Hari Burung Migran Sedunia yang jatuh pada 9 Mei menjadi momen penting untuk melihat kondisi bumi. Organisasi pelestarian alam global, BirdLife International, menyampaikan peringatan keras: perjalanan migrasi burung di dunia saat ini menunjukkan adanya tekanan besar pada sistem alam.
Migrasi burung berperang penting bagi keseimbangan lingkungan
Peringatan ini didasarkan pada data di lapangan yang menemukan bahwa lebih dari 40 persen spesies burung di seluruh dunia sedang mengalami penurunan jumlah populasi. CEO BirdLife International, Martin Harper, menyatakan bahwa sinyal bahaya dari jalur-jalur migrasi ini sudah sangat sulit diabaikan.
Harper menjelaskan, burung-burung bermigrasi bukan sekadar terbang tanpa tujuan. Mereka membawa peran yang sangat penting bagi keseimbangan lingkungan yang menopang kehidupan kita.
“Burung migran bertugas membawa berbagai nutrisi melintasi samudra luas, membantu penyerbukan tanaman, dan menyebarkan benih. Mereka juga menjaga agar tanaman pertanian bisa terus tumbuh dengan baik, serta membantu mengendalikan penyebaran penyakit mematikan di alam liar,” jelas Harper, dalam keterangan tertulis yang diterima Mojok, Sabtu (9/5/2026).
Jalur terbang global yang mulai “terganggu”
Dalam perjalanannya, burung-burung ini melintasi batas negara, benua, dan arus laut melalui rute alami yang disebut jalur terbang global. Secara keseluruhan, burung di seluruh dunia mengikuti empat jalur darat utama: jalur Afrika-Eurasia, Asia Timur-Australasia, Amerika, dan Asia Tengah.
Selain rute darat, mereka juga menggunakan enam jalur terbang di wilayah lautan. Rute-rute ini membentang sangat jauh, menghubungkan aneka ekosistem dan habitat alam yang letaknya terpisah hingga ribuan kilometer.
Sayangnya, lintasan jalur ini rentan terputus. Jika satu titik singgah saja rusak, seperti lahan basah yang sengaja dikeringkan atau garis pantai yang tercemar limbah, dampaknya bisa sangat fatal bagi keselamatan burung.
“Kerusakan di satu lokasi persinggahan bisa menyebabkan populasi spesies burung menurun drastis, bahkan hilang selamanya,” tegas Harper. Kepunahan burung Slender-billed Curlew yang terjadi baru-baru ini menjadi bukti nyata sekaligus pengingat pahit bahwa ancaman tersebut benar adanya.

Migrasi burung juga menguntungkan manusia
Salah satu jalur migrasi paling krusial di dunia adalah Jalur Asia Timur-Australasia, yang menghubungkan pesisir Pasifik Asia hingga ke Australia dan Selandia Baru. Setiap bagian perjalanan di jalur ini sangat bergantung pada keberadaan lahan basah, garis pantai, dan muara sungai yang sehat.
Burung Bar-tailed Godwit yang terkenal karena mampu terbang jarak jauh tanpa henti, butuh tempat persinggahan ini untuk beristirahat. Begitu pula dengan burung mungil Spoon-billed Sandpiper, yang pergerakannya menjadi penanda pasti apakah sistem lahan basah di suatu wilayah masih sehat atau tidak.
Menjaga jalur terbang ini pada akhirnya sangat menguntungkan manusia. Harper menegaskan, melindungi jalur migrasi memberikan keuntungan yang sangat nyata bagi umat manusia.
“Ketika rute penerbangan burung terjaga, manusia akan mendapatkan jaminan ketersediaan air yang lebih bersih, ketahanan pasokan pangan yang terjaga, pelindung alami dari bencana banjir, serta daya tahan yang lebih kuat dalam menghadapi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim global,” jelasnya.

KTT Jalur Terbang Global
Mengingat lintasannya melewati banyak negara, tantangan ini tentu membutuhkan kerja sama tingkat internasional.
Terkait kerja sama internasional ini, benua Afrika memegang peran yang sangat sentral. Direktur Eksekutif Nature Kenya, Paul Matiku, menjelaskan bahwa Afrika berada tepat di jantung beberapa jalur penerbangan burung terbesar di dunia.
“Kesehatan lahan basah, padang rumput, dan garis pantai kami dampaknya terasa hingga melampaui batas negara kami. Saat kita melindungi tempat-tempat ini, kita juga menjaga kelestarian burung dan perlindungan bagi masyarakat yang hidup bergantung pada alam tersebut,” tegasnya.
Untuk mencari solusi nyata, KTT Jalur Terbang Global (Global Flyways Summit) pertama akan diselenggarakan di kota Nairobi, Kenya, pada September mendatang. Acara yang digelar bersama oleh BirdLife International dan Nature Kenya ini akan mempertemukan para ahli, pembuat kebijakan, penyandang dana, hingga pelaku bisnis dari seluruh dunia. Tujuannya adalah menyepakati langkah konkret pelestarian burung migran beserta ekosistemnya.
Pada pertemuan penting tersebut, para ilmuwan juga berencana meluncurkan edisi terbaru dari laporan State of the World’s Birds. Laporan ini akan fokus menyoroti masalah jalur terbang global, menyajikan data populasi burung terbaru, serta mengungkap apa makna di balik data tersebut bagi kondisi kesehatan lingkungan kita saat ini.
Lalu, bagaimana masyarakat awam bisa ikut membantu? Publik diundang untuk merayakan Hari Burung Migran Sedunia dengan cara yang mudah. Masyarakat cukup pergi ke luar rumah, mengamati burung yang ada di sekitar, dan mencatatnya. Sekecil apa pun catatan warga akan sangat berarti karena menjadi kumpulan data penting bagi upaya perbaikan lingkungan yang dilakukan oleh para ahli di lapangan.
“Anda tidak perlu menjadi seorang pakar untuk mulai peduli pada burung,” ucap Harper.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kala Sang Garuda Diburu, Dimasukkan Paralon, Dijual Demi Investasi dan Klenik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














