Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Tahlilan Jadi Beban Fisik dan Mental bagi Perempuan: Tidak Diberi Ruang Berduka karena Tuntutan Amplop hingga Suguhan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
1 Juli 2026
A A
Tahlilan jadi acara yang tidak empati pada perempuan. Tak punya jeda untuk berduka karena harus mikir suguhan hingga amplop kiai-tamu undangan MOJOK.CO

Ilustrasi - Tahlilan jadi acara yang tidak empati pada perempuan. Tak punya jeda untuk berduka karena harus mikir suguhan hingga amplop kiai-tamu undangan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Meski secara hukum Islam tahlilan tidak diwajibkan, tapi di tengah masyarakat sudah terlanjur mengakar menjadi keharusan. Masalahnya, tahlilan justru menjelma menjadi acara yang tidak empati terhadap perempuan (anak atau istri) yang sedang berduka. 

***

Iklan

Navia (26) berterima kasih kepada seorang warganet—sesama perempuan—yang belakangan speak up keresahannya terhadap tahlilan. 

Sebagai orang yang tumbuh dalam kultur pesantren, Navia belajar bahwa orang yang datang takziah seharusnya memberi penghiburan bagi keluarga yang tengah berduka. 

Beberapa ulama, lanjut Navia, bahkan menyebut, hiburan yang diberikan tidak hanya seputar dukungan moral-psikologis. Tapi juga berupa sumbangan: entah beras, uang, atau sejenisnya yang sekiranya bisa meringankan beban anggota keluarga yang baru saja ditinggalkan. Terutama jika yang meninggal adalah bapak atau suami sebagai figur utama pencari nafkah. 

“Tapi yang terjadi di masyarakat kita kan nggak gitu. Alih-alih menghibur, mereka yang datang takziah, dan kemudian nanti berlanjut ke tahlilan, justru memberi beban baru ke kami, perempuan yang ditinggalkan,” ungkap Navia, Senin (20/6/2026). 

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Rumpi Gosip Official (@rumpi_gosip)

Tidak ada ruang untuk berduka bagi perempuan

Ingatan Navia lekat saat bapaknya meninggal pada awal 2022 lalu. Navia dan ibunya tengah berusaha mencerna kenyataan pahit yang harus mereka hadapi. Sang ibu bahkan sampai pingsan berkali-kali. 

Saat itu, Navia dan ibunya bahkan tidak kuasa melihat jasad lelaki kepala keluarga mereka yang sudah terbujur kaku berbuntal kafan. 

“Ibu itu sampai gini, pingsan, sadar, pas lihat jasad ayah, pingsan lagi. Jadi aku bawa ke kamar. Kutemani. Kami masih coba sama-sama mencerna duka,” beber Navia. 

Saat itu, Navia memang memasrahkan urusan pulasara jenazah ayahnya pada pamannya. Namun, meski begitu, beberapa kali kamar Navia diketuk oleh saudara (sama-sama perempuan). 

Iklan

“Ada tamu banyak, jangan di kamar aja,” begitu bisik si saudara. “Mewakili ibumu kalau ibumu nggak bisa.” 

Sontak saja emosi Navia meletup. Di depan pintu kamar, ia bicara dengan nada tinggi bahwa ia dan ibunya butuh ruang barang sebentar saja. Alhasil, dengan pikiran dan perasaan yang berantakan, Navia harus meladeni satu persatu tamu yang datang. 

“Maksudku kan bisa gitu dia (saudara) yang nerima tamu terlebih dulu,” ujar Navia. 

Amplop kiai dan beban suguhan untuk tahlilan

Hanya saja, bagi Navia, ada situasi yang lebih mengganggu dari persoalan tersebut: yakni betapa tidak ada jeda bagi Navia dan ibunya untuk meleram duka karena tahlilan yang harus disegerakan. 

