Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
2 April 2026
A A
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Ilustrasi - Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Rumah besar di desa memang bisa menjadi simbol status sosial: orang kaya. Namun, simbol tersebut terasa percuma karena rumah besar tersebut nyatanya terasa hampa, tanpa kehangatan, dan penuh kepalsuan. Justru iri dengan rumah kecil sekadarnya. 

***

Sebelumnya, Mojok pernah menulis salah satu faktor kenapa punya rumah besar di desa bisa menjadi terasa sangat percuma. Sebab, rumah besar tersebut dibangun atas dasar mengikuti standar tetangga. 

Untuk memenuhinya, pemilik rumah harus rela berlama-lama merantau di luar negeri. Sehingga rumah tersebut tidak lebih dari sekadar pajangan: dibangun dengan banyak pengorbanan dan tuntutan, tapi kenyamanannya tidak pernah bisa dirasakan. Bisa dibaca dalam tulisan, “Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti”.

Tapi, selain itu, masih ada beberapa hal lain yang membuat seseorang merasa: punya rumah besar di desa ternyata tidak ada artinya karena terasa sangat hampa. Pokoknya seperti ada lubang besar di hati meski properti tersebut sudah memberi status “kaya”. 

Iri pada hiruk-pikuk “gubuk kecil-sekadarnya”, bukan karena tidak bersyukur

Obrolan ini bermula ketika seorang teman, panggil saja Janjan (28), mengaku iri dengan hiruk-pikuk di rumah ibu saya yang kecil dan sekadarnya. Sebelum direnovasi, ibu bahkan menyebutnya sebagai “gubuk kecil”. Yang penting bisa buat berteduh. 

Rumah saya di desa, Rembang, Jawa Tengah, berada jauh dari pusat keramaian desa. Lokasinya berada di ledokan yang dikelilingi sawah dan kebun. Hanya ada dua rumah di sana: rumah gebyok milik simbah dan rumah kecil ibu saya di depannya. Rumah ibu dan simbah dipisah sebuah halaman yang tidak begitu luas. Sementara rumah-rumah tetangga berada di area atas. 

Janjan mengaku, beberapa kali main ke rumah ibu saya, ia menjadi iri. Pertama karena suasana hening yang tersaji. Kedua, ia melihat, betapa rumah ibu dan simbah kerap menjadi titik temu: baik saudara maupun tetangga. 

Tidak ada rasan-rasan. Tidak ada adu pencapaian. Setiap pertemuan adalah untuk membincangkan hal-hal sederhana, sambat soal kondisi sulit, paling sering yang makan bersama: sekadar makan nasi+telur-ikan laut+sambal mentah. Itu sudah nikmat sekali. Namanya budaya nyelalak: makan bareng dengan sambal celalak (sebutan untuk sambal mentah). 

“Rumahmu lebih besar, lebih nyaman. Bersyukur lah,” goda saya. 

“Bukannya nggak bersyukur. Tapi percuma punya rumah besar tapi hampa,” jawab Janjan. 

Baca lanjutannya di halaman selanjutnya…

Rumah besar di desa percuma: memang terlihat kaya tapi hampa dan penuh kepalsuan

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 2 April 2026 oleh

Tags: hubungan keluarga dinginpilihan redaksirumah besar di desarumah di desasimbol kaya di desastandar sukses desastandar tetangga
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO
Urban

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co
Urban

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
In this economy: momen para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan (sulit ekonomi) MOJOK.CO
Urban

In This Economy: Momen Para Laki-laki Merasa Gagal sebagai Anak dan Suami, Gaji Numpang Lewat tapi Bingung Mau Kerja Model Gimana Lagi

1 Juni 2026
Waisak 2026 di Candi Borobudur Magelang jadi momentum bagi sebuah keluarga Buddha asal Temanggung untuk meluruhkan ego diri MOJOK.CO
Eksplor

Waisak di Borobudur untuk Meluruhkan Ego Diri, Menerima Kesadaran atas Renungan “Hidup untuk Apa di Dunia Fana?”

31 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Ilustrasi hidup.MOJOK.CO

Sejatinya Manusia Hidup untuk Mengakali Kematian

2 Juni 2026
Arca Unfinished Buddha yang ada di Candi Borobudur. MOJOK.CO

Ketika Patung “Cacat” Buddha di Lapangan Kenari Borobudur Justru Jadi Pusat Spiritual dan Magnet Doa Saat Waisak

27 Mei 2026
tren olahraga kalcer.MOJOK.CO

Tren dan FOMO Olahraga “Kalcer” yang Mahal Lahir karena Minimnya Fasilitas Publik di Perkotaan

29 Mei 2026
Waisak 2026 di Candi Borobudur Magelang jadi momentum bagi sebuah keluarga Buddha asal Temanggung untuk meluruhkan ego diri MOJOK.CO

Waisak di Borobudur untuk Meluruhkan Ego Diri, Menerima Kesadaran atas Renungan “Hidup untuk Apa di Dunia Fana?”

31 Mei 2026
In this economy: momen para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan (sulit ekonomi) MOJOK.CO

In This Economy: Momen Para Laki-laki Merasa Gagal sebagai Anak dan Suami, Gaji Numpang Lewat tapi Bingung Mau Kerja Model Gimana Lagi

1 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

1 Juni 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.