Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Muak sama Kating Kampus yang Suka Ajak Ngopa-ngopi, Cuma Bisa Omong Besar tapi Skill Kosong!

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
24 September 2025
A A
Penyesalan ikuti kata kating/senior kampus yang aktif organisasi mahasiswa. Ngopa-ngopi dan diskusi, lulus tak punya skill MOJOK.CO

Ilustrasi - Penyesalan ikuti kata kating/senior kampus yang aktif organisasi mahasiswa. Ngopa-ngopi dan diskusi, lulus tak punya skill. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Rasa-rasanya sudah menjadi rahasia umum, kakak tingkat (kating) alias senior kampus—terutama yang bergiat di organisasi mahasiswa—akan terkesan “cari muka” dan sok keren di hadapan mahasiswa baru (maba). Begitulah yang diungkapkan oleh dua narasumber Mojok.

Para kating itu akan gembar-gembor perihal pentingnya menjalin relasi. Utamanya relasi dengan para kating organisasi mahasiswa. Dari situ, para maba didoktrin agar aktif berjejaring dengan para kating sekalipun di level selemah-lemahnya iman: nongkrong (diskusi) di warung kopi.

Sebab, melalui jejaring dengan kating di kampus, itu akan membuat maba punya banyak keuntungan pragmatis. Paling kentara, tentu saja seperti punya “bekingan” senior di kampus. Kalau mau agak jauh kedepan: potensi mudah mencari kerja kelak kalau sudah lulus.

Kating di kampus: kumpulan mahasiswa haus validadi?

Akun Instagram @abdurrafiafif membagikan sebuah konten yang memancing “huru-hara” kecil di Instagram. Dimulai dari pertanyaan, “Apa penyesalanmu selama kuliah?”

Jawabannya: Menyesal karena ngikutin kata kating/senior kampus. Katanya, jika membangun relasi nanti akan membuka lebar peluang kerja.

Namun, nyatanya upaya membangun relasi itu justru tidak jauh-jauh dari nongkrong fafifu. Selain menghabiskan duit dan waktu, nongkrong itu juga tidak menghasilkan hal penting sama sekali.

Tongkrongan hanya menjadi ruang untuk orang-orang yang haus validasi. Obrolan kosong yang tidak berdampak apapun bagi skill seorang mahasiswa. Sementara jika lulus kelak, skill lah yang paling dibutuhkan di dunia kerja.

Konten tersebut hanya singkat belaka. Tapi menyulut beragam reaksi dari banyak pihak.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Abdurrafi Afif (@abdurrafiafif)

Tak nemu pengalaman konkret di organisasi mahasiswa

Sebagaimana kebanyakan mahasiswa baru (maba), Mizwar (25)—di awal semester pada 2018—merasa cukup terpukau dengan para senior kampus yang dia kenal sejak masa ospek.

Di mata Mizwar saat itu, mereka seperti sekumpulan “orang terpilih”. Dengan atribut sebagai kating—apalagi aktif juga di organisasi mahasiswa—mereka tampak seperti orang-orang berpengetahuan luas dan bermental baja.

Iklan

Maka mudah saja bagi Mizwar untuk termakan omongan, “Harus bangun relasi dengan para kating/senior kampus.” Itu akan memperkaya pengalaman sekaligus memberi bekal jaringan selepas lulus.

“Tapi kalau pengalaman ya pengalaman apa gitu yang kudapat. Karena selama aku kenal mereka, kami lebih banyak ngopinya, diskusi tuhan, sosialisme, tapi nggak konkret,” ungkap Mizwar, Selasa (23/9/2025).

Mizwar pun mengikuti jejak kating tersebut di organisasi mahasiswa. Tapi organisasi mahasiswa sering kali hanya berfokus pada urusan event tahunan. Sehingga tidak ada kompetensi berbasis skill praktis yang Mizwar dapat.

Kating kampus cuma bisa ngasih nasihat kosong

Sialnya, Mizwar mengikuti gradak-gruduk katingnya tersebut hingga lulus kuliah. Mizwar tak segan menyebutnya sebagai kesialan karena hingga lulus pun dia merasa tidak mendapat satupun hal penting jika berjejaring dengan kating sebagaimana katingnya gembar-gemborkan.

Yang ada justru nasihat-nasihat kosong. Misalnya, Mizwar mengaku sering dinasihati soal skripsi. Bahwa bikin skripsi yang bagus itu harus berdampak pada society. Itulah kenapa tidak seharusnya cepet-cepetan dalam menggarap skripsi. Molor tak masalah, asal skripsinya nanti berdampak.

“Dalam kasusku, itu omong kosong. Skripsi yang bagus adalah skripsi yang selesai. Udah itu. Soal “berdampak dan mending molor” itu cuma dalih mereka atas ketidakmampuan akademis aja,” ujar pemuda asal Palu, Sulawesi Tengah itu.

