Terpaksa tetap dipakai demi orang tua yang sudah cari jauh-jauh ke Bantul
Alasan penerimaan Elisabeth sebenarnya bukan cuma karena “kepasrahan”. Elisabeth mengakui bahwa dirinya merasa harus mengapresiasi orang tua yang sudah mengusahakan motor itu dengan susah payah.
Bayangkan, ayahnya terbang dari Kalimantan Tengah ke Semarang, kemudian melanjutkan ke Jogja. Setelah itu, ayah Elisabeth masih mengusahakan mencari motor untuknya dengan mengelilingi satu per satu showroom di Jogja.
“Ayahku nyarinya ke showroom itu satu satu,” katanya.
Tidak sampai di situ, ia bilang, perjalanan pencarian Supra ini berlanjut dari Sleman sampai ke Bantul. Itulah nilai “perjuangan” yang dibanggakan ayah Elisabeth ketika dikonfrontasi bahwa anaknya sebenarnya menginginkan motor matic.
“Dia bangga aja sudah dapat motor. Soalnya, sampai Bantul kan nyarinya,” katanya.
Maka dari itu, Elisabeth mencoba menjadi anak berbakti dengan tidak melanjutkan perdebatan. Ia tidak mau mempermasalahkan sebagai seorang anak, hanya menerima hadiah motor itu, meskipun tidak sesuai dengan seleranya.
“Aku ya sudah jadinya, menerima aja perjuangannya,” tutupnya.
Sampai hari ini, motor Supra masih menjadi teman Elisabeth mengarungi jalanan Jogja dalam berkuliah. Demi perjuangan sang ayah, sekalipun dicap “jadul”.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak Good Looking demi Selamatkan Dompet dan Nyawa dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














