Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Histori

Cerita Penjaga Makam KH Ahmad Dahlan di Jogja, Peziarah Malah Banyak Rombongan Warga NU dari Jatim

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
11 Juni 2024
A A
makam kh ahmad dahlan.MOJOK.CO

Ilustrasi makam KH Ahmad Dahlan (Ega/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Makam KH Ahmad Dahlan di Karangkajen Jogja menyimpan kisah unik. Banyak rombongan NU dengan bus-bus besar yang menziarahi pendiri Muhammadiyah ini.

***

Iklan

Tak ada peziarah lain saat saya berkunjung ke Makam Islam Karangkajen, tempat KH Ahmad Dahlan dikebumikan. Suasana sunyi. Di luar pagar makam, hanya ada beberapa warga yang sedang bercengkerama di teras rumah.

Saya berkunjung ke Makam KH Ahmad Dahlan pada Selasa (11/6/2024) sekitar pukul 10 siang. Kompleks pemakaman berada di tengah permukiman padat. Akses untuk mobil terbatas. Bahkan, saya melewati rute lain lewat sisi utara berupa gang sempit yang nyaris tak muat untuk kendaraan roda empat.

Motor saya parkirkan di depan rumah warga. Lalu melangkah dari pintu utara Pemakaman Islam Karangkajen. Begitu masuk, di sisi timur saya langsung tampak jelas sebuah tanda di bagian dalam pagar bertuliskan “Makam Pahlawan Nasional KH Ahmad Dahlan”.

Makam pendiri Muhammadiyah itu sederhana. Bentuknya seperti tanpa nisan, hanya cor-coran pendek berbentuk persegi panjang yang di tengahnya diisi bebatuan. Lalu sekelilingnya ditumbuhi rumput jepang.

makam kh ahmad dahlan di karangkajen jogja sering diziarahi orang nu.MOJOK.CO
Makam KH Ahmad Dahlan bersama tokoh Muhammadiyah lainnya (Hammam/Mojok.co)

Makam KH Ahmad Dahlan, satu barisan dengan empat tokoh Muhammadiyah lain. Dua di antaranya mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah yakni KH Ahmad Badawi dan KH Ibrahim. Lalu ada makam KH Noor, penghulu Keraton Yogyakarta dan Aisyah Hilal, mantan Pemimpin Redaksi Suara Aisyiah.

Pada larik yang sama, meski agak terpisah, ada makam mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah lainnya yakni KH AR Fakhruddin dan KH Azhar Baasyir. Begitu banyak tokoh yang dikebumikan di Makam Islam Karangkajen.

Ketika makam KH Ahmad Dahlan kerap diziarahi rombongan warga NU dari Jawa Timur

Setelah berdoa sejenak, saya lalu kembali keluar pagar kompleks makam. Mencari tahu kepada warga sekitar siapa sosok pengelola makam ini. Ternyata, sosok itu bernama Nursamhudi (61), yang halaman rumahnya jadi tempat saya parkir kendaraan.

Lelaki yang jadi penjaga makam sejak 2015 lalu ini lalu keluar rumah dan menemui saya. Ia meneruskan tugas yang sudah turun temurun sejak orang tuanya. Sebelum Nursamhudi, tugas itu diemban oleh kakaknya, Nurhadi.

Menurutnya, makam KH Ahmad Dahlan memang tak setiap hari ramai peziarah. Terakhir, sehari sebelumnya, baru ada rombongan sekitar 100 orang dari Pemkot Yogyakarta yang melakukan ziarah ke kompleks makam ini.

“Kalau warga Muhammadiyah memang nggak terlalu sering ziarah. Juga biasanya datangnya tidak berombongan. Paling ramai biasanya kalau menjelang Ramadan dan saat mau ada Muktamar Muhammadiyah,” ungkap Nursamhudi.

Sebagai orang yang pernah menimba ilmu selama enam tahun di institusi pendidikan milik Muhammadiyah, jujur saya juga baru pertama kali ini menziarahi makam KH Ahmad Dahlan. Sejauh ingatan saya, ziarah memang bukan jadi suatu ritus yang kerap dibicarakan di kalangan kami.

Nursamhudi lalu bercerita, bahwa rombongan besar justru biasanya datang dari kalangan warga NU. Bahkan, mereka datang dari luar daerah.

Iklan

“Banyak Mas, warga NU itu datang dari Jawa Timur. Bisa tiga sampai lima bus rombongannya. Parkirnya ya di Jalan Sisingamaraja, terus jalan ke sini,” kata dia.

“Parkirnya di depan Hotel Olimpic biasanya,” timpal seorang lelaki yang juga sedang duduk di teras rumah Nursamhudi.

Terakhir, ada rombongan dari Tuban yang mengabari akan ziarah pada awal Juni 2024 ini. Tujuan utamanya ke makam KH Fatchurrohman K, mantan Menteri Agama kedua Indonesia. Namun, sekaligus hendak berdoa di makam KH Ahmad Dahlan.

“Beberapa waktu lalu mengabari, tapi sampai mau pertengahan Juni ini belum datang-datang,” tutur Nursamhudi.

Tempat dimakamkannya tokoh-tokoh besar Islam Indonesia

Lelaki ini lalu mengajak saya kembali masuk ke makam. Ia menunjukkan makam Prof Yunahar Ilyas, salah satu tokoh besar Muhammadiyah yang tutup usia pada 2020 silam.

“Ini sebenarnya cor-corannya masih agak terlalu tinggi. Tapi masih sesuai standar. Kalau patokan idealnya itu seperti makam KH Ahmad Dahlan yang seperti tidak ada nisannya,” ungkapnya.

