Imron Rivaldi, seorang lulusan Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyesal membuat grup WhatsApp untuk keluarga besarnya setelah dia wisuda. Menurutnya, pembahasan di dalamnya makin tak berfaedah. Salah satunya info loker yang “nyeleneh”.
Pertama kali bikin grup WhatsApp keluarga
Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tampak ramai dengan para wisudawan, dosen, dan keluarga besar Imron Rivaldi yang juga diwisuda hari itu. Bagi keluarganya, perayaan Imron sebagai lulusan UMY cukup spesial karena dia adalah anak pertama sekaligus cucu pertama yang berhasil sarjana.
Guna mengabadikan momen tersebut, keluarga Imron tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu dengan mengambil banyak foto. Ada yang berpose jempol dengan senyum sumringah hingga bergaya seperti ular kobra.
Sementara Imron, yang menjadi bintang utama justru terduduk bingung. Di tengah kekacauan itu, dia malah mendapat tugas khusus dari bapaknya yakni membuat grup WhatsApp keluarga besar agar mudah membagikan foto-foto mereka.
“Mron, kamu yang bikin grupnya ya. Terus masukin kita semua,” kata bapak Imron, Engkus Sanusi Al-Kuseni dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Rabu (18/2/2026).
“Beres, Father! Imron janji jadi admin yang adil, amanah, dan selalu mendengar aspirasi anggota,” jawab Imron.
“Benar ya, jangan pernah mengkhianati rakyat!”
“Laksanakan!”
Imron yang awalnya bingung, kemudian langsung bangga karena merasa dapat jabatan penting setelah lulus dari UMY, sebelum dicap sebagai sarjana nganggur. Grupnya pun dia beri nama “Big Family Abah Kusen dan Mak Icin”–nama kakek dan neneknya, karena nama itu lah yang membuat keluarga besar mereka akur sampai sekarang.
Info loker “nyeleneh” dari saudara untuk sarjana nganggur
Momen keriuhan selepas wisuda Imron perlahan memudar setelah dua minggu berlalu, tapi tidak dengan grup WhatsApp keluarga besarnya. Grup itu terpantau masih ramai dengan berbagai macam pembahasan yang ngalor ngidul.
Salah satunya info lowongan kerja (loker) yang dikirim oleh pamannya di grup WhatsApp keluarga. Yang tentu saja sebetulnya ditujukan hanya kepada Imron. Imron yang memang sedang pusing menjadi loker sebenarnya tak masalah.
Selepas wisuda dia memang sulit tidur. Sibuk berselancar di TikTok untuk mengatasi kegundahannya mencari kerja. Alih-alih mendapat info loker, Imron justru tersindir karena algoritmanya yang berisi sarjana nganggur.
Masalahnya, info loker dari paman Imron yang dikirim di grup WhatsApp terdengar seperti penipuan. Loker untuk jabatan manager pemasaran di perusahaan air mineral dengan syarat yang terbilang mudah dan benefit yang tidak masuk akal.
Syaratnya, usia harus di bawah 30 tahun, pendidikan minimal lulusan SMA, dan tidak butuh pengalaman. Sementara benefit-nya gaji Rp10 juta, rumah dinas, tunjangan macam-macam, dan bonus akhir tahun. Di akhir pengumuman tertera batas lamaran berakhir pada Jumat (20/3/2026).
Bukannya mempertanyakan keanehan itu, saudara-saudaranya justru beramai-ramai memotivasi Imron di grup WhatsApp keluarga.
“Bagus tuh, Mron!”
“Gas aja, lumayan!”
“Mantap, semoga ini jalannya!”
Merasa dikhianti sebagai admin grup WhatsApp keluarga
Namun, Imron tak langsung mendaftar. Dia bertanya langsung ke pamannya untuk memastikan kredibilitas informasi itu. Pamannya bilang, info itu dia dapat dari temannya Agus. Dia pun memberikan kontak Agus ke Imron.
