Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Jagat

Pengalaman Sambut Ramadan di Kudus: Menyaksikan Bagaimana Merawat Bumi Ditradisikan Lewat Pembiasaan Sederhana

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
12 Februari 2026
A A
Volunteer di festival dandangan kudus. MOJOK.CO

ilustrasi - Volunteer bertugas mengedukasi pengunjung soal sampah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Sudah ada tuh beberapa pedagang yang memisahkan sampahnya sendiri-sendiri. Mulai dari organik, anorganik, dan residu. Jadi kalau ada petugas yang ambil, itu sudah enak langsung di kirim ke tempat pembuangan akhir,” ucapnya saat saya ajak berbincang. 

Iklan

Pedagang seperti Sarminah pun turut kecipratan untung. Sebab, berkat pengelolaan sampah tersebut, lapaknya akhirnya tidak seperti yang dulu-dulu. Ia tidak terganggu oleh bau, pengunjung pun tak ragu mampir ke lapaknya. 

Trisna jalaran saka kulina

Manfaat dari penyediaan tempat sampah juga dirasakan langsung oleh pengunjung. Andre (35), warga asli Kudus yang datang rutin ke Festival Dandangan berujar, adanya tempat sampah berkategori di beberapa titik jalan Perempatan Jember hingga Alun-alun Kudus membuat suasana lebih bersih.

“Sekitar 5 tahun yang lalu, rumah saya sering kebanjiran. Makanya saya bahkan ajarin dua anak saya yang masih SD agar nggak buang sampah sembarangan,” kata Andre. 

Andre sendiri sudah membiasakan memilah sampah dari organik, anorganik, sampai residu sejak dia bekerja. Kebetulan, tempat kerjanya juga concern terhadap isu sampah.

“Saya kerja di suatu perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan kertas, jadi saya sudah biasa memilah sampah,” ucap Andre. 

Sebuah keluarga datang ke festival. MOJOK.CO
Andre dan anaknya di Festival Dandangan. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Memang, masih ada sejumlah orang yang masih awam dan belum terbiasa dengan pengelolaan sampah. Untungnya, setiap tempat sampah yang tersedia dari BLDF dilengkapi dengan penjelasan yang mudah dipahami: tempat sampah warna kuning untuk sampah apa, hijau untuk apa, dan abu-abu untuk jenis sampah apa. Itu cukup memudahkan. 

Bahkan yang sebenarnya cukup tahu tentang isu pemilahan sampah pun masih ada yang bingung, seperti yang diakui oleh Anton (23), pemuda asal Brebes yang datang dari Semarang untuk menikmati suasana menjelang Ramadan di Festival Dandangan 2026. 

Awalnya bingung, kalau mau buang sampah anorganik (misalnya), harus ke tempah sampah warna apa. Tapi karena ada keterangan kategorisasi yang cukup mudah ditangkap, akhirnya dia bisa memutuskan: tempat sampah mana yang pas untuk sampahnya. 

Sebenarnya, Anton sudah cukup akrab dengan konsep pemilahan sampah. Karena di lingkungan kosnya, mahasiswa di Semarang itu sudah mendapati kesadaran kolektif perihal pemilahan sampah melalui bank-bank sampah yang tersedia. 

“Belajarnya memang baru-baru ini. Tapi kalau dibiasakan, nanti akan terbiasa juga. Karena ini penting untuk merawat bumi,” ucap Anton. 

Memang hanya bermula dari tempat sampah. Namun, trisna jalaran saka kulina (seseorang akan punya kesadaran mencintai (bumi) dari pembiasaan-pembiasaan kecil (memilah sampah) yang dilakukan terus-menerus. 

Festival Dandangan 2026: mentradisikan “merawat bumi dan menjaga lingkungan”

Baik Sarminah, Andre, dan juga Anton mengapresiasi langkah panitia Festival Dandangan tahun ini yang memasukkan nilai peduli lingkungan di tengah sorotan utama melestarikan tradisi nenek moyang dan memajukan ekonomi warga.

Iklan
Pengunjung membuang sampah. MOJOK.CO
Anton membuang sampah di tempat sampah jenis residu. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Saya selalu ajarkan ke anak-anak kalau kebersihan sebagian dari iman,” kata Andre.

Begitu pula yang diyakini oleh Mutiara Diah Asmara selaku Director Communication Djarum Foundation. Kata Mutiara, BLDF percaya, bahwa sebuah tradisi juga punya peran penting dalam konteks menjaga lingkungan. 

“Pada momen inilah kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah sejak awal menjadi praktik nyata, yang mencerminkan kepedulian kita terhadap lingkungan dan keberlanjutan tradisi itu sendiri,” ujarnya.

Mutiara menegaskan BLDF berkomitmen penuh dalam pengolahan sampah organik hingga acara Festival Dandangan berakhir pada Rabu (18/2/2026) nanti, bahkan di acara-acara mendatang. Karena melalui gerakan Kudus Apik Resik, lanjut Mutiara, BLDF bertekad mewujudkan Kabupaten Kudus yang apik, resik, dan nyaman.

“Kami berharap Dandangan Kudus tahun 2026 tidak hanya meninggalkan kemeriahan, tetapi juga meninggalkan kebiasaan dan praktik yang baik, serta menjaga lingkungan, memilah sampah dan merawat ruang publik bersama,” tutup Mutiara.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Menemukan Hal Baru di Festival Dandangan Kudus 2026 setelah Ratusan Tahun, Tak Sekadar Kulineran dan Perayaan Sambut Ramadan dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 15 Februari 2026 oleh

Tags: bldffestival dandanganFestival Dandangan 2026kudusrelawan Kudus Asik Resiktradisi Dandangan
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Sabrina, Anak Penjual Es Krim di Pati yang Rengkuh Gelar MVP MLSC All Stars dan Tembus Skuad Elite ke Singapura, MLSC.MOJOK.CO
Eksplor

Sabrina, Anak Penjual Es Krim di Pati yang Rengkuh Gelar MVP MLSC All Stars dan Tembus Skuad Elite ke Singapura

30 Juni 2026
Kudus, Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan.MOJOK.CO
Eksplor

Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan 

27 Juni 2026
1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa MOJOK.CO
Kilas

1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa

2 Mei 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO
Fragmen

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026
Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, sebut inflasi di Kota Jogja pada Juni 2026 disebabkan kenaikan harga BBM non-subsidi MOJOK.CO

Transportasi Jadi Penyumbang Inflasi di Kota Jogja: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Jadi Penyebab Utama dan Wanti-wanti Naiknya Biaya Pendidikan

2 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
Festival Jamu Nusantara di Pasar Ngasem, Kota Jogja: ruang regenerasi dan edukasi konsumen muda MOJOK.CO

Festival Jamu Nusantara di Kota Jogja: Sadarkan Anak Muda Jamu Bukan Minuman Kuno, Tapi Gaya Hidup Sehat Lintas Generasi

6 Juli 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.