Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
10 April 2026
A A
Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO

Ilustrasi - Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sepanjang perjalanan pulang ke Rembang via Grobogan dengan travel, amat mudah mendapati rumah bertingkat dua bak istana. Rumah tersebut menjadi pemandangan kontras sebab berdiri “jauh dari peradaban”. 

Jalur yang saya lewati terhitung jalur pelosok. Jalanannya rusak dikelilingi dengan bentangan sawah dan ladang yang cukup panjang. Jarak antarrumah warga merenggang jauh. Itupun dengan model rumah-rumah kayu khas desa pelosok. 

Pemandangan serupa ternyata juga ada di beberapa desa pelosok lain di Grobogan: rumah tingkat 2 berdiri di antara rumah kayu reyot dan akses desa yang jauh dari peradaban.

Sepintas, punya rumah besar di desa pelosok memang bisa meningkatkan status sosial. Namun, jika rumah itu berdiri di desa pelosok Grobogan, rasanya justru nelangsa. Hal ini seperti yang dirasakan Danan (23), pemuda asal Grobogan. 

Bangun rumah istana di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron biar puas

“Rumah-rumah itu dibangun dari hasil jerih payah menjadi pekerja migran,” ujar Danan berbagi informasi. 

Memang, merangkum statistik kumulatif 2024-2025 dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah, Grobogan menempati urutan 4 besar daerah di Jawa Tengah penyumbang Pekerja Migran Indonesia (PMI). Negara-negara yang dituju meliputi: Jepang, Taiwan, dan Malaysia. 

Kata Daan sendiri, belakangan ini anak-anak lulusan SMK saja semakin banyak yang berangkat ke Jepang. Karena nyata-nyata kerja di luar negeri menjanjikan uang besar yang bisa dikonversi menjadi rumah bak istana. 

Bapak Danan sendiri bertahun-tahun bekerja di Malaysia. Hasilnya adalah sebuah rumah bertingkat dua yang ditempati Danan, ibu, dan adik perempuannya. 

“Kalau pernah ngobrol sama ibu, kenapa rumahnya dibuat model-model istana? Katanya karena gara-gara sinetron. Kan sinetron di tv dulu gitu to, kalau orang kaya rumahnya pasti magrong-magrong kayak istana,” jelas Danan. 

Di situlah letak kepuasannya. Karena bisa membangun rumah yang mirip di tv. Rumah yang ditempati artis. Kepuasan itu semakin paripurna karena meningkatkan derajat sosial si pemilik rumah di mata warga. 

Sampai saat ini, orang-orang masih berlomba-lomba mengejar derajat sosial tersebut. Itulah kenapa, kata Danan, masih banyak yang mengadu nasib ke negara orang. 

Punya rumah istana di desa pelosok Grobogan percuma karena tetap tidak sejahtera

Semasa kecil, Danan memang merasakan kepuasan tersendiri karena bapaknya bisa membangunkan rumah bak istana. Namun, seiring waktu, Danan malah merasa percuma. 

Kini Danan menyadari, memang ia dan beberapa orang di Grobogan punya rumah impian. Sayangnya, rumah itu tidak berarti menjadi simbol kesejahteraan. 

“Karena percuma punya rumah besar tapi aslinya hidup tidak sejahtera, ekonomi masih mobat-mabit,” ujar Danan. 

Iklan

“Kan nggak banyak pilihan, Mas, bagi orang sini. Kalau nggak merantau, mau kerja apa? Industri terbatas. Bertani nggak menjanjikan. Aku sendiri akhirnya merantau buat cari kerja di Semarang,” sambungnya. 

Bapak Danan sendiri hingga saat ini pun masih harus berjibaku di Malaysia. Pasalnya, rumah besar juga diikuti oleh biaya maintenance yang tidak kalah besar pula. 

Bapak Danan masih untung masih kuat bekerja di Malaysia. Ada tidak sedikit orang yang memilih tidak lagi kembali menjadi PMI. Alhasil, meski rumah tampak besar, tapi hidupnya tidak jauh lebih baik dari warga yang berada di garis kemiskinan. 

