Seorang pramugari asal Surakarta ini harus melepaskan cita-citanya atau resign setelah menikah dan beralih karier jadi pedagang kopi keliling. Bukan karena salah pilih suami, tapi rasa bosan yang menyelimuti kehidupan setelah menikah.
Pramugari adalah cita-cita saya sejak kecil
Pada 2015 lalu, cita-cita Verena Ayu (29) akhirnya terwujud. Waktu itu, ia sama sekali tak kepikiran untuk kuliah dan langsung mendaftar sebagai pramugari setelah lulus SMK. Di awal-awal mendaftar, ia sempat mengalami penolakan.
Setahun berselang, ia mencoba mendaftar untuk yang kedua kalinya sampai akhirnya diterima di maskapai berlogo kepala singa. Betapa senangnya dia saat itu, karena menjadi seorang pramugari adalah cita-citanya sejak kecil, meski pada akhirnya ia harus resign setelah menikah.
“Waktu kecil aku sering diajak ke bandara sama almarhum kakek. Terus aku lihat orang yang berprofesi sebagai pramugari lalu-lalang dan kakek selalu bilang ‘nanti besar jadi pramugari ya,’ pesannya,” cerita Verena sembari mengingat masa lalu, Minggu (1/1/2026).
Selama menjadi pramugari, banyak tantangan yang harus ia hadapi tapi tak ada sedikitpun pikiran untuk resign. Seperti konsekuensi pekerjaan pada umumnya, ia harus jauh dari keluarga. Karena penugasannya lebih banyak di Jakarta, maka ia memutuskan merantau sedangkan keluarganya ada di Surakarta.
“Di hari-hari tertentu seperti libur lebaran atau tahun baru, aku nggak bisa libur jadi sulit bertemu keluarga,” ucap Verena.
Belum lagi jadwal penerbangan pesawat yang padat. Walaupun misalnya, perkiraan waktu keberangkatan (ETD)-nya dimulai dari pukul 09.00 WIB dan berakhir pada 16.00 WIB, tapi Verena harus sudah ada di bandara setidaknya dari pukul 07.30 WIB untuk sign on.
Jika terdapat jadwal penerbangan lanjutan pada keesokan harinya dan bukan karena kerusakan, maka Verena harus mematuhi prosedur remain overnight atau RON. Di mana, ia harus menginap semalaman di bandara tujuan atau transit. Selain itu, pesawat juga perlu dirawat dan dibersihkan.
“Biasanya bisa 2-6 hari harus stay di beberapa kota. Jadi 6 hari kerja, 1 hari libur,” jelas Verena.
Usai resign dan menikah, terjebak pada rasa bosan
Setelah 8 tahun menjalani profesi sebagai pramugari, Verena pun memutuskan resign. Keputusan itu tak benar-benar menyedihkan, sebab salah satu alasan utamanya resign adalah menikah dan harus mengikuti jejak suaminya di Surakarta.
Jelas Verena bahagia dan menerima keputusan tersebut, tapi ia baru menyadari kalau dia adalah tipe orang yang tidak bisa diam. Ada perasaan bosan setelah resign, padahal selama ini ia selalu sibuk ke sana ke mari. Mendengar curhatan istrinya, sang suami menawarkan Verena pekerjaan yang lebih fleksibel guna mengobati kebosanan.
“Suamiku punya kenalan yang lagi buka franchise kopi keliling, kebetulan karena aku lagi ingin usaha jadi aku terima tawaran tersebut,” ucapnya.
Kisah alih profesi itu pernah Verena unggah di media sosialnya dan malah mendapat hujatan dari beberapa orang. Salah satunya, ada ibu-ibu yang tidak dia kenal tiba-tiba mengirim pesan di Facebook.
Ia langsung mengklaim Verena ‘salah pilih suami’ karena setelah menikah ia masih harus bekerja. Bahkan dari pekerjaan yang tadinya profesional menjadi tukang kopi keliling. Padahal, Verena sama sekali tak punya pendapat semacam itu.
“Perempuan bekerja setelah menikah bukan berarti salah suami. Toh, aku bekerja ini hanya untuk hobi bukan jadi sumber nafkah utama,” ujarnya.
Alih-alih meladeni orang yang tidak dikenal, Verena memilih diam. Tidak membalas pesan tersebut. Perempuan asal Surakarta itu mengaku sudah terbiasa karena profesinya menjadi pramugari dulu.
“Aku sudah sering mengurus penumpang yang marah-marah. Kalau sudah begitu, aku hanya senyum dan minta maaf. Sementara untuk kasus ini, aku cuman bisa senyum tanpa membalas,” kata Verena.
Mencari hobi baru untuk menghadapi perubahan
Benar saja, setelah resign dan menjadi tukang kopi keliling, Verena tidak lagi bosan berdiam diri di dalam rumah usai menikah. Saat pertama kali berjualan, Verena mengaku masih belum tahan panasnya Kota Surakarta apalagi kalau hujan.
Perubahan cuaca yang tak menentu sering kali bikin Verena bad mood tapi dari sana ia belajar untuk mempertahankan kebiasaannya saat menjadi pramugari dulu. Yakni dengan merias diri, memakai baju rapi, dan selalu tersenyum ke pelanggan. Dengan begitu, ia bisa membangun suasana yang lebih baik.
“Perubahan itu pasti ya tapi untungnya justru ke arah yang lebih baik. Jadi aku lebih bersyukur dan memilih hidup yang sederhana,” ucapnya.
In this economy, Verena tak menampik jika mencari pekerjaan saat ini terbilang susah. Belum lagi melemahnya daya beli masyarakat, maraknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), serta ketidakpastian global yang menekan nilai tukar Rupiah.
Oleh karena itu, alih-alih malu beralih berprofesi, Verena justru bersyukur karena masih bisa belajar hal baru yang menghasilkan cuan. Meski kondisi ekonomi keluarganya saat ini terbilang stabil, tapi ia tetap merasa perlu jaga-jaga saat dunia sedang tidak baik-baik saja.
“Namanya juga hidup, kita nggak pernah tahu ke depannya akan seperti apa, mau bagaimana? Jadi nggak ada salahnya setelah menikah istri tetap bekerja,” kata Verena.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Pilih Tidak Menikah demi Fokus Bahagiakan Orang Tua, Justru Merasa Hidup Lebih Lega dan Tak Punya Beban atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














