ADVERTISEMENT

Kuliah di Universitas Terbaik Malah Merasa Gagal: Kampus Sibuk Naikkan Ranking Dunia, tapi Melupakan Nasib Alumninya

Gaji Fresh Graduate Alumni UI, UGM. MOJOK.CO

Dari UI hingga UGM, bukti adanya mismatch

Fenomena tersebut sekaligus memperlihatkan adanya mismatch antara arah pendidikan tinggi dan kebutuhan pasar kerja. Kajian McKinsey Global Institute memperkirakan bahwa hingga 2030, sekitar 375 juta pekerja di dunia harus melakukan transisi ke jenis pekerjaan baru akibat otomatisasi dan digitalisasi. 

Lebih jauh, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pun menyoroti, bahwa negara-negara dengan sistem pendidikan tinggi yang terlalu fokus pada aspek akademik sering kesulitan menyesuaikan lulusannya dengan kebutuhan industri. 

Indonesia sedang mengalami hal serupa. Kampus besar (seperti UI dan UGM) sibuk mengejar citra akademik, sementara lulusan jadi korban dari realitas kerja yang berubah cepat.

Jika dibandingkan dengan universitas di negara lain, prestise akademik memang tidak selalu menjamin sukses karier alumni. Harvard atau Oxford pun tidak bisa memastikan semua lulusannya mendapat pekerjaan elite. 

Bedanya, mereka memiliki sistem career support yang kuat: pusat pengembangan karier, mentoring, hingga jaringan alumni yang aktif. 

Sementara di Indonesia, mahasiswa seperti Andini dan Yudha justru sering kebingungan setelah lulus. Sebab, ya, bimbingan karier seadanya, magang sering tak serius, dan koneksi alumni cenderung eksklusif. 

Pada saat yang sama, biaya kuliah terus naik melalui skema UKT atau IPI, sehingga lulusan merasa menanggung beban ganda: utang pendidikan tinggi dan realita kerja yang tidak ramah.

Bangga ranking kampus tinggi, tapi ya jangan lupakan nasib alumni

Andini, kini masih terus mencoba peruntungannya. Ia mengisi hari-harinya dengan kursus daring, berharap menambal keterampilan yang tidak dia dapatkan di kampus.

Menyebar lamaran pekerjaan, sekalipun itu bukan ke perusahaan atau posisi yang relevan, juga terus dia lakukan.

Yudha pun demikian, berusaha memperluas relasi sembari menjalani kerja kontrak yang tidak sebanding dengan ekspektasinya ketika UGM dulu. 

Dan, yang jelas, cerita mereka mewakili wajah banyak lulusan perguruan tinggi besar yang nasibnya terombang-ambing nggak jelas. Bahkan ketika nama kampus terus melambung di papan ranking dunia.

“Universitas boleh saja bangga dengan ranking internasional yang terus alami lonjakan,” kata Yudha. “Tapi kalau alumninya kesulitan bersaing, apa arti semua itu?” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kuliah S1-S2 di Kampus Terbaik Indonesia Merasa Gagah, Tapi Lulus Jadi Sarjana Payah dan Bernasib Terlunta-lunta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 3 Oktober 2025 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.