Sebab, pada akhirnya saat mepet-mepet batas maksimal semester pengajuan skripsi, kating Mizwar nyatanya tidak mampu mengerjakan skripsi berdampak seperti yang dimaksud. Malah terkesan asal tuntas saja.

Sementara kalau soal berdampak pada masyatakat, seharusnya sejak kuliah punya kesadaran untuk mengakar. Nyatanya, organisasi yang diikuti Mizwar lebih sering terkungkung dalam tempurungnya sendiri. Tidak bersentuhan dengan realitas di akar rumput.

“Yang lucu ya pas aku udah kerja. Pas aku ketemu dengan katingku, eh dinasihati kalau kerja jangan sampai di perusahaan yang melanggengkan kapitalisme. Ngomong apa, sih. Orang dia aja nganggur,” ujar Mizwar.

“Kasih contoh dong kerja yang nggak melanggengkan kapitalisme itu bagaimana. Kalau dia bisa ngasih contoh sukses lewat dirinya sendiri, ya aku ikut,” sambungnya.

Ngopi-diskusi-relasi: lulus kuliah adu nasib susah kerja

Cerita nyaris serupa pernah diungkapkan oleh Amran (26). Sejak awal kuliah pada 2018 silam, dia juga mengaku termakan dengan gagasan “membangun relasi” oleh kating melalui organisasi mahasiswa.

Hasilnya, malam sampai subuh sering kali hanya dihabiskan dengan diskusi ngalor-ngidul. Sebenarnya tak masalah. Asal diimbangi oleh peningkatakan kapasitas.

Masalahnya tidak begitu. Organisasi mahasiswa seolah dibangun oleh para kating hanya untuk sekadar diskusi belaka. Alhasil, Amran lulus sebagai sarjana yang minim skill hingga kesulita mencari kerja.

Boro-boro mendapat jalur kerja lewat relasi para kating itu. Wong mereka saja belum pada lulus karena mengulang banyak mata kuliah saat Amran sudah lulus.

Di titik itulah Amran menganggap narasi “relasi bakal bantu cari kerja” adalah omong kosong belaka. Sejumlah senior dari organisasi mahasiswa yang dia ikuti—dan sudah lulus—memang sudah bekerja. Tapi, kebanyakan posisinya tidak strategis. Sehingga tidak membantu apapun saat Amran berkeluh kesah susah cari kerja.

“Malah berujung adu nasib,” ujar Amran disertai gelak tawa.

“Terus sisanya yang lain nggak lulus-lulus. Pada nggak kerja juga,” sambungnya.

Mirisnya, alih-alih lekas menuntaskan kuliah, Amran sering melihat beberapa senior kampus yang dia kenal masih sering menghabiskan malam-malam di warung kopi: diskusi, main game. Entah bagaimana urusan kuliahnya. Cerita Amran selengkapnya bisa dibaca di liputan, “Gabung Organisasi Mahasiswa demi Relasi agar Kelak Dibantu Cari Kerja, Relasinya (Para Senior) Malah Nggak Lulus-lulus karena Sibuk Ngopi”.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Apes Berteman sama Mahasiswa Manipulatif: Biaya Hidup Rp800 Ribu Perbulan malah Diporoti yang Sakunya Rp500 Ribu Harus Habis Seminggu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Terakhir diperbarui pada 24 September 2025 oleh

Tags: katingkating kampusmabaMahasiswamahasiswa barumanfaat organisasi kampusmembangun relasi di kampusorganisasi kampusorganisasi mahasiswarelasisarjana nganggursenior kampusskripsi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO
Esai

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Skripsi Jurusan Antropologi Unair susah. MOJOK.CO
Edumojok

Kecintaan Mengerjakan Skripsi di Jurusan Antropologi Unair, Malah Jadi “Donatur Tetap” dan Tersadar karena Nasihat Timothy Ronald

14 April 2026
Garap skripsi modal copas karena alasan sibuk di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tak punya duit buat bayar joki. Lulus PTN tepat waktu tapi berakhir kena karma MOJOK.CO
Edumojok

Skripsi Modal Copas karena Sibuk di Ormek dan Tak Kuat Bayar Joki, Lulus PTN Tanpa Kendala tapi Sengsara Tak Bisa Kerja

13 April 2026
Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO
Esai

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa berkuliah S2 UGM. PTN terbaik, tapi pakai AI

Mahasiswa S2 UGM Nggak Menjamin Mutu, Kuliahnya Malas Mikir dan Ketergantungan AI

15 April 2026
Cuci baju di laundry konvensional bikin kapok MOJOK.CO

Cuci Baju di Laundry Konvensional Lama-lama bikin Kapok, Bikin “Boncos” karena Baju Rusak dan Hilang Satu Persatu

15 April 2026
Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Grup WhatsApp (WA) laki-laki di FH UI cerminkan tongkrongan toxic

Topik Grup WA Laki-laki “Sampah”, Isinya Info Link Menjijikan dan Validasi Si Paling Jantan

15 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO

Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual

15 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.