Niat awalnya, membeli mobil pribadi Toyota Avanza menjadi upaya agar disegani oleh tetangga di desa. Tapi ujungnya justru sumpek sendiri karena warga di desa tahunya cuma iri-dengki dan seenaknya sendiri dalam berekspektasi.
***
Pada awalnya Salik (26) tidak terpikir bahwa sebuah mobil pribadi, milik sendiri, benar-benar akan terparkir di halaman depan rumahnya yang sempit di sebuah desa di Jawa Tengah.
Toh mobilitas sehari-hari masih bisa dilakukan dengan motor. Kendat sebenarnya Salik sudah bisa menyetir mobil karena sudah belajar dari temannya semasa SMA.
Ambisi membeli mobil pribadi baru muncul sejak semester awal ia kuliah. Pemicunya adalah omongan tetangga.
Anggapan kuliah akan sia-sia kalau ujungnya beli mobil pribadi saja tidak bisa
Pada masa-masa awal kuliah, Salik sudah kerap mendengar suara-suara sumbang tentang dirinya. Pasalnya, kuliah adalah perkara tidak populer di desanya.
Persepsi kebanyakan orang desanya, terutama tetangga, tentang kuliah adalah aktivitas buang-buang uang yang tidak karuan hasilnya. Belum tentu lulus jadi “orang”.
“Waktu itu, ada teman desa yang lulus SMA langsung kerja di Malaysia. Baru dua tahun terus bisa beli mobil pribadi. Dari situlah tetangga banding-bandingkan, seandainya aku nggak kemenyek (sok-sok’an) buat kuliah, alias langsung kerja, pasti sudah kebeli mobil,” ujar Salik, Sabtu (14/3/2026).
Sebagai pemuda 20-an tahun, pada masa itu, pikiran Salik jelas terdistraksi. Ia mulai mempertanyakan keputusannya sendiri yang mantap untuk kuliah. Jangan-jangan benar kata tetangga: kalau setelah lulus ia tidak bisa membuktikan diri bisa mencapai ekspektasi tersebut, habis ia dan keluarga.
Apalagi, standar sukses ala warga di desa Salik adalah harus berwujud “barang besar”: mobil, rumah, atau tanah. Bagi mereka, gelar S1 mah tidak penting-penting amat.
Mobil Toyota Avanza terbeli di ujung usia 23, bikin takjub orang desa
Kalau ada anak muda, kerja, lalu bisa membeli mobil pribadi dari hasilnya kerjanya tersebut, wah akan langsung dielu-elukan. Seperti teman desa Salik, di awal-awal si teman membeli mobil, namanya tak luput dari puji-pujian.
“Hebat tenan, kerja 2 tahun langsung bisa beli mobil.”
“Ya begitu jadi anak muda. Kerja sungguh-sungguh, hasilnya kelihatan.” Dan ungkapan-ungkapan sejenis. Jika sudah begitu, orang tua si teman pun turut ketiban rasa segan.
Singkat cerita, setelah menuntaskan masa kuliah tepat waktu dan bekerja di bidang pertanahan mengikuti saudara, Salik menaruh wishlist: target pertama adalah memarkir mobil pribadi di halaman rumah.
Wishlist tersebut benar-benar terwujud. Karena syukurnya, tanpa harus menabung lama-lama, ada momen ketika ia “jackpot” dari hasil deal-dealan sebuah properti besar. Uang bonus yang diterimanya pun besar.
“Tapi ya belum cukup lah kalau langsung beli mobil. Jadi tetap aku ambil tambahan (pinjaman) dari bank. Dan terbeli lah Toyota Avanza bekas, tahun 2017. Gagah lah kalau diparkir di halaman rumah,” ungkap Salik.
Sesuai ekspektasi dan ambisi Salik, hal itu membuat warga desa—terutama tetangga—takjub dengan pencapaian Salik. Apalagi tidak ada yang tahu kalau Salik belinya juga harus nyari tambahan dari bank. Orang-orang tahunya itu cash. Dan terlebih mobil Toyota Avanza tersebut terbeli di usia Salik yang masih sangat muda: di ujung usia 23 (menjelang 24 tahun).
Ke mana-mana sering bawa mobil Toyota Avanza, itu salah di mata orang desa
Hanya saja, pujian dan ketakjuban terhadap Salik ternyata tidak bertahan lama.
Sejak punya mobil, Salik memang sering ke mana-mana membawa Toyota Avanza tersebut. Lumayan biar tidak kepanasan atau kehujanan. Hanya sesekali bawa motor kalau untuk mobilitas jarak dekat.
