Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Sesal Mahasiswa Jateng Melepas UNY Demi Masuk Keperawatan: Kuliahnya ‘Mencekam’, Pas Kerja pun Diperas Keringatnya dengan Gaji Underpaid

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
24 April 2024
A A
Sesal Mahasiswa Jateng Melepas UNY Demi Masuk Keperawatan: Kuliahnya 'Mencekam', Pas Kerja pun Diperas Keringatnya dengan Gaji Underpaid.mojok.co

Ilustrasi Sesal Mahasiswa Jateng Melepas UNY Demi Masuk Keperawatan: Kuliahnya 'Mencekam', Pas Kerja pun Diperas Keringatnya dengan Gaji Underpaid (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kuliah bikin pusing dan “belajar dalam bayang-bayang ancaman kematian” 

Sejak 2020, Royan mengambil D3 Keperawatan di salah satu Akper di Jawa Tengah. Saat itu, meski berita soal Covid-19 mulai dominan, kampusnya masih menerapkan kuliah tatap muka. Bahkan selama dua semester ke depan, ia masih harus pergi ke kampus dengan protokol kesehatan yang ketat.

Kuliah di jurusan yang sama sekali asing tak pernah mudah bagi Royan. Butuh waktu tak sebentar baginya buat menyerap istilah-istilah baru di dunia kesehatan. Terlebih, saat itu nuence-nya sedang pandemi. Belajar tak bisa 100 persen fokus karena ada rasa khawatir tertular virus.

“Kuliah dalam ketakutan sih istilahnya. Di dalam kelas kami belajar teori kesehatan, tapi di luar sana banyak orang nggak sehat meninggal tiap harinya,” kata Royan. “Gimana mau efektif coba kalau kita belajar di tengah-tengah ancaman kena virus.”

Hal yang ia takutkan akhirnya kejadian. Memasuki praktik di beberapa rumah sakit yang punya relasi dengan kampusnya, Royan sudah harus berhadapan dengan pasien-pasien Covid-19. Saat itu pandemi sedang parah-parahnya. Di rumah sakit tempat Royan praktik, pasien silih berganti datang, dirawat, dan tak sedikit yang meninggal.

Karena rumah sakit amat kerepotan, mereka terpaksa menggunakan tenaga tambahan seperti mahasiswa-mahasiswa semester empat dari kampus Royan yang sedang praktik. “Jadi nih, dulu waktu praktik, harusnya kita belajar A, B, C, harus handle kerjaan X bahkan Z. Kerjaan kita udah seperti nakes lain,” jelas Royan, menceritakan pengalamannya.

“Banyak teman-temanku tumbang karena kena Covid. Aku ini satu dari sedikit mahasiswa yang bertahan, meski nggak tahu aku udah ketularan berapa kali. Yang kutahu kita praktik dalam bayang-bayang kematian lho waktu itu.”

Saat kerja pun dapat gaji yang tak seberapa

Setelah tiga tahun Royan berhasil melewati masa perkuliahannya yang “menyeramkan” itu. Setelah lulus, ia bisa langsung bekerja di sebuah rumah sakit yang memang jadi destinasi bagi lulusan keperawatan di kampusnya. Cita-cita orang tuanya melihat sang anak jadi perawat pun terwujud.

Sayangnya, menjadi perawat nyatanya tak seindah bayangan ortunya. Sudah kuliah mahal-mahal, belum termasuk biaya pelatihan BTCLS, nyatanya Royan dapat gaji di bawah UMR. Per 2023 lalu, saat Royan pertama kali lulus dan dapat kerja, UMR di kota tersebut sekitar Rp1,9 juta. Sementara gajinya per bulan hanya Rp1,7 juta.

“Katanya sih itu gaji karena awal-awal kerja aja, nanti bakal ada penyesuaian. Nyatanya sekarang tetap aja cuma naik seuprit. Cuma 2 juta lebih dikit setelah setahun kerja.”

Padahal, Royan harus kerja keras bagai kuda. Kalau masuk pagi ketemu sore, kalau masuk sore bahkan bisa pulang pagi.

“Shifting kita itu udah gila-gilaan melebihi pabrik. Tetangga enak banget ngomong kerja di tempat bersih, AC, nggak panas, tapi kerjaan di sini nggak pernah nyantai. Makan sering telat, belum stresnya numpuk-numpuk,” keluhnya.

Pada lebaran kemarin, saya bertemu dengan Royan. Dalam obrolan kami, ia mengatakan punya niat transfer kuliahnya ke S1 Keperawatan. Harapannya, sih, dapat gelar sarjana bisa membantu kariernya ke depan.

“Kalau dibilang menyesal, pasti ada sesal. Aku nggak mau munafik. Tapi kan semua udah telanjur, jalanku juga udah terlalu jauh. Yang ada cuma jalani aja dan cari cari buat jadi lebih baik.”

Penulis: Ahmad Effendi

Iklan

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Cerita Mahasiswa Kedokteran Surabaya Lulus Kuliah Enggak Jadi Apa-apa, Susah Kerja Karena Akreditasi Jurusan C

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 24 April 2024 oleh

Tags: d3 keperawatankeperawatankuliah keperawatanmahasiswa keperawatannakes
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Mahasiswa keperawatan UGM Jogja lulus berkat ibu
Sekolahan

Malas dan Lelah Kuliah, Telepon Ibu Selamatkan Mahasiswa Keperawatan UGM hingga Lulus dengan IPK Sempurna

12 April 2026
Lika-Liku Dunia Apoteker: Sekolahnya Mahal, Gajinya Lumayan, tapi Sering Ketemu Pelanggan yang Ajaib apotek
Liputan

Lika-Liku Dunia Apoteker: Sekolahnya Mahal, Gajinya Lumayan, tapi Sering Ketemu Pelanggan yang Ajaib

9 Mei 2024
Saran Beli Lipstik dari Pejabat untuk Nakes dan Hilangnya Hari Minggu
Liputan

Saran Beli Lipstik dari Pejabat untuk Nakes dan Hilangnya Hari Minggu

19 Agustus 2021
Kolom

9 Hari di Ruang Isolasi Covid-19

4 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Sebat Bareng menjadi upaya sederhana merespons kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Berlangsung di 16 daerah MOJOK.CO

Sebat Bareng di 16 Kabupaten/Kota: Cara Sederhana Tolak Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Pengingat Industri Kretek Masih Dibutuhkan Indonesia

31 Mei 2026
Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu? MOJOK.CO

Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu?

29 Mei 2026
Dompet digital selamatkan pedagang UMKM. MOJOK.CO

4 Kiat Pedagang Es Campur dan Roti Kukus yang Tetap Laris di Tengah Situasi Pelik

3 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.