Ambisi untuk menjadi PNS pada awalnya tidak lain adalah untuk “mengamankan hidup”. Setidaknya ada pemasukan tetap hingga jaminan pensiun. Namun, hidup serasa penuh petaka gara-gara keluarga tahu konsep gadai SK.
***
Bukan tanpa alasan kenapa Sunni (29), bukan nama asli, berambisi betul agar diterima menjadi PNS. Motif utamanya jelas karena jaminan “hidup aman”.
Meski begitu, langkah Sunni tidak sepenuhnya mudah. Ia sempat sekali gagal dalam seleksi CPNS (saat usia 23 tahun, baru awal-awal lulus kuliah). Lalu sempat kerjai di sektor swasta selama setahun, sampai akhirnya perempuan asal Jawa Timur itu lolos pada percobaan kedua di usia 25 tahun.
Sunni pun bukannya tidak paham iming-iming menggiurkan setelah menjadi PNS. Selain gaji tetap dengan angka layak, jaminan pensiun, ada juga kemudahan dalam mengajukan pinjaman di bank melalui sistem gadai SK.
“Tapi sejak SK turun, jujur aku nggak pernah kepikiran buat gadai SK. Istilah orang-orang “nyekolahke SK (sekolahkan SK)”. Karena aku paham, itu jebakan,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (15/3/2026), setelah berbagi cerita melalui Threads.
Tak cukup dibanggakan doang, tapi harus kelihatan ber-uang
Menjadi PNS jelas membuat Sunni dibanggakan oleh orang tuanya. Karena di desa asal Sunni, PNS masih menjadi salah satu jenis pekerjaan mentereng dan disegani.
Persoalannya kemudian, sistem sosial di desa tersebut berazas “serba tidak cukup”. Tidak cukup hanya membanggakan status PNS, tapi harus menunjukkan hasil konkret dari pekerjaan mentereng tersebut.
Dengan kata lain, agar kelihatan ber-uang dan semakin disegani tetangga, maka harus mampu membeli “barang-barang besar dan mewah” menurut standar masyarakat setempat.
“Aku awalnya kan nggak pernah dengar omongan-omongan tetangga itu. Karena tugasku ada di kota sebelah, bukan di kabupaten sendiri. Tapi kalau orang tua nelepon, pasti ngomongin, keluarga kami lagi jadi omongan tetangga karena dianggap PNS kere. Masa PNS nggak punya apa-apa?” Beber Sunni.
Sunni sebenarnya santai saja. Sebab, baginya, ngapain termakan omongan orang. Toh secara keuangan, keluarga mereka aman-aman saja. Sunni masih bisa membagi sebagian gajinya untuk sesekali membantu kebutuhan tertentu orang tua di rumah. Dan ia juga bisa menanggung hidupnya sendiri tanpa merepotkan orang tua lagi.
Orang tua Sunni memiliki toko kelontong kecil di desa. Pemasukannya sudah tidak sebesar dulu, karena sekarang pesaingnya makin banyak. Oleh karena itu, Sunni biasanya menyisihkan gaji untuk menambal-nambal kekurangan kebutuhan rumah.
Dipaksa gadai SK PNS demi puaskan tetangga
“Kamu dibanding-bandingkan tetangga yang punya saudara PNS. Katanya belum setahun sudah bisa beli mobil sampai bangun rumah,” ujar sang ibu suatu kali.
Sunni tahu arah kalimat itu. Sangat jelas ibu Sunni ingin Sunni bisa membeli mobil keluarga. “Kuminta beliau jawab, kalau mobil nanti juga terbeli,” kata Sunni.
Sialnya, ternyata jawaban itu membuat Sunni kerap ditagih tiap ada kesempatan pulang ke desa. Ada saja tetangga atau saudara jauh yang nyindir-nyindir soal janji Sunni membeli mobil.
“Kalau kamu punya mobil kan enak, Sun. Kita kalau mau sambang saudara jauh bisa ikut mobilmu,” begitu seloroh seorang saudara. Sunni hanya bisa membatin, “Lah kenapa nggak kamu sendiri aja yang beli mobil? Ngapain harus nunggu aku yang beli?”
Sampai di titik itu pun Sunni sebenarnya tidak mau memasukkannya ke dalam hati. Santai saja. Akan tetapi, orang tuanya seperti mendesak Sunni: kalau ada uang lebih, kebeli lah mobil-mobil bekas. Kakak laki-lakinya—yang selama ini menjadi beban keluarga—pun ikut urun suara: memberi rekomendasi mobil-mobil bekas yang cocok untuk keluarga.
“Aku bilang, ya aku nabung dulu lah. Tapi kakakku yang nggak guna itu nyahut: ngapain nabung, kan bisa cepet kalau gadai SK PNS di bank?,” beber Sunni.
Makdeg! Gawat sudah. Kakak Sunni ternyata paham ada konsep gadai SK PNS untuk mendapat pinjaman uang dengan mudah di bank.
Mobil terbeli, tapi paksaan gadai SK PNS tidak berhenti
Karena desakan demi desakan, Sunni tidak bisa menolak permintaan gadai SK PNS untuk membeli mobil (walaupun bekas dan cari yang benar-benar murah). Apalagi setelah ia kemakan omongan sang kakak: dulu Sunni dikuliahkan juga dengan pengorbanan uang dari orang tua. Masa sekarang setelah punya uang, malah perhitungan sama orang tua? Enggan menyenangkan orang tua?
Di tengah obrolan, Sunni menghela napas berat, setelah bicara dengan nada suara bergetar. Bercerita panjang lebar tentang hal ini, selain membuatnya lebih lega, ternyata juga cukup menguras energi.
