“Sudah ada tuh beberapa pedagang yang memisahkan sampahnya sendiri-sendiri. Mulai dari organik, anorganik, dan residu. Jadi kalau ada petugas yang ambil, itu sudah enak langsung di kirim ke tempat pembuangan akhir,” ucapnya saat saya ajak berbincang.
Pedagang seperti Sarminah pun turut kecipratan untung. Sebab, berkat pengelolaan sampah tersebut, lapaknya akhirnya tidak seperti yang dulu-dulu. Ia tidak terganggu oleh bau, pengunjung pun tak ragu mampir ke lapaknya.
Trisna jalaran saka kulina
Manfaat dari penyediaan tempat sampah juga dirasakan langsung oleh pengunjung. Andre (35), warga asli Kudus yang datang rutin ke Festival Dandangan berujar, adanya tempat sampah berkategori di beberapa titik jalan Perempatan Jember hingga Alun-alun Kudus membuat suasana lebih bersih.
“Sekitar 5 tahun yang lalu, rumah saya sering kebanjiran. Makanya saya bahkan ajarin dua anak saya yang masih SD agar nggak buang sampah sembarangan,” kata Andre.
Andre sendiri sudah membiasakan memilah sampah dari organik, anorganik, sampai residu sejak dia bekerja. Kebetulan, tempat kerjanya juga concern terhadap isu sampah.
“Saya kerja di suatu perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan kertas, jadi saya sudah biasa memilah sampah,” ucap Andre.

Memang, masih ada sejumlah orang yang masih awam dan belum terbiasa dengan pengelolaan sampah. Untungnya, setiap tempat sampah yang tersedia dari BLDF dilengkapi dengan penjelasan yang mudah dipahami: tempat sampah warna kuning untuk sampah apa, hijau untuk apa, dan abu-abu untuk jenis sampah apa. Itu cukup memudahkan.
Bahkan yang sebenarnya cukup tahu tentang isu pemilahan sampah pun masih ada yang bingung, seperti yang diakui oleh Anton (23), pemuda asal Brebes yang datang dari Semarang untuk menikmati suasana menjelang Ramadan di Festival Dandangan 2026.
Awalnya bingung, kalau mau buang sampah anorganik (misalnya), harus ke tempah sampah warna apa. Tapi karena ada keterangan kategorisasi yang cukup mudah ditangkap, akhirnya dia bisa memutuskan: tempat sampah mana yang pas untuk sampahnya.
Sebenarnya, Anton sudah cukup akrab dengan konsep pemilahan sampah. Karena di lingkungan kosnya, mahasiswa di Semarang itu sudah mendapati kesadaran kolektif perihal pemilahan sampah melalui bank-bank sampah yang tersedia.
“Belajarnya memang baru-baru ini. Tapi kalau dibiasakan, nanti akan terbiasa juga. Karena ini penting untuk merawat bumi,” ucap Anton.
Memang hanya bermula dari tempat sampah. Namun, trisna jalaran saka kulina (seseorang akan punya kesadaran mencintai (bumi) dari pembiasaan-pembiasaan kecil (memilah sampah) yang dilakukan terus-menerus.
Festival Dandangan 2026: mentradisikan “merawat bumi dan menjaga lingkungan”
Baik Sarminah, Andre, dan juga Anton mengapresiasi langkah panitia Festival Dandangan tahun ini yang memasukkan nilai peduli lingkungan di tengah sorotan utama melestarikan tradisi nenek moyang dan memajukan ekonomi warga.

“Saya selalu ajarkan ke anak-anak kalau kebersihan sebagian dari iman,” kata Andre.
Begitu pula yang diyakini oleh Mutiara Diah Asmara selaku Director Communication Djarum Foundation. Kata Mutiara, BLDF percaya, bahwa sebuah tradisi juga punya peran penting dalam konteks menjaga lingkungan.
“Pada momen inilah kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah sejak awal menjadi praktik nyata, yang mencerminkan kepedulian kita terhadap lingkungan dan keberlanjutan tradisi itu sendiri,” ujarnya.
Mutiara menegaskan BLDF berkomitmen penuh dalam pengolahan sampah organik hingga acara Festival Dandangan berakhir pada Rabu (18/2/2026) nanti, bahkan di acara-acara mendatang. Karena melalui gerakan Kudus Apik Resik, lanjut Mutiara, BLDF bertekad mewujudkan Kabupaten Kudus yang apik, resik, dan nyaman.
“Kami berharap Dandangan Kudus tahun 2026 tidak hanya meninggalkan kemeriahan, tetapi juga meninggalkan kebiasaan dan praktik yang baik, serta menjaga lingkungan, memilah sampah dan merawat ruang publik bersama,” tutup Mutiara.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Menemukan Hal Baru di Festival Dandangan Kudus 2026 setelah Ratusan Tahun, Tak Sekadar Kulineran dan Perayaan Sambut Ramadan dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














