Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Kuliah di Universitas Terbaik Malah Merasa Gagal: Kampus Sibuk Naikkan Ranking Dunia, tapi Melupakan Nasib Alumninya

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
2 Oktober 2025
A A
Gaji Fresh Graduate Alumni UI, UGM. MOJOK.CO

Ilustrasi - Alumni Kampus Besar (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dari UI hingga UGM, bukti adanya mismatch

Fenomena tersebut sekaligus memperlihatkan adanya mismatch antara arah pendidikan tinggi dan kebutuhan pasar kerja. Kajian McKinsey Global Institute memperkirakan bahwa hingga 2030, sekitar 375 juta pekerja di dunia harus melakukan transisi ke jenis pekerjaan baru akibat otomatisasi dan digitalisasi. 

Lebih jauh, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pun menyoroti, bahwa negara-negara dengan sistem pendidikan tinggi yang terlalu fokus pada aspek akademik sering kesulitan menyesuaikan lulusannya dengan kebutuhan industri. 

Iklan

Indonesia sedang mengalami hal serupa. Kampus besar (seperti UI dan UGM) sibuk mengejar citra akademik, sementara lulusan jadi korban dari realitas kerja yang berubah cepat.

Jika dibandingkan dengan universitas di negara lain, prestise akademik memang tidak selalu menjamin sukses karier alumni. Harvard atau Oxford pun tidak bisa memastikan semua lulusannya mendapat pekerjaan elite. 

Bedanya, mereka memiliki sistem career support yang kuat: pusat pengembangan karier, mentoring, hingga jaringan alumni yang aktif. 

Sementara di Indonesia, mahasiswa seperti Andini dan Yudha justru sering kebingungan setelah lulus. Sebab, ya, bimbingan karier seadanya, magang sering tak serius, dan koneksi alumni cenderung eksklusif. 

Pada saat yang sama, biaya kuliah terus naik melalui skema UKT atau IPI, sehingga lulusan merasa menanggung beban ganda: utang pendidikan tinggi dan realita kerja yang tidak ramah.

Bangga ranking kampus tinggi, tapi ya jangan lupakan nasib alumni

Andini, kini masih terus mencoba peruntungannya. Ia mengisi hari-harinya dengan kursus daring, berharap menambal keterampilan yang tidak dia dapatkan di kampus.

Menyebar lamaran pekerjaan, sekalipun itu bukan ke perusahaan atau posisi yang relevan, juga terus dia lakukan.

Yudha pun demikian, berusaha memperluas relasi sembari menjalani kerja kontrak yang tidak sebanding dengan ekspektasinya ketika UGM dulu. 

Dan, yang jelas, cerita mereka mewakili wajah banyak lulusan perguruan tinggi besar yang nasibnya terombang-ambing nggak jelas. Bahkan ketika nama kampus terus melambung di papan ranking dunia.

“Universitas boleh saja bangga dengan ranking internasional yang terus alami lonjakan,” kata Yudha. “Tapi kalau alumninya kesulitan bersaing, apa arti semua itu?” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kuliah S1-S2 di Kampus Terbaik Indonesia Merasa Gagah, Tapi Lulus Jadi Sarjana Payah dan Bernasib Terlunta-lunta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 3 Oktober 2025 oleh

Tags: alumni UGMalumni uialumni universitas indonesiamahasiswa ugmmahasiswa uipilihan redaksis1 uiUGMuiUniversitas Gadjah Madauniversitas indonesiauniversitas terbaik
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026
dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.