 2023
8. Juara 3 PIMTANAS PTMA tahun 2023
9. Juara 1 Pemuda pelopor Surabaya bidang inovasi Teknologi tahun 2024
10. 5 besar bidang inovasi teknologi PEMKOT Surabaya hari jadi kota Surabaya ke 731 tahun 2024

Salah satu prestasi yang mencolok adalah keberhasilannya menciptakan Rancang Bangun Alat Prototipe Untuk Kursi Roda Pada Penderita Penyandang Disabilitas Fisik Berbasis Panel Surya Dan Internet Of Things (IoT) yang telah disumbangkan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Berkatnya, Aida dinobatkan Juara 1 Pemuda pelopor Surabaya bidang inovasi Teknologi tahun 2024.

“Sebenarnya ingin buat ayah saya karena dulu sakit stroke, agar bisa saya ajak jalan-jalan, nggak di kamar saja. Tetapi Allah berkata lain,” ungkap Aida. Meski begitu, dia berharap temuannya tersebut bisa bermanfaat bagi orang lain.

Jalan menuju S2

Aida lulus dari Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya sebagai salah satu wisudawati terbaik dari Fakultas Teknik.

Aida membayangkan, seaindanya kedua orangtuanya masih ada, barang kali mereka sudah duduk bangga melihatnya naik panggung wisuda dengan segala pencapaian tersebut. Ah, Aida hanya bisa menunjukkannya di hadapan pusara.

Langkah Aida masih belum berhenti. Dia masih ingin lanjut S2. Masih ada mimpi-mimpi yang ingin dia wujudkan. Baginya, mimpi-mimpi itu tidak ada yang mustahil.

“Pertolongan Allah bisa datang lewat siapa saja, asal seseorang itu tekun dan bersungguh-sungguh, pasti akan ada jalan keluarnya,” pungkasnya penuh haru.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Perjuangan Satpam Kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya, Lulus Sarjana dengan Pujian atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 21 Februari 2025 oleh

Tags: kip kuliahum surabayauniversitas muhammadiyah surabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah PTN Surabaya pertama kali makan di restoran All You Can Eat (AYCE): norak, mabuk daging, hingga sedih karena hanya beri kenikmatan sesaat MOJOK.CO
Kuliner

Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

6 Februari 2026
Didikan bapak penjual es teh antar anak jadi sarjana pertama keluarga dan jadi lulusan terbaik Ilmu Komunikasi UNY lewat beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO
Kampus

Didikan Bapak Penjual Es Teh untuk Anak yang Kuliah di UNY, Jadi Lulusan dengan IPK Tertinggi

29 Desember 2025
Sirilus Siko (24). Jadi kurir JNE di Surabaya, dapat beasiswa kuliah kampus swasta, dan mengejar mimpi menjadi pemain sepak bola amputasi MOJOK.CO
Sosok

Hanya Punya 1 Kaki, Jadi Kurir JNE untuk Hidup Mandiri hingga Bisa Kuliah dan Jadi Atlet Berprestasi

16 Desember 2025
Kisah mahassiwa beasiswa KIP Kuliah Aliya Eka Lestiyanti, ibu meninggal kala ia masih berjuang, sampai akhirnya jadi harapan keluarga usai jadi sarjana cumlaude MOJOK.CO
Kampus

Ibu Meninggal kala Saya Masih Berjuang, Jadi Titik Terendah Hidup tapi Bangkit demi Jadi Sarjana Pertama Keluarga

3 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

bencana.MOJOK.CO

Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana

4 Februari 2026
Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO

Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP

7 Februari 2026
Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026
blok m jakarta selatan.mojok.co

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
Pertama kali makan donat J.CO langsung nangis MOJOK.CO

Orang Berkantong Tipis Pertama Kali Makan Donat J.CO, Dari Sinis Berujung Nangis

3 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.