Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Uang KIP Kuliah Ludes buat Ngutangi Orangtua hingga Nebus Kakak di Penjara, Buatku Ingin Pergi Jauh dan Tak Pulang-pulang

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
19 Februari 2025
A A
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Ilustrasi - KIP Kuliah (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menerima uang beasiswa KIP Kuliah seharusnya menjadi kelegaan bagi Ando (21), bukan nama sebenarnya, seorang mahasiswa di sebuah universitas negeri di Surabaya. Sebab, bayangannya, dia bisa membiayai kuliah dan hidupnya sendiri dari uang tersebut. Namun, nyatanya tidak demikian.

***

Iklan

Kalau hisapan rokoknya sudah dalam. Apalagi kalau sudah nyepur (nyambung terus berbatang-batang), mesti ada situasi atau kabar tak menyenangkan dari rumah.

“Nggak ikut berbuat, tapi harus ikut bertanggung jawab,” begitu Ando menggambarkan posisi dirinya.

Untuk gambaran umumnya, posisi Ando kurang lebih mirip dengan posisi Kaluna dalam novel dan film Home Sweet Loan.

Jalan terjal untuk kuliah di universitas Surabaya

Ando anak terakhir dari tiga bersaudara. Jalan Ando untuk kuliah benar-benar tidak mudah. Pasalnya, orangtua dan kedua kakaknya sempat tidak setuju kalau dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Sejak SMA di Nganjuk, Jawa Timur, Ando sudah mengincar kuliah di sebuah universitas negeri di Surabaya. Maka, meski tidak mendapat persetujuan, Ando tetap bertekad untuk kuliah di sana.

“Mereka khawatir aku akan membebani mereka. Karena dalam benak mereka, kuliah itu butuh biaya besar,” ungkapnya membagi ceritanya kepada Mojok, Oktober 2024 lalu.

Waktu itu, Ando tak mau banyak menjelaskan terlebih dulu. Dia mencoba mendaftar beasiswa KIP Kuliah. Jika keterima, Ando akan lanjut kuliah. Tapi kalau tidak, dia sudah mempersiapkan opsi untuk bekerja.

“Ternyata keterima. Baru kujelaskan ke mereka. Karena aku nggak bakal minta biaya sepeser pun dari mereka, akhirnya mereka tidak punya alasan untuk tidak setuju dengan mimpiku,” tutur Ando.

Tak bisa menikmati uang KIP Kuliah

Pada 2021, Ando mulai merantau ke Surabaya. Menjadi mahasiswa.

Awalnya, dia membayangkan bisa memanajemen uang dari KIP Kuliah dengan sebaik-baiknya. Menyisihkan sebagian untuk membeli hal-hal yang dulu ingin dia miliki tapi tak terbeli, seperti laptop, smartphone, dan lain-lain.

“Ternyata nggak begitu. Uangku sebagian banyak lari ke rumah,” terang Ando.

Sebab, setiap di rumahnya ada kekurangan biaya, maka orangtuanya akan menghutang uang dari Ando.

Iklan

Sebenarnya dua kakak Ando sudah bekerja. Dari kedua kakak Ando, baginya, kakak pertamanya lah yang punya kepedulian besar untuk membantu kebutuhan rumah. Hanya saja, gaji kerjanya di Nganjuk tidak mencukupi. Terlalu kecil.

Sementara pekerjaan kakak keduanya serabutan. Tidak menentu. Malah lebih banyak nganggurnya. Alhasil, kakak kedua Ando masih sering minta uang ke orangtua.

“Aku udah nggak pernah minta uang lagi,” kata Ando.

“Kalau uang sudah diutang oleh orang rumah, ya mau nggak mau aku harus hidup prihatin di Surabaya. Nyari makan paling murah. Rokok beli yang ilegal. Bahkan sering makan sehari sekali untuk mensiasati agar uangku cukup,” sambung mahasiswa di sebuah universitas di Surabaya tersebut.

Kehabisan uang? Sudah tak terhitung. Dengan begitu, solusi Ando adalah utang ke beberapa teman baiknya.

Uang KIP Kuliah untuk nebus kakak di penjara

Situasi itu sebenarnya membuat Ando kesal. Maklum saja. Dulu dia mau kuliah sempat “dihalangi” karena ditakutkan jadi beban.

Kini ketika dia bisa kuliah dengan usaha sendiri, eh malah orang-orang rumahnya yang rasanya membebani dan nyerimpeti (merecoki) hidup Ando.

Namun, rasa kesal itu selalu bisa Ando atasi. Jika dia, sebagai anak bungsu, harus mengambil tanggung jawab itu, tidak masalah. Itu malah jadi pembuktian bagi Ando kalau dia bisa berguna.

Akan tetapi, ada dua momen yang membuatnya memendam amarah luar biasa. Dia sampai tidak bisa berkata-kata.

