Slow living di Jawa Tengah cuma jadi romantisisasi orang-orang luar, seperti Jakarta. Sementara bagi warga asli, narasi ini lebih terdengar sebagai omong kosong. Bagaimana bisa seseorang hidup “slow” dengan upah pas-pasan tapi pengeluaran besar?
***
Kalau kamu mengetik kata kunci “kota pensiun” atau “tempat paling nyaman dihuni” di mesin pencari, algoritma hampir pasti akan menggiringmu ke satu provinsi: Jawa Tengah. Bayangan tentang sawah yang menghampar hijau, latar Gunung Merbabu atau Merapi yang gagah, serta pagi yang berkabut dengan secangkir teh atau kopi, adalah imajinasi yang dijual mahal di media sosial.
Istilah kekiniannya: slow living. Sebuah konsep hidup melambat, menikmati setiap detik yang berjalan tanpa dikejar target kerja gila-gilaan, dan menjauh dari hiruk-pikuk metropolitan yang bikin pening.
Salatiga, Magelang, Temanggung, konon surganya slow living
Narasi tersebut tumbuh subur. Kota-kota seperti Salatiga, Magelang, hingga Temanggung didaulat sebagai surga bagi mereka yang ingin menepi. Salatiga dengan udaranya yang sejuk dan toleransinya yang tinggi, Magelang dengan tata kotanya yang rapi, serta Temanggung yang tenang di lereng gunung.
Bagi warga Jakarta yang setiap hari bertarung dengan macet dan polusi, narasi ini terdengar indah. “Pindah ke Jateng, hidup tenang, biaya murah.” Begitu kira-kira narasi yang liar di media sosial.
Sayangnya, bagi warga lokal, romantisme itu seringkali terasa seperti omong kosong. Bagi mereka, slow living di Jawa Tengah hanyalah mitos. Yang nyata adalah gaji kecil, harga kebutuhan pokok yang tak beda jauh dengan kota besar, serta biaya sosial yang mencekik leher.
UMR kecil, tapi biaya hidup besar
Mari bicara angka, karena angka tidak pernah berbohong. Narasi biaya hidup murah di Jawa Tengah seringkali dijadikan pembenaran untuk melanggengkan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMR) yang rendah.
Pada tahun 2025, rata-rata UMR di kota-kota “slow living” ini masih berkutat di angka Rp2 jutaan. Banjarnegara atau Wonogiri bahkan masih ada di kisaran angka yang membuat kita mengelus dada jika dibandingkan dengan biaya kebutuhan dasar.
Bandingkan dengan Jakarta, Bekasi, atau Karawang yang UMR-nya sudah menembus Rp5 juta. Selisihnya bisa dua kali lipat lebih. “Ya kan biaya hidup di Jateng murah,” kilah para pembela narasi ini.
Benarkah?
Bayu (28), seorang desainer grafis yang bekerja di sebuah agensi lokal di Magelang, tertawa getir saat mendengar kalimat itu. Bayu adalah representasi anak muda Jawa Tengah yang sudah muak dengan romantisisasi kemiskinan di daerahnya.
“Orang luar lihatnya kita santai, padahal kita ngap-ngapan. Gaji UMR di sini itu cuma cukup buat bertahan hidup, bukan menikmati hidup, apalagi slow living slow living-an,” ujar Bayu, Selasa (10/2/2026)
Ia merinci pengeluarannya. Harga bensin Pertalite di Magelang, misalnya, sama persis dengan di Jakarta Selatan. Harga minyak goreng, beras, dan telur, juga mengikuti harga pasar nasional.
Bahkan, jika kamu ingin membeli sepatu branded atau gawai terbaru, harganya tidak lantas didiskon 50 persen hanya karena kamu tinggal di kaki Gunung Sumbing.
“Kopi di kafe-kafe estetik di sini juga sekarang harganya sudah Rp25 ribu sampai Rp30 ribu. Kalau UMR cuma Rp2,1 juta, nongkrong dua kali seminggu itu sudah mewah banget,” katanya.
“Jadi, slow living itu cuma buat orang Jakarta yang pindah ke sini bawa tabungan miliaran. Buat kami? Kami harus kerja keras, kadang double job, cuma buat dianggap hidup layak,” tambah Bayu dengan nada frustrasi.
Biaya “rukun” yang bikin tambah mahal
Masalah finansial di Jawa Tengah tidak berhenti pada rasio gaji dan harga barang. Ada hal lain yang lebih “menakutkan” bagi isi dompet, meski seringkali tabu untuk dibicarakan: biaya sosial atau rukun.
Jawa Tengah sangat memegang teguh budaya guyub rukun. Di permukaan, ini terlihat indah. Gotong royong, saling membantu, dan kedekatan antartetangga. Namun, di balik itu, ada ongkos sosial yang sangat mahal, dan harus dibayar tunai.
