Rumah besar di desa memang bisa menjadi simbol status sosial: orang kaya. Namun, simbol tersebut terasa percuma karena rumah besar tersebut nyatanya terasa hampa, tanpa kehangatan, dan penuh kepalsuan. Justru iri dengan rumah kecil sekadarnya.
***
Sebelumnya, Mojok pernah menulis salah satu faktor kenapa punya rumah besar di desa bisa menjadi terasa sangat percuma. Sebab, rumah besar tersebut dibangun atas dasar mengikuti standar tetangga.
Untuk memenuhinya, pemilik rumah harus rela berlama-lama merantau di luar negeri. Sehingga rumah tersebut tidak lebih dari sekadar pajangan: dibangun dengan banyak pengorbanan dan tuntutan, tapi kenyamanannya tidak pernah bisa dirasakan. Bisa dibaca dalam tulisan, “Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti”.
Tapi, selain itu, masih ada beberapa hal lain yang membuat seseorang merasa: punya rumah besar di desa ternyata tidak ada artinya karena terasa sangat hampa. Pokoknya seperti ada lubang besar di hati meski properti tersebut sudah memberi status “kaya”.
Iri pada hiruk-pikuk “gubuk kecil-sekadarnya”, bukan karena tidak bersyukur
Obrolan ini bermula ketika seorang teman, panggil saja Janjan (28), mengaku iri dengan hiruk-pikuk di rumah ibu saya yang kecil dan sekadarnya. Sebelum direnovasi, ibu bahkan menyebutnya sebagai “gubuk kecil”. Yang penting bisa buat berteduh.
Rumah saya di desa, Rembang, Jawa Tengah, berada jauh dari pusat keramaian desa. Lokasinya berada di ledokan yang dikelilingi sawah dan kebun. Hanya ada dua rumah di sana: rumah gebyok milik simbah dan rumah kecil ibu saya di depannya. Rumah ibu dan simbah dipisah sebuah halaman yang tidak begitu luas. Sementara rumah-rumah tetangga berada di area atas.
Janjan mengaku, beberapa kali main ke rumah ibu saya, ia menjadi iri. Pertama karena suasana hening yang tersaji. Kedua, ia melihat, betapa rumah ibu dan simbah kerap menjadi titik temu: baik saudara maupun tetangga.
Tidak ada rasan-rasan. Tidak ada adu pencapaian. Setiap pertemuan adalah untuk membincangkan hal-hal sederhana, sambat soal kondisi sulit, paling sering yang makan bersama: sekadar makan nasi+telur-ikan laut+sambal mentah. Itu sudah nikmat sekali. Namanya budaya nyelalak: makan bareng dengan sambal celalak (sebutan untuk sambal mentah).
“Rumahmu lebih besar, lebih nyaman. Bersyukur lah,” goda saya.
“Bukannya nggak bersyukur. Tapi percuma punya rumah besar tapi hampa,” jawab Janjan.
Rumah besar di desa: hampa karena hubungan keluarga
Salah satu hal yang menurut Janjan menjadi penyebab rumah besarnya terasa hampa adalah karena hubungan orang di dalamnya. Dalam hal ini ya keluarga Janjan (orang tua dan adik laki-lakinya).
Selama ini Janjan melihat di tv atau film, rumah besar biasanya menjadi simbol harmoni. Ada momen makan bersama. kumpul keluarga di ruang tengah, dan bentuk-bentuk kedekatan lain.
Namun, nyatanya, bertahun-tahun tinggal di sebuah rumah besar di desa tidak memberinya itu semua. Entah kenapa hubungan antaranggota keluarga terasa dingin. Apalagi sejak ada hp. Orang lebih fokus main hp ketimbang berinteraksi.
“Misalnya aku dan adikku. Jarang banget ngobrol. Dia sibuk hp-an di kamar, akhirnya akupun juga sibuk hp-an di kamar,” katanya.
“Kalau bapak, karena merantau, jadi nggak memang terasa nggak hadir. Tapi bedanya, kamu bisa tetap membangun kedekatan dengan bapak dan ibumu. Tapi aku nggak bisa. Hubunganku terasa biasa saja,” sambungnya.
