Kesalahan karena hanya lihat daftar dan gambar menu
Saat datang ke meja pesanan, mata Prian langsung tertuju ke daftar menu. Mencoba mencari yang menarik. Sampai kemudian pilihan ia jatuhkan ke nasi goreng, karena rasa-rasanya ia hanya cocok makan menu tersebut.
Kesalahan Prian adalah: ia hanya fokus pada menu, tapi telat menyadari harga yang harus dibayarkan untuk menebus nasi goreng itu.
“Ternyata harga nasgor Rp35 ribu. Rata-rata segitu sampai Rp40 ribu. Aku kan kaget. Waduh, masa nasgor semahal itu,” ucap Prian.
Tapi ya mau bagaimana lagi. Dia sudah kepalang tanggung memesan dengan penuh percaya diri. Tapi baru dia sadari kalau sebenarnya ada harga lebih mura: Popmie.
User bus ekonomi Sumber Selamat makan di kantin kereta api: terlanjur berekspektasi berujung merana
Karena sudah kepalang memesan, Prian pun hanya bisa berekspektasi: kalau harganya segitu mahal, ah sepertinya nasi gorengnya bukan sebagaimana nasi goreng yang kerap ia beli di gerobak pinggir jalan.
Bagi user bus ekonomi Sumber Selamat kaum mendang-mending seperti Prian, nasi goreng seharga Rp35 ribu jelas terlampau mahal. Sebab, biasanya, di gerobak pinggir jalan, ia bisa membeli nasi goreng di harga Rp12 ribu hingga Rp15 ribu.
“Tapi pas menu terhidang, saya makin nyesel sudah pesan nasgor. Ternyata ekspektasiku aja yang terlalu tinggi. Rasa biasa saja, lebih bikin kenyang nasgor gerobakan juga,” ucap Prian sembari terkekeh mengingat momen pertama kali makan di kantin kereta api tersebut.
Tapi ternyata bukan hanya Prian yang pernah merasakan hal yang sama. Sebab, saat menceritakan pengalamannya tersebut, beberapa teman Prian sembari tertawa juga mengakui hal serupa.
Misalnya, oke beli bakso seharga Rp25 ribu dari yang kalau sehari-hari beli di harga Rp10 ribu-Rp15 ribu. Oke, beli cuanki karena kalau di gambar menu tampak sangat menggoda.
Akan tetapi, menu-menu itu berujung memberi penyesalan bagi kaum mendang-mending dan berkantong tipis seperti Prian dan teman-temannya. “Memang, kalau masih di level mendang-mending nggak usah coba-coba deh. Belum cocok mengeluarkan duit agak banyak untuk sesuatu yang nggak sesuai ekspektasi. Tapi ya sudah lah, aku tetep love KAI,” pungkas Prian diiringi tawa.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kereta Api Ekonomi Memang Nyiksa Punggung dan Dengkul, Tapi Penuh Pelajaran Hidup dan Kehangatan dari Orang-orang Tulus atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