Ternyata, kebiasaan Salik tersebut memicu rasa kesal dari beberapa tetangga. Selentingan-selentingan yang lewat di telinga Salik: ia dianggap kemenyek dan banyak gaya.
“Bahkan misalnya, misalnya orang tua minta diantar ke rumah sakit, aku kan pakai mobil, itu aku disebut semugih (sok kaya),” kata Salik.
“Apalagi kalau ajak orang tua sekadar makan di luar pakai mobil. Dengar-dengar ada yang bilang kami keluarga sombong. Sombong dari mana? Namanya juga punya mobil, masa buat pajangan aja? Alasan aku pilih Avanza kan ya karena ini mobil keluarga,” lanjutnya dengan agak kesal.
Digosipkan nipu orang hingga berjarak dengan teman
Parahnya, dari seorang teman desa yang masih dekat dengan Salik, ia digosipkan bisa membeli mobil pribadi Toyota Avanza tersebut setelah berhasil menipu orang dari pekerjaannya sebagai makelar.
Lah, piye to iki? Dulu ketika belum kelihatan bakal bisa membeli mobil pribadi, dibanding-bandingkan dan dianggap mengambil langkah sia-sia (kuliah). Setelah Toyota Avanza terbeli, kok persepsi orang desa kepadanya beda lagi? Salik mengaku sumpek sendiri dengan situasi tersebut.
Lebih-lebih, masih dari teman dekatnya tersebut, Salik mendengar bahwa sejumlah teman-teman di desa sengaja menjaga jarak dengan Salik. Mereka menganggap Salik sudah di awang-awang (melangit), hanya karena sering kali kalau ada ajakan keluar ia menawarkan agar teman-teman ikut mobilnya saja.
“Katanya, dari yang kudengar, begini: Sekarang sedikit-sedikit pakai mobil saja. Sudah nggak level naik motor,” ucap Salik.
“Ada yang merasa, ajakanku naik mobil adalah bentuk penghinaan ke mereka yang hanya pakai motor. Padahal niatku kan justru mengenakkan mereka. Yang nyetir toh aku, bensin juga pakai uangku. Jangan-jangan mereka juga sumpek karena jadi korban banding-bandingan karena belum mampu membeli mobil pribadi. Apalagi ada juga yang masih nganggur,” sambungnya.
Ambisi berujung sumpek sendiri, orang desa hanya tahu iri-dengki
Ambisi membeli mobil pribadi—yang kemudian terwujud dalam rupa Toyota Avanza—itu ujungnya membuat Salik sumpek sendiri. Persepsi orang di desanya terlalu kompleks. Susah ditebak.
Pada akhirnya Salik pun tahu, ternyata orang di desanya hanya tahu iri-dengki dan seenaknya sendiri dalam berekspektasi. Karena setelah Salik berhasil membeli mobil, ternyata teman desa yang sudah lebih dulu membeli mobil tadi, tetap saja menjadi sasaran gunjingan.
“Dibandingkan denganku karena persoalan harga mobil. Katanya, masa kerja di Malaysia cuma bisa beli mobil murah,” beber Salik.
“Apalagi setelah itu kan kerjanya nggak tentu. Karena kan nggak balik lagi ke Malaysia. Akhirnya mobilnya dijual. Waktu aku baru awal banget beli mobil, teman-teman desa lain kena gunjingan juga kan karena dibanding-bandingkan denganku. Sekarang aku masuk lagi jadi gunjingan karena cap sombong dan lain-lain. Itu gejala orang iri-dengki,” gerutunya.
Di titik tertentu, Salik memang mensyukuri pilihannya membeli mobil pribadi. Karena memang fungsional untuk mobilitas. Namun, jika mengingat-ingat bahwa mobil Toyota Avanza itu terbeli lantaran ambisi, ia tidak menampik ada perasaan menyesal.
“Iya lah, harus bayar cicilan ke bank, pajak, bahan bakar, belum servis dan ganti oli. Ya sekali aku ada proyek, uangnya lumayan. Tapi larinya akhirnya ya ke sana semua. Padahal harusnya aku bisa alokasikan untuk sesuatu yang lebih prioritas,” tutupnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mudik ke Desa Naik Mobil Honda Brio Hasil Nabung karena Muak Dihina, Berharap Dicap Sukses Malah Makin Direndahkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