Ia mengaku iri dengan cerita saya yang setiap pulang ke desa, pasti punya waktu khusus untuk deep talk dengan orang tua. Bahkan kalau hendak berpamitan, saya dan ibu tidak canggung untuk berpelukan.
Tapi saya selalu bingung kalau Janjan atau siapapun bertanya: bagaimana saya memulai kedekatan tanpa canggung seperti itu dengan orang tua?
Rumah besar di desa: jebakan agar tidak ke mana-mana
Kini Janjan malah menyimpulkan, punya rumah besar di desa rasa-rasanya hanya menjadi sebuah jebakan bagi dirinya.
Sejak kecil, ia kerap dilarang sering-sering keluar rumah oleh ibunya. Sekadar untuk main lama atau bahkan menginap di musala atau rumah teman.
“Ya zaman kita kecil dulu kan ada budaya begitu. Anak-anak masih suka tidur musala. Sesekali tidur di rumah teman,” jelas Janjan.
Kata sang ibu, wong sudah punya rumah besar kok tidak kerasan di rumah. Malah mau milih tidur di musala atau rumah teman. Ibu Janjan ingin mengatakan, rumah besar itu otomatis jauh lebih nyaman.
Padahal, bagi Janjan, itu bukan semata perkara nyaman atau tidak nyaman. Rumah besar atau kecil. Tapi kenangan dan kehidupan masa kanak-kanak yang akhirnya harus Janjan lewati begitu saja. Kondisi itu terus berlanjut hingga Janjan tumbuh dewasa.
“Karena punya rumah besar di desa, orang tua bilang, itu bakal jadi warisan buatku sebagai anak pertama. Adikku dapat tanah lain. Tapi itu menjebakku, karena aku tidak bisa merasakan petualangan di banyak tempat (merantau di mana-mana) sepertimu,” gerutu Janjan.
Kehidupan Janjan pada akhirnya memang hanya berkutat di Rembang. Bekerja dari pabrik ke pabrik, dari ritel ke ritel, dengan gaji sekadarnya.
“Rumah besar tapi kalau buat hidup saja pas-pasan kan percuma juga. Iya sekarang bapakku masih sanggup kerja. Kalau nanti sudah nggak, itu masalah,” ujar Janjan.
“Kata ibuku, bapak sudah merantau. Sudah kasih rumah besar di desa. Niatnya biar anak-anaknya itu ya punya kehidupan nyaman di rumah. Nggak usah sampai merantau-merantau,” lanjutnya.
Tidak ada kehangatan, penuh kepalsuan
Status sebagai “orang kaya” hanya karena punya rumah besar di desa dan bapak merantau di luar negeri pun sama menjebaknya bagi Janjan. Sebab, akhirnya tidak ada kehangatan tulus yang ia rasakan. Yang ada justru penuh kepalsuan.
Rumah besar Janjan memang sesekali dikunjungi oleh saudara. Atau sesekali ada juga tetangga yang bertamu. Namun, bukan atas ketulusan keguyuban mereka bertamu. Tapi karena alasan fungsional semata.
“Datang pas butuh. Kasarnya begitu. Ada saudara yang nggak akrab banget, datang tiba-tiba jadi sok akrab karena mau utang. Tapi kalau urusan selesai, ya dingin lagi,” beber Janjan.
Bagi Janjan, itu berbeda sama sekali dengan cerita saya soal tetangga dari keluarga tidak berpunya yang begitu tulus membantu keluarga kami dalam tulisan, “Orang Miskin dan Sulit Ekonomi di Desa Justru Paling Tulus Peduli, Tapi Tak Dihargai karena Tak Bisa Bantu Materi”.
Tapi berapa kali pun Janjan bercerita, saya selalu bingung meresponsnya. Saya hanya bisa menjawab: Mungkin karena kami sama-sama tidak punya harta banyak, jadi kami merasa hanya memiliki satu sama lain.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














