Sudah jadi rahasia umum kalau ujian Surat Izin Mengemudi (SIM) hanyalah formalitas di negara Konoha. Untuk mendapatkan kartu SIM C (motor) dengan mudah, sebagian orang memilih ujian “tembak” yakni praktik ilegal tanpa mengikuti prosedur resmi nan sah.
Bagaimana tidak, ujian SIM baik tes teori maupun praktik memang terbilang sulit untuk sebagian orang. Konon, tingkat ketegangannya mengalahkan ujian seleksi CPNS. Percobaannya pun bisa dilakukan berkali-kali. Seperti yang dilakukan Aslam Huda (25).
Setelah 11 kali gagal tes, Aslam akhirnya berhasil lulus pada percobaan ke-12.
Memegang teguh slogan ‘lawan calo ujian SIM C’
Bagi Aslam, ujian SIM memang seharusnya dilakukan berkali-kali karena itu artinya seseorang sudah siap bertarung di jalan. Alih-alih ikut ujian ‘tembak’ bersama teman-teman di sekolahnya, Aslam entah mengapa ingin membuktikan bahwa dia adalah pengendara motor yang baik.
“Karena ujian SIM sendiri menuntut pemahaman dan kemampuan kita dalam mematuhi rambu lalu lintas serta kemampuan mengemudi,” jelas Aslam saat dikonfirmasi Mojok lewat akun Threads-nya, @aslamhd_, Senin (18/5/2026).
Aslam pun meyakini bahwa polisi sudah seharusnya menerapkan slogan yang tertera di banner dan terpasang di kantor mereka: “Lawan calo dan penipuan”.
“Saat banyak oknum yang menawarkan untuk ujian tembak, saya langsung tolak,” kata Aslam.
Tawaran itu pernah didapat Aslam saat hari pertamanya datang ke lokasi ujian. Aslam yang saat itu berkunjung dengan ayahnya seolah mendapat wawasan baru bahwa dunia ini tidak hanya berwarna hitam dan putih, kadang abu-abu, bahkan warna-warni.
“Aku sempat tanya ke ayahku, ‘yah ini kan banyak dan jelas tertulis peraturannya, ada undang-undangnya juga larangan menggunakan calo. Kita bisa laporin mereka nggak sih? Ini kan kantor polisi’,” ujar Aslam dengan polosnya.
Namun, sang ayah hanya tertawa, “bermasyarakat nggak bisa gitu,” jawabnya singkat, yang baru Aslam pahami saat dewasa.
Bahkan Spongebob harus gagal puluhan kali untuk ujian SIM
Meski dunia bekerja tidak ideal, Aslam tetap memilih meyakini prinsip hidupnya. Di hari pertamanya mengikuti ujian SIM C untuk motor, ia harus gagal sebanyak 3 kali. Waktu itu, ia masih sekolah sehingga jadwalnya tidak terlalu sibuk.
Pekan selanjutnya, Aslam masih mencoba hingga kegagalannya bertambah total sebanyak 5 kali. Melihat usaha Aslam yang sudah maksimal, ayahnya pun mendorong Aslam untuk ikut ujian tembak saja tapi ia langsung menolak.
“Lelaki sejati tidak pernah menyerah,” katanya, “bahkan Spongebob saja harus melewati ujian SIM sebanyak 58 kali,” lanjutnya.
Maka dari itu, kegagalan yang baru 5 kali, belum ada apa-apanya menurut Aslam. Namun ia pun tak memungkiri bahwa ujian SIM C tergolong melelahkan, apalagi karena prosesnya yang panjang.
“Antreannya panjang, lama sekali. Belum lagi cek kesehatan seperti tes buta warna, tensi, tinggi badan, dan berat. Untung ujian tulisnya mudah, sehingga saya selalu langsung ke praktik,” kata Aslam.
Di ujian praktik itulah, Aslam selalu gagal terutama pada bagian melewati jalur angka 8. Momok bagi peserta ujian yang kini telah dihapuskan di beberapa daerah. Sebagai gantinya, pengendara hanya perlu ujian praktik sirkuit berbentuk S.
“Akhirnya, saya berhasil di percobaan ke-12,” kata Aslam tersenyum lebar.
Setidaknya, usahalah dengan cara yang baik
Aslam mengaku tak rugi apapun dengan mencoba ujian SIM C dan gagal berkali-kali. Toh, biaya tesnya di tahun 2019 hanya Rp20 ribu untuk cek kesehatan, meski ia juga tak menampik bahwa segala tenaga, waktu, dan pikirannya ikut terkuras.
Namun, lebih dari itu, Aslam mengaku mendapatkan pengalaman hidup yang berharga. Ia tak ingin menormalisasi hal yang tak wajar, meskipun dalam prosesnya tak selalu mudah. Di luar dari konteks ujian SIM-nya, rumah Aslam pernah kedatangan kepala desa dan RT. Keluarganya seolah dipaksa untuk mencoblos calon tertentu pada pemilihan umum, tapi mereka menolak.
Pada akhirnya, keluarga Aslam malah dipersulit saat Covid-19. Ia tak terdata untuk dapat bantuan sosial. Sampai-sampai, ayahnya harus mengurus langsung di kantor desa. Bukannya kapok karena menuruti idealismenya, Aslam jadi lebih yakin berkat peristiwa tersebut.
“Aku mau hidup di dunia yang baik, dan karena aku bagian dari dunia, aku harus jalani dengan baik,” ucapnya.
Aslam pun berhasil membuktikan bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan, meskipun jalannya panjang dan rumit.
“Setidaknya kita tetap mengusahakan dengan cara yang baik dan benar,” ucapnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Cerita dari Peserta Ujian Praktik SIM yang Gagal, tapi Terus Mencoba atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














