Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Lulusan IPB Sombong bakal Sukses, Berujung Terhina karena Kerja di Pabrik bareng Teman SMA yang Tak Kuliah

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Desember 2025
A A
Lulusan IPB kerja sepabrik dengan teman-teman lulusan SMA, saat mahasiswa sombong kinin merasa terhina MOJOK.CO

Ilustrasi - Lulusan IPB kerja sepabrik dengan teman-teman lulusan SMA, saat mahasiswa sombong kini merasa terhina. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kebanggaan ketika menjadi mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) sempat berubah menjadi kesombongan. Namun, kini kesombongan tersebut luruh, berubah menjadi rasa malu. Sebab, usai kuliah jauh-jauh, justru berakhir menjadi karyawan pabrik kabupaten bersama teman-teman se-SMA dulu untuk ukuran lulusan sebuah kampus ternama.

***

Pukul 17.00 WIB, satu persatu karyawan sebuah pabrik makanan beku di Jawa Tengah meninggalkan kawasan pabrik: pulang. Salah satunya adalah Anggrek (24), bukan nama asli, yang baru bekerja beberapa bulan belakangan.

Anggrek tak langsung pulang. Ia duduk-duduk di area luar sembari menunggu suasana berangsur sepi. Hingga tiba-tiba ada dua orang perempuan seusianya mendekat dan menyapa.

“Lama nggak ketemu sejak kamu di Bogor, malah ketemunya di sini.”

Anggrek mencoba menunjukkan raut antusias merespons sapaan itu. Walaupun ia sebenarnya merasa kikuk berat.

Dua perempuan itu adalah teman-teman semasa SMA Anggrek. Bedanya, Anggrek bisa kuliah di IPB, sementara dua temannya tersebut hanya berhenti di SMA.

“Sore itu kami sempat cerita singkat, mereka sempat berpindah-pindah tempat kerja, lalu baru belakangan masukin lamaran ke pabrik ini. Aku keterima lebih dulu, mereka baru belakangan,” ujar Anggrek, Sabtu (13/12/2025).

Usai saling sapa singkat dan penuh kekikukan bagi Anggrek itu, sepanjang mengendarai motor untuk pulang, tatapan Anggrek agak kosong. Ada perasaan nelangsa usai pertemuan tanpa disengaja itu.

Kesombongan saat menjadi mahasiswa IPB

Dulu ketika lolos SMPTN (SNBP) dan menjadi mahasiswa IPB, Anggrek mengaku sampat agak sombong. Sebab, hanya lima orang yang bisa tembus ke kampus top tersebut.

Bahkan ada beberapa kalimat Anggrek, yang baru ia sadari kemudian, sebenarnya menyakiti hati teman-temannya yang lain. Terutama teman-teman yang hanya berhenti di SMA (tidak lanjut kuliah).

“Dulu, baru perpisahan sekolah saja, pas foto-foto aku teriak-teriak, ‘Calon maba (mahasiswa baru) IPB sini foto bareng’,” ujarnya.

“Kalau ngejar pendidikan itu setinggi-tingginya, sampai ke Bogor jauh dari kampung halaman di Jawa Tengah nggak masalah. Karena semakin tinggi pendidikan, semakin besar peluang untuk sukses.”

Kalimat itu amat sering Anggrek ucapkan dalam sharing-sharing soal perguruan tinggi menjelang perpisahan sekolah. Tanpa ia pikirkan kalau kalimat itu bisa menyinggung teman-temannya yang tidak bisa lanjut kuliah.

Iklan

Lulus dari IPB, sempat nganggur di kampung halaman

Lulus dari IPB, Anggrek sebenarnya ingin melanjutkan hidup di Jabodetabek. Namun, ia tak bisa melawan kehendak orang tuanya.

“Aku anak tunggal. Karena sudah berpisah selama aku menjadi mahasiswa IPB, pas lulus orang tua penginnya aku pulang saja. Nyari-nyari kerja sedapatnya di kampung halaman,” kata Anggrek.

Tidak ada pilihan selain nurut. Mengingat, dulu seluruh biaya kuliahnya ditanggung oleh orang tua. Anggrek pun terpaksa pulang.

Tinggal di sebuah kabupaten kecil membuat Anggrek merasa kesulitan menggunakan ijazah IPB-nya. Lowongan kerja minim. Sekali ada, kebanyakan lebih memilih merekrut lulusan SMA/SMK/sederajat. Alhasil, Anggrek sempat menganggur selama satu setengah tahun.

Lamaran kerja di Jabodetabek tak ada yang tembus hingga ‘terancam’ dinikahkan

Karena merasa tak tahan, Anggrek sempat mengirim beberapa lamaran pekerjaan ke beberapa loker di Jabodetabek. Tapi ternyata juga tak kunjung ada panggilan. Makin nelangsa ia di rumah.

