Selalu ada kisah lucu pada pengalaman pertama. Kalimat itu direplikasi dari selalu ada yang pertama untuk segala hal. Yakinlah, dalam kali pertama itu, bisa jadi ada sensasi menghibur yang tidak pernah terpikirkan akan terjadi. Tak terkecuali, yang dialami perantau Minang saat tengah menaiki kereta api (KAI) dalam perjalanan mudik Lebaran pertama.
Perantau Minang gabut di kereta ekonomi dalam perjalanan mudik
Salah satu kisah itu datang dari Ratu Tifani (Tifani) melalui akun TikToknya dengan nama pengguna ratutfni. Perempuan berdarah Minang itu sedang dalam perjalanan menggunakan KAI untuk pulang kampung dari Malang ke Jakarta untuk transit naik bus ke Padang ketika membuat konten hiburannya.
“Saya dalam perjalanan pulang kampung dari Malang ke Jakarta untuk transit naik bus ke Padang,” kata Tifani saat dihubungi Mojok, Kamis (13/3/2026).
Tifani duduk di salah satu kursi Kereta Api (KA) Majapahit kelas ekonomi. Namun, bukan di kursi KA Majapahit yang sudah berganti menggunakan rangkaian ekonomi stainles steel new generation konten tersebut dibuat, melainkan di kereta makan (restorasi) yang menjadi tempat pelarian sebagian penumpang.
Begitu juga kiranya pikir Tifani yang merasa jenuh karena harus menempuh perjalanan selama 13 jam untuk sampai di Jakarta, belum lagi harus melanjutkan perjalanan menggunakan bus. Tak heran, ia menempati salah satu kursi di restorasi dan mencari kegiatan yang dapat menghibur diri.
Meskipun, perempuan yang satu ini mengaku suasana kereta nyaman dan syahdu mengingat perjalanan ini adalah mudik pertamanya. Namun tetap saja, nyaman bukan berarti tidak bosan.
“Suasana di dalam kereta sangat nyaman dan syahdu apalagi dalam momen mudik pertama kali saya,” akunya.
@ratutfni anak rantau pulang kampung dalam keadaan minang bersama #KAI #mahasiswa #mudik #kereta ♬ suara asli – saan suardi 1075
Tiba-tiba terpikir membuat topi minang
Karena merasa bosan, Tifani akhirnya terpikir untuk membuat topi minang atau tikuluak tanduak. Ini adalah salah satu jenis penutup kepala wanita atau tingkuluak dalam budaya masyarakat Minangkabau yang bentuknya menyerupai tanduk.
Jenis penutup kepala ini terbuat dari kain yang dibentuk menjadi selendang panjang. Kemudian, dikreasikan menyerupai tanduk dengan dua sisi kiri dan kanan berbentuk lancip seperti tanduk kerbau.
Biasanya, tikuluak tanduk ini terbuat dari kain songket tenunan yang tebal, berwarna emas atau merah sebagaimana warna khas pakaian adat Minangkabau.
Tidak biasanya, ada yang membuat topi ini dari selimut yang tersedia di kereta api. Itulah yang dilakukan Tifani. “Saya membuat topi Minang atau di Minang sendiri disebut tikuluak tanduak yang terinspirasi dari tanduk kerbau,” ujarnya.
Ia mengaku, pernah melihat beberapa konten tutorial membuat topi Minang tersebut. Karena itulah, tiba-tiba ia terpikirkan untuk mencoba membuatnya sendiri di kereta api karena mengingat selimut yang tersedia.
“Sebelumnya saya banyak melihat konten tenttikuluak tanduak tersebut,” kata Tifani.
“Dan saya terpikirkan untuk membuatnya di kereta karena saya mengingat di KAI terdapat selimut yang bisa saya cobakan untuk membuat konten random,” tambahnya.
Kegiatan random penumpang kereta jadi perhatian
Percobaan membuat topi Minang dilakukan Tifani saat tengah berbuka puasa di kantin kereta. Ini juga yang membuatnya sontak jadi perhatian beberapa orang yang sedang duduk di tempat yang sama.
Khususnya, mengetahui waktu dirinya beraksi. Sudah pasti, kantin kereta menjadi tempat utama yang dituju sebagian orang. Alhasil, perhatian langsung tertuju kepada pola Tifani saat itu.
Menurutnya sendiri, orang-orang di sana memperhatikan dirinya seakan-akan tengah membuat pertunjukan. Sebab, hal yang dilakukan Tifani bisa jadi dianggap random. Bagaimana tidak, ada seseorang yang bosan dan berada di restorasi, lalu tiba-tiba membuat topi berbentuk kerbau dari selimut yang disediakan KAI. Ditambah, saat berbuka puasa pula ini terjadi.
“Saya membuat tikuluak tanduak tersebut di kereta makan saat berbuka puasa dan orang-orang di sana melihat saya seolah saya sedang membuat pertunjukan atau melakukan hal random,” ujar Tifani.
Meskipun menjadi perhatian, Tifani tidak ambil pusing. Ia mengaku, menyukai melakukan hal “receh” yang dianggap tidak penting, tetapi tidak pernah gagal menjadi perhatian, untuk membuat orang lain terhibut.
@ratutfni Replying to @DONZT ♬ suara asli – aieputih
“Karena saya suka hal-hal receh yang membuat orang terhibur,” ujarnya.
Selain itu, dirinya mengatakan, suka membuat konten yang memperkenalkan kampung halamannya, Padang, Sumatera Barat. Alasannya, baginya, budaya Minangkabau mempunyai keunikan tersendiri yang layak untuk dipopulerkan.
Melalui konten yang kemudian ramai di jagat maya ini, misi Tifani sebagai agen budaya Minang sekiranya sudah tercapai.
“Saya sebenarnya sangat suka membuat konten tentang kampung halaman saya, Sumatera Barat, karena mempunyai ciri khas yang sangat otentik,” tutupnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Niat Ingin Lebih Cepat Naik Travel Malah Bikin Trauma, Sopir Tak Tahu Aturan dan Penumpang Tidak Tahu Diri atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













