Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Kuliah S1 4 Tahun Terlalu Lama dan Tak Relevan Lagi karena Peluang di Dunia Kerja Lebih Nyata Vokasi?

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
4 Juli 2025
A A
Kuliah S1 selama 4 tahun semakin tak relevan lagi karena nyatanya banyak sarjana pengangguran, beda dengan vokasi? MOJOK.CO

Ilustrasi - Kuliah S1 selama 4 tahun semakin tak relevan lagi karena nyatanya banyak sarjana pengangguran, beda dengan vokasi? (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kuliah S1 selama empat tahun—untuk meraih gelar sarjana—bakal tidak relevan lagi di Indonesia untuk bertarung di dunia kerja, sehingga banyak sarjana akan menjadi pengangguran. Sementara sekolah vokasi lah yang diprediksi akan memiliki kontribusi lebih signifkan.

Begitulah yang diungkapkan oleh Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli, dalam Kajian Tengah Tahun (KTT) INDEF 2025, Rabu (2/7/2025).

Sarjana pengangguran lebih besar dari vokasi

Dalam KTT INDEF 2025 tersebut, Yassierli juga memaparkan rilis Badan Pusat Statistika (BPS) terbaru. Data tersebut menampilkan ironi yang menguatkan pernyataan Yassierli bahwa kuliah S1 selama empat tahun untuk sarjana bakal tidak relevan lagi di dunia kerja.

Per Februari 2025, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang berdasarkan status pendidikan. Rinciannya:

Jumlah pengangguran terbanyak berasal dari status pendidkan SD dan SMP, yakni 2,42 juta orang. Disusul dari SMA sebanyak 2,04 juta orang, dan SMK sebanyak 1,63 juta orang.

Kemudian dari status pendidikan S1 alias sarjana mencatat angka pengangguran sebanyak 1,01 juta orang. Sedangkan dari diploma menyumbang 177,39 ribu orang.

Mari bandingkan. SMA yang cenderung lebih teoretis nyatanya menyumbang lebih banyak pengangguran ketimbang SMK yang punya konsentrasi pada vokasi. Begitu juga perbandingan antara kuliah S1 dan diploma.

4 tahun kuliah S1 itu terlalu lama?

Yassierli menyebut, kondisi dunia kerja di masa depan semakin tidak terprediksi. Apalagi sekarang teknologi-digital hingga kecerdasan buatan (AI) berkembang sangat pesat.

Oleh karena itu, menurutnya, kuliah S1 selama 4 tahun terasa terlalu lama, tapi di saat bersamaa juga tidak memberikan massive skill sebagai bekal untuk menyongsong dunia kerja.

Dalam situasi tersebut, kata Yassierli, Kemnaker tengah fokus menyiapkan Balai Latihan Kerja (BLK) yang berfungsi untuk memberi pelatihan keahlian/keterampilan yang dibutuhkan di masa depan.

Yassierli mengklaim tengah menyiapkan setidaknya 41 BLK yang berada di bawah Kemnaker langsung. Ditambah 303 BLK milik pemerintah dan 2.421 dari Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) swasta.

“Kami sedang menyiapkan project based learning, sifatnya baru pilot project. Kalau saat ini kita punya ada balai elektronika industri, programmable logic controller (PLC), permesinan, bengkel, barista, hospitality, macam-macam,” jelas Yassierli.

Kemnaker juga sedang menyiapkan instruktur-instruktur untuk pelatihan di bidang smart operation, smart creative IT skills, agroforestry, dan green jobs.

Pendidikan bukan soal durasi

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (UM) Suabaya, Achmad Hidayatullah menyebut, pendidikan sejatinya bukan hanya soal durasi dua tahun atau empat tahun, tapi soal kualitas.

Iklan

Pendidikan tinggi adalah wujud kedalaman pengetahuan, kepakaran, dan membangun konsep berpikir. Bahkan melalui perguruan tinggi, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan teori dari buku dan AI.

“Tapi juga bisa melakukan dialog dengan dosen dan pakar, yang memang telah bertahun tahun melakukan penelitian dan konsen terhadap sebuah topik yang berkaitan dengan sosial kehidupan,” papar Hidayat. “Dialog yang sehat dengan pakar tentu tidak sama dengan diskusi dengan AI.”

Jika kuliah S1 direduksi skills: ciptakan intelektual tukang

Kalau pendidikan tinggi direduksi skills, lanjut Hidayat, berati sistem pendidikan kita menciptakan intelektual tukang sebagaimana dikritik oleh Paulo Friere.

“Jadi pendidikan tinggi (kuliah S1) tidak hanyak untuk skills, tapi membangun cara berpikir. Kalau selama ini dianggap lulusan perguruan tinggi (sarjana) sulit cari kerja, ya itu soal ketersediaan lapangan kerja,” ujar Hidayat.

“Kalau lapangan sempit, jangan kemudian manjadikan durasi kuliah dinggap masalah,” sambungnya.

Justru yang perlu pemerintah lakukan adalah pembukaan lapangan kerja. AI memang sebuah keharusan untuk diintegrasikan dengan perguruan tinggi, tetapi bukan berati memperpendek durasi kuliah.

Karena kalau kuliah hanya persoalan durasi, banyak orang—kalau meminjam istilah Hidayat—memakai “jalur cobra” agar bisa lulus cepat.