Di desa-desa atau pinggiran kota tempat slow living didengungkan, hidupmu bukan sepenuhnya milikmu. Hidupmu adalah milik tetanggamu juga.
Ratna (30), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Salatiga, misalnya, merasakan betul beratnya beban ini. Ia menyebut budaya “sumbang-menyumbang” atau sebagai pengeluaran tak terduga yang paling menguras emosi dan ekonomi.
“Di sini, kalau ada orang hajatan nikah, sunatan, atau bahkan orang meninggal, kita wajib datang dan ‘ngamplop’. Dulu mungkin 20 ribu pantas, sekarang standar kepatutan itu minimal 50 ribu. Kalau teman dekat atau saudara, ya harus 100 ribu atau lebih,” cerita Ratna.
Masalahnya, hajatan di desa tidak mengenal musim libur. Saat bulan-bulan baik dalam penanggalan Jawa, seperti bulan Besar atau Rejeb, undangan bisa datang bertubi-tubi.
“Pernah dalam seminggu ada empat undangan. Itu saja sudah keluar 200 ribu. Belum lagi iuran ini-itu. Ada iuran kematian, iuran 17-an, iuran perbaikan jalan, jimpitan ronda. Gaji suami yang pas-pasan itu kadang habis cuma buat ‘nyumbang’ biar nggak diomongin tetangga,” keluhnya.
Nggak mungkin bisa slow living kalau mau “santai” sedikit jadi cibiran tetangga
Ratna menekankan poin penting lain, yakni sanksi sosial. Jika di kota besar kamu bisa cuek tidak datang ke pernikahan teman karena alasan sibuk atau bokek, di desa hal itu adalah dosa besar.
Absen di acara tetangga berarti siap-siap menjadi bahan pergunjingan. Atau yang terburuk, dikucilkan saat kamu sendiri butuh bantuan.
Selain uang, energi juga tersedot habis. Ada tradisi “rewang” atau membantu tetangga yang punya hajat. Ini bukan sekadar datang sejam dua jam, tapi bisa berhari-hari. Mulai dari mengupas bawang, memasak, hingga mencuci piring kotor segunung.
Bagi mereka yang bekerja kantoran, ini dilema. Tidak ikut rewang dianggap sombong, ikut rewang berarti harus cuti kerja atau kelelahan luar biasa.
“Aku pernah ngerasain hal ini (dikucilkan). Anak sedang demam, jadi nggak bisa ditinggal. Tapi aku jadi omongan gara-gara nggak bisa datang rewang,” keluhnya.
Belum lagi soal arisan. Di banyak kampung di Jawa Tengah, arisan bukan sekadar menabung, melainkan cara wajib untuk srawung alias bersosialisasi. Ada arisan RT, arisan dasawisma, arisan PKK dan lain-lain.
Sering kali, arisan ini hanyalah basa-basi yang memakan waktu berjam-jam, mendengarkan ocehan yang diulang-ulang, kadang juga cuma bergunjing soal gosip tetangga.
“Kadang males harus keluar malam gitu buat arisan. Tapi kalau nggak datang, pasti aku yang jadi pergunjingan.”
Slow living cuma privilese si kaya
Maka, premis bahwa Jawa Tengah adalah pusat slow living perlu dikoreksi besar-besaran. Narasi itu, barangkali hanya berlaku bagi pensiunan jenderal, pengusaha sukses dari Jakarta, atau digital nomad bergaji dolar yang memilih menetap di rumah-rumah sederhana di Salatiga atau Boyolali.
Mereka punya uang untuk membayar segala tagihan. Mereka punya cukup dana untuk mengisi amplop kondangan tanpa mengurangi jatah makan. Dan, mereka bisa menikmati kopi sambil melihat gunung atau spot estetik lain tanpa pusing memikirkan kebutuhan dasar.
Sementara bagi Bayu, Ratna, dan jutaan warga lokal lainnya, hidup di Jawa Tengah adalah seni bertahan hidup. Mereka tidak bisa “slow”. Mereka harus berputar otak bagaimana membagi gaji Rp2 juta untuk makan, bensin, pulsa, dan amplop kondangan tetangga yang tak kunjung henti.
Alhasil, bagi Bayu, Jawa Tengah ia akui memang indah, tenang, dan kadang ngangeni. Namun, menyebutnya sebagai tempat di mana hidup menjadi mudah dan murah adalah sebuah omong-kosong.
“Kalau kamu bukan orang kaya yang uangnya sudah tidak berseri, pikir dua kali sebelum termakan jargon slow living di sini. Jangan sampai niat hati ingin tenang, malah berakhir buntung seperti kami,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Slow Living dan Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong, Apalagi Kalau Kamu Cuma Buruh Rendahan dan Gajimu Mengenaskan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