Ayah Navia dimakamkan sekitar jam 10 pagi. Setelahnya, alih-alih bisa benar-benar punya ruang bagi dukanya, Navia dan ibunya harus berhadapan dengan pertanyaan dan hitung-hitungan: malam nanti mau memberi suguhan apa untuk acara tahlilan? 

“Harus menghitung pula, biaya kami berapa buat menjamu tamu-tamu yang datang tahlilan nanti,” kata Navia. 

Masalahnya, lingkungan Navia sudah kadung memposisikan tahlilan sebagai ritus wajib, meski hukum asalnya adalah sunnah. Maka seharusnya jika tidak mengadakan acara tahlilan berjemaah—karena keterbatasan ekonomi misalnya—maka tidak ada masalah secara syariat. Cukup tahlilan—mengirim doa-doa baik—bersama keluarga sendiri. Karena esensi tahlilan memang ada pada mendoakan almarhum. 

“Tapi di masyarakat kita kan, kalau ada orang nggak bikin tahlilan, malah dikesankan aneh, bahkan kalau di lingkunganku dianggap agak sesat,” tuturnya. Maka, susah betul jika sebuah keluarga yang tengah berduka tidak hendak menggelar tahlilan.

Sekali bikin tahlilan, maka harus berurutan sebagaimana hitungan yang sudah dipakai di tengah masyarakat. Misalnya, 7 harian, 40 harian, 100 harian, hingga 1000 harian. Semuanya butuh biaya: untuk suguhan maupun amplop untuk kiai atau modin yang memimpin tahlilan. 

Bagi Navian, di titik ini, takziah telah bergeser maknanya. Karena pada akhirnya, seluruh beban biaya tahlilan harus ditanggung sendiri oleh pihak keluarga yang berduka. Sementara jika mengadakan, maka akan ke sanksi sosial. 

“Akhirnya apa? Ya antara dua: jual aset peninggalan bapak sama utang. Mau gimana lagi. Ya gimana-gimana selama ini tulang punggung keluarga kami ya bapak. Pas bapak nggak ada, kami punya apa?” ucap Navia getir. 

“Mangkanya aku itu concern, sepertinya para pemuka agama, dari organisasi manapun, harus menekankan bahwa tahlilan itu bukan wajib. Pelan-pelan dari situ bisa mengubah cara pandang masyarakat,” tutupnya. 

Lelah fisik dan mental yang diabaikan

Keresahan serupa juga dituturkan oleh Wafiq (24), perempuan asal Jawa Tengah. 

Lelah fisik dan mental. Dua kata itulah yang bisa menggambarkan situasi perempuan saat ditinggal meninggal dan harus berhadapan dengan hukum sosial tahlilan. 

Ketika sang ayah meninggal setahun yang lalu, sejak hari pertama hingga ketujuh, ia dan ibunya harus sibuk berjibaku di dapur. Belanja, memasak, menata suguhan, hingga nantinya beres-beres rumah. 

“Karena dapur dan printilannya kan sudah diasosiasikan sebagai tugas perempuan. Sebenarnya memang ada rewang dari saudara atau tetangga. Tapi gimana-gimana, aku dan ibu sebagai tuan rumah kan harus terlibat penuh pada akhirnya,” keluh Wafiq. 

Tujuh hari berturut-turut Wafiq dan ibunya harus berkutat di dapur. Kalau malam, masih harus bergadang untuk menjamu tamu dari kalangan ibu-ibu dan membereskan piring bekas makanan dan sampah-sampah berserakan bekas tahlilan. 

“Aku relate ketika di medsos ada yang bilang, setelah tahlilan, karena bapak-bapak masih ngumpul, nggak pandang bulu menuntut agar kebutuhan mereka seperti kopi agar dihidangkan. Ya nggak pandang bulu, aku atau ibuku sebagai orang yang baru saja berduka, nggak luput diperintah-perintah buat bikin kopi atau menyediakan makan malam tambahan,” jelas Wafiq. 