Sebab, mobil bukan satu-satunya permintaan keluarga Sunni setelah ia menjadi seorang PNS. Setelah cicilan mobil selesai dalam tenggat empat tahun (dan sepenuhnya ditanggung Sunni), kakak Sunni giliran meminjam uang untuk merintis bisnis pakan burung (sebagaimana hobinya sebagai “kicau mania”).
“Dia itu memang dari dulu nggak beres. Setelah lulus SMA belum pernah dapat kerjaan yang bener. Lebih sering nganggur daripada kerjanya. Jadi beban orang tua karena masih sering minta uang di toko kelontong kecil ortu di desa, yang pemasukannya sebenarnya nggak seberapa,” beber Sunni. Sunni sendiri sampai mumet, ini sebenarnya keluarga macam apa sih?
Modus yang digunakan sang kakak saat memaksa Sunni gadai SK PNS waktu itu adalah: kalau usaha ini berhasil, nanti sang kakak akan mengembalikan uang yang ia pinjam. Bahkan ia bisa juga membantu kebutuhan sehari-hari orang tua jika pemasukan toko memang sudah tidak mencukupi.
Untuk kedua kalinya, Sunni akhirnya merelakan SK PNS miliknya disekolahkan di bank lagi. Hanya saja untuk pinjaman kecil dengan tenor dua tahun. Bodoh sekali memang, kalau kata Sunni penuh sesal.
Leher seperti tercekik karena tanggung cicilan bank sendirian
Selama masa gadai SK PNS di bank, Sunni merasa lehernya tercekik. Sebab, setiap bulan, ia harus membagi uangnya ke dalam beberapa bagian. Satu bagian untuk cicilan bank, bagian lain untuk diri sendiri, dan bagian lainnya lagi untuk jaga-jaga kalau orang tua butuh tambahan uang untuk kebutuhan.
“Aku kan nggak bawa mobil di daerah tugasku. Mobil di rumah. Sesekali yang pakai ya kakak. Bensinnya dari mana? Pasti dari orang tua. Orang tua kalau nggak ada uang ke siapa? Ya ke aku lah. Belum lagi urusan pajak,” gerutu Sunni.
Sementara di daerah tugasnya, Sunni hidup sehemat mungkin. Bahkan banyak keinginannya yang belum bisa terpenuhi. Sesederhana ganti hp baru pun belum sempat karena teringat cicilan.
Begitu juga ketika sang kakak utang buat bangun usaha. Usaha tersebut tidak ada hasilnya. Tutup sebelum berkembang, karena memang sang kakak tidak serius menjalankannya.
“Karena nggak berhasil, nggak ada uangnya dong. Artinya ya nggak ada upaya bayar utangnya ke aku. Dengan kata lain, ya aku korban gaji lagi lah karena usaha itu modalnya dari gadai SK PNS-ku,” ujar Sunni.
Bahkan, saat cicilan untuk modal usaha itu belum tuntas, sang kakak pernah menyatakan keinginan meminjam SK PNS lagi untuk membeli motor baru. Alasannya untuk mobilitas sehari-hari biar lebih efisien.
Sunni sebenarnya tidak sudi. Apalagi saat itu Sunni masih harus membayar sejumlah cicilan dari modal usaha sang kakak yang tidak ada hasilnya sebelumnya. Masalahnya, bapak Sunni dengan ringan memberi sejumlah uang ke sang kakak.
Bapak bilang ke Sunni, uangnya kurang sedikit. Maksudnya, Sunni tinggal nambahi sisanya. Sementara Sunni, lagi-lagi karena perasaan “dulu ia kuliah dibiayai penuh orang tua”, tidak bisa menolak jika bapak minta bantuan. Akhirnya ia meminjamkan uang yang ia punya di rekening.
“Hasilnya apa? Tetep aja nganggur. Malas cari kerja. Aku kalau lagi sadar, pasti bilang ke orang tua, jangan apa-apa diturutin. Kalau begitu, kakak nggak akan berubah. Tapi jawaban bapak-ibu selalu gini: begitu-begitu juga anak kandung bapak-ibu. Haduh susah,” keluh Sunni.
Masa mau nikah aja sampai pinjam bank?
Sunni merencanakan pernikahan pada usia 30 tahun nanti. Orang bilang memang sangat terlambat. Tapi ya bagaimana lagi, selama ini ia sibuk mengurus cicilan-cicilan nggak guna. Ia takut jika menikah dalam kondisi cicilan belum tuntas, justru membuat suaminya ikut terbebani.
Untuk pernikahan ini, Sunni dan calon suami sepakat untuk membuat acara sederhana. Akan tetapi, karena takut jadi omongan tetangga, orang tua Sunni berharap pernikahan Sunni bisa berlangsung meriah dan besar-besaran.
“Pas aku bilang, nggak ada uangnya, Pak, dengan harapan keluar statement bakal bapak bantu. Eh beliau bilang: Kan kamu punya SK. Aku langsung batin, Astaghfirullah,” ucap Sunni.
Sunni akan tetap melangsungkan pernikahan dengan sederhana. Ia pun ingin mengikuti pesan-pesan dari calon suami: memutus rantai penderitaan akibat gadai SK PNS itu. Dengan berani berhitung: tidak setiap keinginan keluarganya di rumah bisa diselesaikan dengan pinjam uang di bank. Apalagi kalau yang menanggung cicilan pada akhirnya Sunni sendirian dengan modus “balas budi”.
“Habis ini aku mau mengejar bahagiaku sendiri kalau kata Ardhito Pramono,” tutup Sunni.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Dua Kali Gagal Tes CPNS Meski Nilai Tertinggi, Kini Malah Temukan Jalan Terang Modal Ijazah SMA atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