Setelah mengirim pesan ke Agus, Imron malah disuruh menghubungi temannya Agus dengan kontak yang tertera nama “Suhendar Pupuk Alami”. Imron pun kebingungan, apa hubungannya dengan pupuk alami dengan manajer pemasaran air mineral tapi Imron tetap mengirim pesan karena malu dicap sebagai sarjana nganggur.
“Assalamualaikum, Mang Suhendar. Saya Imron. Dapat nomer dari Mang Agus. Izin, mau tanya info lengkap loker manager pemasaran itu,” tulis Imron.
“Wah, saya juga nggak tahu detailnya. Saya juga dapat dari yang ini aja.” Jawab Suhendar, lalu memberikan lagi nomor orang lain bernama Joko.
Imron yang mulai pesimis dan sadar dengan permainan ini nyatanya masih menyimpan harapan. Pada akhirnya, ia mengirim pesan ke Joko dan malah mendapatkan jawaban yang tak terduga.
“Kamu adalah orang yang ke-174 yang nanya soal ini. Saya juga dapatnya dari ini,” jawab Joko yang kemudian menggulirkan kontak dengan nama lain Supriadi.
Sejak saat itu Imron berpikir bahwa info loker itu pasti mengada-ngada, sehingga dia memutuskan berhenti menanyakan info detailnya. Biarlah untuk sementara ini dia dicap sebagai sarjana nganggur.
Namun tetap saja, Imron merasa sakit hati. Harapan sebagai fresh graduate yang akan segera dapat kerja, langsung ambruk seketika. Sebagai admin “Big Family Abah Kusen dan Mak Icin”, Imron merasa dikhianati oleh anggotanya sendiri.
Biarlah dicap sarjana nganggur untuk sementara
Keesokan harinya, grup WhatsApp keluarga besar Imron masih ramai. Topiknya berisi berita hoax yang makin tak terarah. Dari obat bawang putih campur air yang katanya bisa menyembuhkan segala penyakit hingga video hasil AI berupa Cristiano Ronaldo angkat piala dunia.
Sebagai lulusan sarjana UMY yang belum dapat kerja (sarjana nganggur), Imron tentu sadar bahaya hoax. Apalagi, dia sudah mengalaminya sendiri. Namun, dia tidak bisa melakukan apa-apa di grup WhatsApp keluarga meski jabatannya adalah admin.
Mau mematikan notifikasi grup WhatsApp keluarga besar juga serba salah. Takut hoax yang menyebar menimbulkan korban, sementara tidak ada yang mengingatkan. Tapi kalau diingatkan dengan baik-baik, Imron takut malah kena omel.
“Nanti dicap sebagai ‘anak muda sok tahu’, tanpa gaji, tanpa terima kasih, tanpa apa-apa,” ucapnya.
Pusing dengan masalah itu, Imron akhirnya pergi keluar rumah untuk bertemu temannya yang hanya berjarak dua blok dari sana. Moyo Tantular, teman Imron yang baru saja kena PHK massal saat Covid-10 dan kini berstatus nganggur, terlihat sedang duduk sambil bermain gawai dan ngopi di teras rumahnya.
Melihat Imron datang, Moyo langsung menawarkan temannya itu duduk dan nongkrong bersama. Dia juga menyuguhkan kopi hitam panas yang langsung diterima Imron dengan senang hati.
“Sibuk ngapain aja seharian, Moy?” tanya Imron.
“Ini lagi ada info loker jadi manager pemasaran di perusahaan air mineral. Syaratnya mudah banget, minimal lulusan SMA, tapi gaji 10 juta sebulan, ada bonus-bonusnya juga. Siapa tahu rezekinya. Mau join gak?” ajak Moyo girang, sementara Imron merasa dejavu.
Cerita Imron tersebut sebagaimana dimuat dalam laman resmi Muhammadiyah.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Penyesalan Meninggalkan Surabaya buat Kerja di Jogja tapi Malah “Ketipu Brosur”, Tak Sesuai Ekspektasi dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