Wafiq malah merasa, perasaan duka menjadi kondisi yang diabaikan begitu saja. Narasi yang digembar-gemborkan selalu soal mengikhlaskan. Padahal meleram duka itu butuh waktu. 

Alhasil, yang terjadi tidak hanya lelah fisik karena kesibukan (misalnya) selama 7 hari beruntun menggelar acara tahlilan. Tapi juga menyerang mental karena sudah berduka eh malah ditimpa banyak beban sosial. 

Beban ekspektasi yang toksik dan memuakkan

Belum lagi beban ekspektasi. Di lingkungan Wafiq, pihak keluarga yang berduka juga harus berhadapan dengan beban ekspektasi yang toksik dan memuakkan. 

Orang-orang yang datang untuk tahlilan, kata Wafiq, menaruh ekspektasi perihal suguhan dan isian dalam berkatan. 

Wafiq memang tidak mengalami. Tapi ia mengaku beberapa kali mendapati: ketika ada orang yang hanya bisa memberi suguhan atau berkatan tahlilan sekadarnya, ujung-ujungnya malah akan dipaido (dicerca). Bahkan juga bisa dianggap terlalu pelit dan tidak menghargai tamu. 

“Di tempatku masih umum loh, punya ekspektasi kalau berkatan di hari ketujuh itu nanti isinya ada amplopnya. Ada amplopnya pun masih dipaido, misalnya cuma nominal kecil,” ungkap Wafiq. 

Wafiq hanya bisa geleng-geleng kepala mendapati kenyataan tersebut, sampai akhirnya belakangan banyak perempuan yang mulai berani speak up. Karena memang, menurutnya, tahlilan harus dikembalikan pada esensinya sebagai ketentuan syariat, bukan malah menjadi beban sosial. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 1 Juli 2026 oleh

Tags: beban sosial tahlilanhukum tahlilanhukum tahlilan 7 haritahlilan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Tahlilan ibu-ibu di desa: acaranya positif tapi ternodai kebiasaan gibah dan maido MOJOK.CO
Sehari-hari

Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido

28 April 2026
Kenapa Kiai Kholil Tak Selalu Komplet Ikut Yasinan dan Tahlilan 7 Hari?
Khotbah

Kenapa Kiai Kholil Tak Selalu Komplet Ikut Yasinan dan Tahlilan 7 Hari?

10 Juli 2020
Khotbah

Mereka yang Haramkan Tahlilan dan Shalawatan Mungkin Mengukur Diri Terlalu Tinggi

16 November 2018
Esai

Kiat Jadi Warga Baru di Kampung ala Iqbal Aji Daryono

30 Juni 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kisah pemilik Yamaha Fazzio hitam di Jogja. MOJOK.CO

Gelontorkan Tabungan Jutaan Rupiah demi Modifikasi Fazzio: Cara Manis Anak Muda Jogja Menghargai Kepedulian Orang Terdekat

30 Juni 2026
Tahlilan jadi acara yang tidak empati pada perempuan. Tak punya jeda untuk berduka karena harus mikir suguhan hingga amplop kiai-tamu undangan MOJOK.CO

Tahlilan Jadi Beban Fisik dan Mental bagi Perempuan: Tidak Diberi Ruang Berduka karena Tuntutan Amplop hingga Suguhan

1 Juli 2026
Satu Dekade Land of Leisures: Merawat Standar Kurasi dan Meneteskan Rezeki hingga Akar Rumput

Satu Dekade Land of Leisures: Merawat Standar Kurasi dan Meneteskan Rezeki hingga Akar Rumput

30 Juni 2026
Kedai Kopi Dinasty di Surabaya milik alumnus Unesa. MOJOK.CO

Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling

30 Juni 2026
Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional, MLSC.mojok.co

Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional

30 Juni 2026
Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha Terbaik Idola Orang Jambi MOJOK.CO

Setelah Melakukan Pengamatan, Saya Menemukan Fakta Bahwa Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha yang Menemukan Habitat Alaminya di Jambi

25 Juni 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.