Di Makam Islam Karangkajen memang tak ada nisan besar. Semuanya tampak sederhana. Bahkan, sejumlah makam sudah ditumpuk untuk dua hingga tiga jenazah yang merupakan ahli warisnya.

Kami lanjut berkeliling. Di makam ini, banyak makan yang di sampingnya terdapat tiang kecil dengan motif bendera Indonesia. Tanda pejuang kemerdekaan.

“Kalau pahlawan nasional di sini ada dua, KH Ahmad Dahlan dan Lafran Pane,” tuturnya.

kompleks makam pendiri muhammadiyah.MOJOK.CO
Nursamhudi mengajak berkeliling Makam Islam Karangkajen (Hammam/Mojok.co)

Lafran Pane, merupakan pendiri organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 6 November 2017 berdasarkan Keppres RI No 115/TK/ Tahun 2017.

Mereka yang dimakamkan di di sini merupakan orang yang punya hubungan keluarga dengan Warga Karangkajen. Lafran Pane misalnya, sosok yang berasal dari Padang Sidempuan, Sumatera Utara ini memang tak berdarah Jogja. Namun, anaknya mempersunting istri yang berasal dari Karangkajen.

“Sekarang makam ini sudah penuh sekali. Makannya, banyak yang sudah modelnya ditumpuk dalam satu liang,” terang Nursamhudi.

Ziarah di mata orang Muhammadiyah

Bagi sebagian kalangan Muhammadiyah, ziarah bukan merupakan aktivitas yang sering dilakukan. Nabhan Mudrik (26) misalnya, aktivis muda Muhammadiyah ini mengaku baru dua tahun terakhir ini melakukan ziarah ke makam KH Ahmad Dahlan.

“Padahal aku dari TK sampai SMA di sekolah Muhammadiyah. Bahkan SMP-SMA di Jogja. Ya baru belakangan ini ziarah sekitar dua kali,” ungkapnya.

Menurutnya, dulu ia menganggap ziarah merupakan hal yang tabu. Tidak dilarang, tapi agak dihindari untuk mencegah potensi hal-hal yang menurutnya tidak sesuai akidah.

“Nggak bisa dimungkiri bahwa dulu banyak yang terlalu kaku dengan ziarah. Agak ketularan dengan Islam yang terlalu konservatif. Tapi sekarang sebenarnya sudah mulai lumrah dilakukan di kalangan kami,” kata dia.

Namun, ada pula warga Muhammadiyah yang sejak lama kerap menziarahi makam KH Ahmad Dahlan. Budhi Hermanto salah satunya, ia sudah lebih dari 10 kali ziarah ke tempat tersebut.

Bahkan aktivis Muhammadiyah ini juga kerap menziarahi ulama atau guru yang ia kagumi di berbagai kota.  Namun, seringnya memang tidak secara khusus pergi dengan niat melakukan ziarah.

“Sunan Gresik, Sunan Gunungjati, sampai Guru Sekumpul (Muhammad Zaini Abdul Ghani) itu pernah saya ziarahi. Semuanya tidak secara  khusus datang tapi kebetulan lewat daerah tersebut,” ungkap Budhi.

Menurutnya, ziarah di kalangan warga Muhammadiyah tidak jadi ritus yang dikhususkan. Kebanyakan biasanya mengunjungi makam orang tua atau guru. Momennya menjelang puasa atau setelah lebaran dan dilakukan sambil membersihkan makam.

“Ziarah itu di Muhammadiyah dilakukan dengan berdoa seperti biasa. Mendoakan orang tua, guru, atau ahli kubur,” pungkasnya.

Sehingga, sebenarnya warga Muhammadiyah pun biasa dengan ziarah. Meskipun tidak seintens warga NU dalam melakukannya.

Penulis: Hammam Izzuddin

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Semua akan Menjadi Muhammadiyah pada Waktunya

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 13 Juni 2024 oleh

Tags: kh ahmad dahlanmakam kh ahmad dahlanMuhammadiyahnu
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO
Kabar

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Siswa Katolik di Muhammadiyah Pekalongan. MOJOK.CO
Sekolahan

Cerita Siswa Katolik Suka Otak-atik Motor hingga Lulus dari SMK Muhammadiyah dan Dapat Beasiswa Magang ke Jepang 

18 Mei 2026
Tapak Suci Unair. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

7 Agustus 2026
Alumnus Peternakan UMM Kerja Jadi Manager di Australia. MOJOK.CO

Dulu Kuliah Tanpa Punya Laptop, Alumnus UMM Ini Buktikan Bisa Kerja di Australia sebagai Manajer Peternakan

11 Agustus 2026
El Nino.MOJOK.CO

Ancaman El Nino Kuat Intai Indonesia, Waspada Kekeringan Ekstrem dan Kebakaran Hutan

11 Agustus 2026
Lomba Agustusan di desa jadi toxic dan merusak moral anak muda gara-gara paparan kreator konten di media sosial MOJOK.CO

Lomba Agustusan di Desa Jadi Toxic dan “Merusak” Anak Muda karena Terpapar Konten Kreator, Tidak Seasyik Dulu

8 Agustus 2026
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, pastikan jaga Lokananta Bloc sebagai kawasan ramah anak MOJOK.CO

Wali Kota Surakarta Pastikan Jaga Lokananta Bloc sebagai Kawasan Ramah Anak dan Ruang Kreatif Anak Muda

9 Agustus 2026
Kemiskinan DIY menurun. MOJOK.CO

Jumlah Orang Miskin di Yogyakarta Berkurang, Penurunannya Jadi yang Tertinggi di Jawa pada Maret 2026

6 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.