“2023, waktu aku semester 5, kakak keduaku terlibat mukuli orang. Dia ditahan. Ibu menelponku. Nggak cuma mengabari, tapi juga minta bantuan. Utang sebagian uang KIP Kuliah-ku buat nebus agar kakakku bebas.” Saat bercerita bagian ini, tampak betul Ando memendam amarah. Dia berkali-kali menghela nafas berat.

Pulang yang tak menyenangkan

Sialnya, kejadian serupa diulangi lagi oleh kakak keduanya pada pertengahan 2024.

Suatu hari di pertengahan 2024, Ando pulang untuk sekadar mengingatkan kalau dirinya masih punya keluarga yang utuh. Namun, dia malah menyesali keputusannya untuk pulang tersebut.

“Kakakku ditahan di kantor polisi lagi. Karena jadi kurir pil koplo. Kakakku ngomongnya dijebak. Entah betul atau nggak. Bagiku, ya bebal dan goblok aja dia. Dua kali, loh,” ujar Ando dengan dengus kesal.

Ando sebenarnya nyaris tidak mau peduli. Mendengar kabar itu, dia malah bersiap untuk langsung pergi dari rumah. Tapi ibunya memelas, meminta bantuan Ando, agar Ando merelakan sebagian uang KIP Kuliah-nya untuk menebus sang kakak. Karena angka tebusannya lumayan besar untuk ukuran keluarganya.

“Kakak keduaku itu entah kenapa jadi kesayangan ibuku. Padahal beban. Tapi ya sudah, aku nggak tega dengan ibuku. Kukasih sebagian uangku,” terang Ando.

Hari-hari setelahnya, pulang menjadi sesuatu yang akhirnya Ando hindari. Alasan terkuatnya, dia tak mau bersinggungan atau sekadar bertatap wajah dengan kakak keduanya.

Sesekali jika Ando pulang, sang kakak memang tampak mencoba akrab dengan Ando. Mungkin karena diselimuti rasa berutang budi pada Ando. Akan tetapi, Ando bergeming. Merespons sekadarnya. Sebab, Ando tahu, karena sudah terlanjur dimanja oleh ibunya, kakak keduanya sulit untuk berubah.

Pergi yang jauh, jangan sering pulang

Di penghujung 2024, Ando baru saja mengumpulkan uang dari proyek yang dia ikuti. Ditambah cairan uang KIP Kuliah. Dengan kata lain, Ando sedang pegang banyak uang.

Ando lantas menyusun beberapa list barang yang pengin dia beli. Sayangnya, list itu buyar seketika ketika dia menerima telepon dari ibunya.

“Kakakmu (kakak kedua Ando) akan lamaran, lalu menikah…,” pada bagian ketika sang ibu mengabarkan hal tersebut, Ando sudah menebak arahnya: Ando akan turut ambil bagian dalam mendanai lamaran hingga pernikahan sang kakak.

“Entah sampai kapan ibuku akan terus memanjakannya. Sementara dia, kakak keduaku, kerja saja nggak jelas. Nggak punya ijazah. Dulu sekolah cuma sampai SMP. Disuruh sampai SMA nggak mau,” gerutu Ando.

Lamaran sudah berlangsung. Kini tinggal menunggu hari pernikahan. Ando masih akan membantu biayanya. Hanya saja, dia mulai berpikir untuk lekas merampungkan kuliahnya di sebuah universitas Surabaya.

Setelahnya, Ando ingin pergi sejauh-jauhnya untuk mencari kerja. Pergi yang jauh, dan jangan sering pulang (plesetan dari film Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang).

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Teganya Mahasiswa KIP Kuliah di Kampus Surabaya, Setelah Bisa Hidup Hedon Malah Telantarkan Bapak Ibu yang Miskin, Balas Dendam karena Dulu Minta Apa-Apa Tak Pernah Dituruti atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 19 Februari 2025 oleh

Tags: kip kuliahSurabayauniversitas di surabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO
Urban

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

7 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO
Urban

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder MOJOK.CO
Esai

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder

31 Juli 2026
Anak penjual tahu kuliah di ITB. MOJOK.CO
Sekolahan

Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB

27 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Pergantian Buku Pelajaran sebagai Proyek Politik Tahunan 

10 Agustus 2026
Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren MOJOK.CO

Andai Ormas Lain seperti Yakuza Maneges Kediri: Dulu Dihina tapi Buktikan Sangat Berguna

5 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Malaysia dekat ke gerbang negara maju. Indonesia negara apa? (Unsplash)

Malaysia kian dekat ke gerbang negara maju, kalau Indonesia makin dekat ke gerbang apa bes?

4 Agustus 2026
Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman meluncurkan aplikasi Gandheng ATS untuk atasi masalah anak putus sekolah MOJOK.CO

Sleman Punya Aplikasi Pencegahan Dini Anak Tidak Sekolah

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.