Persoalan menyelesaikan tugas kuliah, para mahasiswa akan berargumen bahwa banyak faktor berpengaruh terhadap hal tersebut. Dimulai dari niat, motivasi, sampai dengan lokasi untuk nugas. Untuk yang terakhir, coffee shop atau kafe masih menjadi andalan mahasiswa, tak terkecuali mahasiswa Jogja.
Bahkan, kegiatan nugas di coffee shop tidak lagi dianggap hanya sebagai selingan kalau sedang suntuk menyelesaikan tugas di kos-kosan atau perpustakaan. Kini, nugas di kafe dianggap sebagai kebutuhan.
Kebutuhan itu juga dialing-alingi dengan dalih investasi. Pertanyaannya, investasi macam apa yang terjadi antara mahasiswa Jogja dan coffee shop?
Dalih “investasi” untuk nugas di coffee shop
Krisna (25) adalah salah satu mahasiswa Jogja yang membenarkan alasan ini. Menurutnya, melakukan kegiatan nugas di coffee shop itu bukan lagi sebuah bentuk fasilitas dalam menyegerakan tugasnya cepat selesai.
Coffee shop, baginya, justru telah menjadi sebuah investasi.
Setidaknya sekali setiap harinya, Krisna akan menuju coffee shop selepas dari kampus atau pada akhir pekan untuk dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan. Ia lebih memilih keluar dari kos, lalu duduk di kafe, karena menilai dirinya lebih berhasil dengan metode ini.
Dalam perhitungan Krisna, kisaran uang senilai Rp20 ribu hingga Rp50 ribu yang dikeluarkannya untuk memesan satu kopi tidak terbuang sia-sia. Nominal tersebut berbalik dalam bentuk tugas dan pekerjaan yang bisa selesai saat itu juga sehingga dianggap sebagai investasi.
Karena itu, perempuan asal Sulawesi ini menganggap kegiatannya di coffee shop menguntungkan alih-alih merugikan karena merogoh koceknya.
“Aku udah coba bandingin aku kalau kerja dari kos sama aku kalau kerja dari coffee shop untuk uang Rp20 ribu sampai Rp50 ribu yang aku keluarkan sehari sekali ke coffee shop, aku dapat banyak keuntungan,” kata dia kepada Mojok, Jumat (3/4/2026).
Mahasiswa Jogja lebih produktif di coffee shop, kerja di kos malah bikin tugas terbengkalai
Dibandingkan dengan mengerjakan tugas di kosnya, Krisna mengaku tidak merasa terlalu produktif. Produktivitasnya lebih meningkat ketika sudah duduk dengan secangkir kopi di coffee shop.
Seringkali, Krisna mengaku, langsung dapat berfungsi optimal di kafe. Ia bisa langsung membuat to-do-list atau daftar tugas yang harus diselesaikan, setidaknya 4 hingga 5 pekerjaan sekaligus. Hasilnya pun tidak begitu mengecewakan, dari 5, dirinya kerap bisa menyelesaikan hingga 3 tugas.
Produktivitas yang meningkat di coffee shop membuat Krisna tidak hanya bisa menuntaskan tugas kuliah, tetapi juga pekerjaan dan organisasi dalam satu waktu.
“Sampai kafe, aku bakal langsung buat to-do-list 4 sampai 5 task yang harus aku selesaikan selama berjam-jam aku di kafe. Dari 4 sampai 5 yang selesai bisa minimal 3, dan maksimal ya, kuselesaikan semua, entah itu tugas-tugas ataupun kerjaan dan organisasi,” akunya.
Sedangkan, saat harus mengerjakan tugas di kos, Krisna merasa tidak terlalu bersemangat dalam menyelesaikannya. Ia juga malah merasa malas dan kembali ke kasur untuk beristirahat, berujung mengabaikan tugas-tugasnya.
Kalau pun berhasil menyelesaikan satu tugas di kos, tak jarang Krisna merasa lebih cepat lelah karena berada di dalam ruangan tertutup dan harus menatap layar laptop saja selama berjam-jam.
“Kalau di kosan, selain terdistraksi sama nyamannya kasur, aku juga jadi ada distraksi kalau lagi burn out atau matanya capek di layar laptop,” kata dia.
Sementara itu, coffee shop menawarkan keramaian yang tetap menenangkan dan menyenangkan untuknya. Ia bisa beristirahat, tanpa takut menyeret dirinya secara tidak sadar untuk kembali tidur, sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang.
“Di kafe aku nggak mungkin dong rebahan,” kata dia.
“Aku suka keramaian juga soalnya, enak aja istirahatnya sambil liat-liatin dan review orang,” kata dia menambahkan.
Uang habis tak masalah, segelas kopi mahal ditukar ide sudah dianggap untung
Meski merasa lebih nyaman di coffee shop, Krisna menyadari kalau dirinya harus mengeluarkan uang lebih banyak, bahkan menyisihkan sebagian dari uangnya untuk berinvestasi ke coffee shop.
Namun sebenarnya Krisna tidak sendiri, sebuah survei yang dilakukan GoodStats menunjukkan bahwa mayoritas pengunjung kafe adalah mereka yang berada dalam rentang usia 18-24 tahun. Artinya, mahasiswa dan pelajar menjadikan coffee shop sebagai tempat favorit mereka melakukan berbagai kegiatan, seperti nugas, bekerja, atau sekadar nongkrong.
Alasan utama coffee shop diminati oleh mahasiswa pun, 57,1 persen mengatakan untuk menikmati kopi. Sementara itu, 50,2 persen mengatakan untuk bekerja atau nugas. Alasannya sama seperti Krisna, suasana coffee shop dinilai dapat memberi kenyamanan dan mendukung produktivitas.
Survei yang sama juga menunjukkan rata-rata pengeluaran per kunjungan berada dalam kisaran Rp20 ribu hingga Rp50 ribu. Di Jogja, spesifiknya, Survei Biaya Hidup Mahasiswa (SBHM) 2024 yang dilakukan UPN Veteran Jogja dan Bank Indonesia menunjukkan sekitar 22 persen uang saku bulanan mahasiswa dihabiskan untuk kebutuhan pergi ke coffee shop, yakni senilai Rp153 ribu.
Kisaran harga yang dihabiskan rata-rata mahasiswa di Jogja untuk segelas kopi itu dapat memberikan mereka coffee shop kelas menengah, bahkan atas, mengingat harga yang dipatok kafe kelas merakyat jauh lebih bersahabat. Setengah harga tersebut sudah dapat memberikan segelas kopi, tetapi tidak dengan kenyamanan yang bisa mendukung produktivitas.
Menurut Krisna, kerelaannya dan mahasiswa Jogja untuk membayar mahal hingga mengeluarkan hampir seperempat persentase uang bulanan untuk kopi di coffee shop adalah karena mereka merasa dapat balik modal.
Sebagai contoh, Krisna bisa mendapatkan lebih banyak ide ketika sedang duduk di kafe ketimbang di kamar kosnya. Ide ini, kata dia, adalah bentuk keuntungan dari investasi dengan membayar harga segelas kopi.
“Kalau di coffee shop aku jadi suka banyak ide deh, ada aja tuh mau ikut ini dan ikut itu. Banyak kerjaan dan lomba-lomba yang berhasil aku dapatkan dan dapat duitnya karena aku bisa totally produktif di kafe,” kata dia.
“Balik modal besar deh,” tutupnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Nongkrong di Coffe Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














