Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Biaya Hidup Murah, Mahasiswa Purwokerto Tetap Nelangsa Karena Dapat UKT Selangit tapi Akreditasi Jurusan B

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
6 Maret 2024
A A
Kepedihan Mahasiswa Jakarta, Prestasi Mentereng tapi Terancam Putus Kuliah Gara-gara KJMU Diblokir Heru.mojok.co

Ilustrasi Kepedihan Mahasiswa Jakarta, Prestasi Mentereng tapi Terancam Putus Kuliah Gara-gara KJMU Diblokir Heru (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Purwokerto terkenal sebagai kota dengan biaya hidup rendah. Kalkulasi BPS menemukan angka biaya hidup di ibukota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ini sebesar Rp5,88 juta per bulan. Hanya kalah murah dari Cilacap, Maumere, Sibolga, Kudus, dan Tegal. Maka tak salah jika banyak mahasiswa memutuskan buat kuliah di Purwokerto.

Sayangnya, biaya hidup murah tak sepenuhnya bisa disyukuri. Sebab, banyak mahasiswa tetap mengeluhkan soal besaran uang kuliah tunggal (UKT) yang tingginya enggak ngotak. UKT tinggi untuk jurusan favorit, mungkin masih bisa mereka tolerir. Namun, bagaimana kalau mengeluarkan biaya kuliah selangit tapi dapatnya jurusan yang akreditasinya masih B?

Hal tersebut Talib (19) rasakan. Mahasiswa salah satu PTN di Purwokerto ini mengaku menyesal, sebab ia mendapat UKT tinggi, masih harus membayar uang pangkal di awal perkuliahan, tapi ternyata akreditasi jurusannya masih B. 

“Sayangnya udah enggak punya opsi buat pindah kampus karena orang tua udah entek-entekan duitnya buat kuliahin aku di sini,” kata Talib, saat Mojok hubungi Selasa (5/3/2024) malam.

Dapat UKT tertinggi dan uang pangkal Rp25 juta

Talib berkuliah di satu-satu PTN yang berada di Purwokerto. Aktif sebagai mahasiswa angkatan 2023. Ia meminta Mojok buat menyamarkan nama kampus, meski kata dia, “percuma karena kampusku jadi satu-satunya yang negeri di Purwokerto”.

Ia masuk PTN ini via jalur seleksi mandiri setelah sebelumnya gagal di SNBT. Kata Talib, ia memilih kampusnya ini karena berbabagi pertimbangan.

Pertama, jarak kota tempat tinggalnya dengan Purwokerto tak terlalu jauh, cukup satu jam motoran. Jadi, tiap akhir pekan Talib bisa pulang bertemu keluarga. Kedua, berdasarkan saran dari beberapa kakak kelasnya, konon kampus ini terkenal murah.

“Setelah gagal SNBT di UGM, aku coba tes mandiri di sini dan ternyata lolos,” ujar mahasiswa Purwokerto ini.

Sayangnya, biaya kuliah murah seperti yang digemborkan tadi hanyalah mitos. Saat mengikuti seleksi mandiri, ia sudah berhadapan dengan angka-angka besar untuk uang pangkal.

“Jadi paling rendah itu Rp25 juta buat jurusan yang aku ambil. Sisanya tinggi-tinggi banget, 50 sampai 100 juta pun ada,” jelasnya.

Ia pun memutuskan memilih angka Rp25 juta karena yang paling rendah. Tak sampai di situ, ketika sudah kuliah angka-angka fantastis pun kembali harus ia hadapai. Talib menerima UKT dengan besaran Rp5 jutaan, padahal kedua orang tuanya hanya buruh pabrik biasa dengan penghasilan pas-pasan.

“Rasanya mau nangis. Tak tega bilang ke orang tua.”

Akreditasi jurusan masih B

Sebenarnya, Talib sudah jujur ke kedua orang tuanya kalau dia mau-mau saja untuk mengundurkan diri. Niatnya ia ingin gap year, kemudian daftar lagi tahun berikutnya di kampus yang biaya kuliahnya lebih manusiawi.

Namun, orang tuanya menolak. Alasannya, Talib sudah melalui banyak hal untuk masuk kampus negeri. “Kata bapak, kalau coba lagi tahun depan belum tentu lolos yang negeri,” ujar Talib.

Iklan

Mahasiswa Purwokerto ini hanya bisa manut. Ia berpikir kata-kata orang tuanya tadi ada benarnya juga. “Yaudah enggak apa-apalah, jalani aja.”

Beberapa bulan berkuliah, Talib baru tahu kalau jurusan kuliahnya ternyata akreditasinya masih B. Fyi, Talib berkuliah di jurusan yang berada di fakultas teknik.

Uniknya lagi, ia tahu kalau jurusannya akreditasi B dari sebuah grup di Facebook. Dalam sebuah unggahan yang memuat daftar jurusan, kampus, dan akreditas, tertulis bahwa jurusan tempat ia kuliah ini masih akreditasi B. Talib kemudian mengeceknya ke situs resmi kampus, dan ternyata benar.

“Salah aku juga kali ya, karena di awal enggak ricek. Faktor udah mepet aja, sih. Uang pangkal tinggi aja lewat apalagi cuma akreditasi kampus,” jelasnya.

“Jujur, rada insecure setelah tahu. Jurusanku ‘kan sikut-sikutan banget di dunia kerja nanti. Aku takut gara-gara akreditasi B kita kalah saing dengan lulusan kampus lain.”

Baca halaman selanjutnya…

Sama sekali tak bisa menikmati biaya hidup yang katanya murah

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 7 Maret 2024 oleh

Tags: biaya hidupbiaya hidup purwokertojawa tengahkampus purwokertoptn purwokertoPurwokerto
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO
Urban

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
slow living, jawa tengah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Omong Kosong Slow Living di Jawa Tengah: Gaji Kecil, Tanggungan Besar, Ditambah Tuntutan “Rukun” yang Bikin Boros

11 Februari 2026
Penyebab banjir dan longsor di lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah. MOJOK.CO
Kilas

Alasan di Balik Banjir dan Longsor di Lereng Gunung Slamet Bukan karena Aktivitas Tambang, tapi Murni Faktor Alam

29 Januari 2026
Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)
Pojokan

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Pendidikan karakter Sunan Ampel di Pesantren Ampeldenta Surabaya melalui halal food dan halal living MOJOK.CO

Rasa Sanga (6): Melalui Halal Food dan Halal Living, Sunan Ampel Membentuk Karakter Generasi Islam Berkualitas

13 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.