“Aku sempat kesel ke orang tua, gara-gara pulang ke kampung halaman, sekarang jadinya susah cari kerja. Eh orang tuaku jawab, ‘Wong nyatanya lamaranmu di Jabodetabek juga nggak ada yang tembus. Sama-sama susah cari kerja begitu, mending di kampung halaman kumpul sama orang tua. Lagian, namanya perempuan, nanti juga bakal ditanggung suami’,” beber Anggrek.

Orang tua Anggrek tak mengkhawatirkan kondisi Anggrek sebagai lulusan IPB yang susah cari kerja. Karena kalau memang tidak bisa kerja, orang tua Anggrek sudah siap menikahkannya. Itu jauh lebih aman.

Tapi anggrek menolak. Maka, ia terus berupaya mencari lowongan kerja sampai akhirnya keterima di sebuah pabrik makanan beku di kabupatennya di Jawa Tengah.

Jadi karyawan pabrik bergaji UMR, gengsi tapi hanya itu yang tersedia

Ketika wawancara kerja, pihak HRD sempat kaget dengan CV Anggrek. Kok mau-maunya lulusan IPB mendaftar kerja di pabrik yang lebih banyak membuka lowongan untuk lulusan SMA.

Selain itu, sekalipun berlabel lulusan IPB, pihak pabrik menegaskan akan memberi gaji Anggrek sama dengan karyawan-karyawan lain yang hanya lulusan SMA. Gajinya UMR kabupaten, di angka Rp2 jutaan.

Dari lubuk hati terdalam, Anggrek sebenarnya gengsi belaka. Label prestisiusnya sebagai lulusan IPB hanya mentok bekerja sebagai karyawan pabrik.

Tapi daripada dinikahkan dan tak punya pemasukan sendiri, mending ia ambil saja pekerjaan tersebut. Mumpung ada yang menerima. Anggrek kemudian ditempatkan di bagian pengecekan.

Bekerja bareng teman-teman se-SMA, merasa terhina

Setelah mengetahui fakta kalau ia bekerja dengan teman se-SMA-nya dulu, Anggrek harus menekan dalam-dalam gengsi dan egonya. Walaupun sebenarnya ia malu bukan main. Teringat ucapannya dulu soal “Pendidikan tinggi memperbesar jalan sukses”.

Sebab, nyatanya ia bekerja di tempat yang sama dengan teman-temannya yang hanya lulusan SMA. Gajinya pun sama.

Tidak hanya dua teman SMA, Anggrek lalu tahu kalau ternyata ada beberapa teman SMA lain yang bekerja di pabrik tersebut. Kalau bertemu, giliran Anggrek yang hanya bisa terdiam sembari menyimpan rasa kesal.

“Sesimpel ada temen tanya, ‘Loh kamu kan lulusan IPB, harusnya bisa kerja di Jakarta saja/kerja di perusahaan besar/jadi PNS’, itu rasanya kayak menghina banget,” tutur Anggrek.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kuliah di Universitas Terbaik Vietnam: Biaya 1 Semester Setara Kerja 1 Tahun, Jadi Sarjana Susah Kerja dan Investasi Gagal Orang Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 17 Desember 2025 oleh

Tags: ipbloker lulusan smalulusan ipblulusan smaMahasiswamahasiswa ipb
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Tabungan penting, tapi mahasiswa Jogja yang masih harus irit demi makan kesulitan menabung
Sehari-hari

Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa

10 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Waste to Energy (WtE): Senjata Baru Danantara Melawan Darurat Sampah di Perkotaan MOJOK.CO
Mendalam

Waste to Energy (WtE): Senjata Baru Danantara Melawan Darurat Sampah di Perkotaan

29 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO
Esai

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Lebaran.MOJOK.CO

Lebaran adalah Neraka bagi Pekerja Usia 30 tapi Belum Menikah, Sudah Mapan pun Tetap Kena Mental

8 Maret 2026
Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis Itu Mojok.co

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis

12 Maret 2026
Pengendara motor plat K ngga ngerti fungsi zebra cross, lampu, sein, hingga spion MOJOK.CO

Pengendara Plat K Tak Paham Fungsi Zebra Cross-Spion, Cuma Jadi Pajangan dan Abaikan Keselamatan Orang saat Bawa Kendaraan

7 Maret 2026
Nasib ratusan juta WNI 10 tahun nanti: terancam tidak punya jaminan sekaligus tabungan di masa pensiun MOJOK.CO

Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara

11 Maret 2026
KA bengawan, KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

User KA Bengawan Merasa Kesepian Saat Beralih ke Kereta Eksekutif KA Taksaka, “Kereta Gaib” Harga Rp74 Ribu Tetap Juara Meski Bikin Badan Pegal

9 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.