Hidayat, mengutip social cognitive theory yang Albert Bandura menyebut, cara pandang seseorang sangat dipengaruhi oleh pengamatannya terhadap orang lain. Jika kemudian kuliah  S1 (misalnya) direduksi hanya melatih skills, maka mahasiswa akan melihat bahwa kuliah S1 selama empat tahun bukan sebatas tidak relevan, tapi juga tidak penting.

“Jika sudah begitu, self effikasi mereka akan menurun untuk kuliah,” tutur Hidayat.

Vokasi solusi cepat, tapi….

Sementara Pakar Ekonomi UM Surabaya, Fatkur Huda berpendapat, jika dilihat dari sudut pandang ekonomi tenaga kerja, penekanan pada vokasi (penyiapan keterampilan kerja) memang masuk akal untuk menekan angka pengangguran.

Sebab, keterampilan dari vokasi atau pelatihan kerja mampu menjawab kebutuhan terhadap efisiensi dan ketepatan antara suplai keterampilan dan permintaan industri.

Vokasi, bagi Fatkur, memang bisa menjadi solusi cepat untuk mengurangi kesenjangan keterampilan dan mempercepat penyerapan tenaga kerja di sektor-sektor tertentu.

“Tapi di balik itu semua, saya melihat bahwa pernyataan mengenai “hilangnya relevansi” pendidikan tinggi perlu ditanggapi dengan lebih hati-hati. Bahwa kuliah S1 bukan sekadar proses memperoleh gelar atau keterampilan teknis semata,” kata Fatkur.

“Melainkan juga ruang untuk membentuk kapasitas berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, kreativitas, kepemimpinan, serta penguasaan dasar-dasar teoritis yang dibutuhkan untuk inovasi jangka panjang. Hal-hal seperti itu tidak bisa sepenuhnya diperoleh melalui pelatihan jangka pendek,” sambungnya.

Seharusnya saling sinergi

Fatkur menekankan, kebutuhan saat ini bukanlah dikotomi antara pendidikan tinggi dengan pelatihan vokasional, melainkan sinergi yang saling melengkapi.

Pendidikan tinggi, menurut Fatkur, perlu bertransformasi kurikulum harus lebih adaptif terhadap perkembangan industri, teknologi digital, dan kebutuhan keterampilan baru seperti data science, energi terbarukan, hingga AI.

“Pendekatan pembelajaran berbasis proyek, magang industri, dan kerja kolaboratif lintas disiplin menjadi sangat penting agar lulusan perguruan tinggi tetap relevan dan mampu bersaing (sehingga tidak menjadi sarjana pengangguran),” beber Fatkur.

“Sementara itu, pelatihan vokasi tetap harus diperkuat sebagai jalur strategis untuk menghasilkan tenaga kerja yang siap pakai di bidang teknis,” imbuhnya.

Dalam ekosistem tenaga kerja modern, kata Fatkur, keduanya dapat berjalan berdampingan: pendidikan vokasi memperkuat keterampilan praktis, sementara pendidikan tinggi membangun fondasi pengetahuan dan kapasitas inovasi.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Lulusan Universitas Jadi Sarjana Pengangguran, Langsung Dituntut Bapak Ganti Rugi Biaya Besar Semasa Kuliah sampai Hidup Kebingungan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Terakhir diperbarui pada 4 Juli 2025 oleh

Tags: kuliah s1pelatihan kerjapilihan redaksiS1sarjanasarjana pengangguranVokasi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Kos horor di Jogja.MOJOK.CO
Ragam

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO
Catatan

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian .MOJOK.CO
Seni

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026
14 juta pekerja terima gaji di bawah UMP/UMK, sebagian besar dari kalangan lulusan perguruan tinggi (sarjana) MOJOK.CO
Ragam

Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

9 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

outfit orang Surabaya Utara lebih sederhana ketimbang Surabaya Barat. MOJOK.CO

Kaos Oblong, Sarung, dan Motor PCX adalah Simbol Kesederhanaan Sejati Warga Surabaya Utara

8 Januari 2026
kecanduan gadget pada anak. MOJOK.CO

Petaka yang Terjadi Saat Orang Tua Sibuk Mengejar Dunia dan Anak yang Terlalu Sering Menggunakan Gawai hingga Candu

7 Januari 2026
Tinggal di kos murah Taman Siswa (Tamsis) Jogja: Malam-malam ada suara ceplak-ceplok, saling pukul di kamar, hingga terusir gara-gara sengketa warisan MOJOK.CO

Sewa Kos Rp350 Ribu Berdinding Triplek di Tamsis Kota Jogja, Bonus Suara “Ceplak-ceplok” Tengah Malam hingga Terusir Gara-gara Sengketa Warisan

6 Januari 2026
Kuliah Scam Itu Omongan Bermulut (Kelewat) Besar yang Nggak Perlu Didengarkan

Kuliah Scam Itu Omongan Orang Bermulut (Kelewat) Besar yang Nggak Perlu Didengarkan

8 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Hidup di Desa.MOJOK.CO

Jadi Anak Terakhir di Desa Itu Serba Salah: Dituntut Merawat Ortu, tapi Selalu Dinyinyiri Tetangga karena Tak Merantau

7 Januari 2026

Video Terbaru

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.