“Tapi percuma juga bagi bapakku kan. Bangun rumah bak istana, tapi dia sendiri nggak bisa menikmati seutuhnya, karena hidupnya lebih banyak di luar negeri,” sambung Danan. 

Jadi wagu karena “jauh dari peradaban”

Punya rumah bertingkat dua bak istana di desa pelosok di Grobogan pun akhirnya juga terasa wagu bagi Danan. Apalagi setelah ia mencicipi suasana kota di Semarang yang menawarkan aksesibilitas. 

Danan menggambarkan begini: Oke, ia punya rumah bak rumah dalam sinetron. Namun, untuk sekadar mencari Indomaret dan SPBU Pertamina saja ia kesusahan saking jauhnya dari peradaban. 

Jarak desa menuju untuk mengaksesnya merenggang jauh. Harus melewati jalanan berlubang dan area kebun atau persawahan yang cukup panjang. 

“Sebenarnya nggak ada yang salah. Tapi poinku begini, kayaknya perlu sadar diri saja. Kalau tinggal di sebuah daerah pelosok, mending sewajarnya saja. Bikin rumah nggak usah besar-besar, yang penting nyaman, cukup,” ujar Danan. 

“Tapi ya nggak mungkin kubilang ke bapak atau warga lain. Aku cuma sadar saja, oh iya ya, harusnya begitu cara mikirnya,” sambungnya. 

Ngurusnya amat merepotkan

Belum lagi, lanjut Danan, mengurus rumah sebesar itu sungguh amat merepotkan. Sesederhana nyapu secara rutin, sungguh amat melelahkan. Baru melihat lanskap rumah yang luas dan bertingkat dua saja, kata Danan, sudah wegah dan terbayang capeknya. 

“Pas bangun kan nggak kepikiran kalau rumah besar milik artis itu kan punya ART. Jadi si pemilik rumah nggak capek karena yang bersih-bersih ART. Kalau kita ya kita sendiri kan yang nyapu-nyapu,” ungkap Daan. 

Tak ayal jika adik Danan kerap malas-malasan dan menggerutu kalau disuruh ibu bantu-bantu nyapu. Danan pun sama halnya. Tapi kalau tidak membantu, kasihan ibu kalau harus menyapunya sendirian. 

“Kalau aku lagi di Semarang, terus adikku males, ibu itu nyapunya nyicil loh. Hari ini nyicil bagian atas, besoknya bagian bawah,” beber Danan. 

Memberi kesan horor, bikin takut di rumah sendiri

Dan yang paling konyol, rumah bak istana di desa pelosok Grobogan ternyata bisa memberi nuansa horor. Apalagi kalau penghuni rumahnya sedikit. 

Pasalnya, banyak ruang kosong. Karena besar, jarak antara kamar dengan kamar mandi pun cukup merenggang. Itu membuat penghuni rumah bahkan takut kalau malam-malam ingin ke kamar mandi atau dapur sendirian. 

Danan ingat, dulu semasa kecil, ia pasti minta diantar kalau hendak ke kamar mandi. Adiknya malah sampai sekarang (usia SMA) masih tidak berani ke kamar mandi atau tidur di kamar sendirian. Ia pasti tidur sekamar dengan ibunya. 

“Aku sebenarnya nggak berani-berani amat. Karena nggak tahu kenapa, kalau ke kamar mandi malam-malam itu kok tiba-tiba merinding. Ada bayangan, eh pas melintasi salah satu sudut rumah tiba-tiba ada putih-putih (pocong atau kuntilanak) lewat. Kocak memang,” tutup Danan. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 April 2026 oleh

Tags: groboganharga tanah groboganpilihan redaksirumah besarrumah di desarumah di grobogan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” MOJOK.CO
Urban

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

10 April 2026
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO
Urban

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living MOJOK.CO
Urban

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
PNS tetap WFO saat WFH

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
slow living, desa, warga desa.MOJOK.CO

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.