Tak hanya itu, Aji juga aktif di beberapa acara dan organisasi kampus. Ia pernah mengikuti Forum Penelitian dan Penulisan Hukum (FPPH), Asian Law Students’ Association Local Chapter UGM (ALSA UGM), Business Law Community (BLC), dan Speech and Law Debate Society (Speciality).
Di luar dari bagian fakultas, Aji sempat menjabat sebagai pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tenis Lapangan di UGM, Jogja. Dan pernah menjuarai olahraga tersebut di tingkat universitas.
Tidak hanya terpaku di dalam kegiatan organisasi, ia juga mulai merintis kariernya di bidang profesional sejak menjadi mahasiswa. Menjelang libur semester, Aji kerap mengajukan lamaran magang di beberapa lembaga hukum di Jogja.
Mulai dari DPD RI Yogyakarta, Kejaksaan Negeri, kantor hukum, kantor notaris, lembaga bantuan hukum, hingga lembaga riset hukum Institute for Criminal Justice Reform (ICJR). Ia juga sempat bekerja sebagai content writer di platform media sosial yang membahas isu-isu hukum.
“Anak emas” UGM yang banyak prestasi
Di tengah kesibukannya dalam menjalani kuliah sebagai mahasiswa UGM, jasa antar makanan, dan organisasi, Aji tetap berusaha untuk berprestasi di akademik dan non akademik.

Namanya tercatat pernah menjuarai kompetisi ilmiah tingkat fakultas, universitas, hingga nasional. Beberapa di antaranya adalah Juara 1 Karya Tulis Ilmiah Airlangga Law Competition 2023, Juara 1 Kompetisi Artikel Ilmiah Constitutional Law Fair Universitas Brawijaya 2022, serta Juara 2 Legislative Drafting Competition Universitas Indonesia 2022.
Bahkan saat memasuki semester akhir, Aji terlibat dalam berbagai proyek penelitian bersama dengan dosen Fakultas Hukum UGM dan beberapa lembaga riset hukum. Ia menjadi asisten penelitian dalam kajian perubahan Undang-Undang Pengelolaan Keuangan Haji serta terlibat dalam pengelolaan database dan pelacakan kasus hukuman mati di ICJR.
Lelah itu pasti, tapi menyerah jangan
Melalui berbagai hiruk pikuk yang dialaminya, Aji memilih untuk tidak pernah menyerah meskipun tekanan tersebut kian menghampiri. Sebagai manusia biasa, Aji juga pernah merasakan lelah bahkan ada saja masalah yang membentur dari segala sisi. Dari situ ia menyadari, penting juga memberikan waktu untuk tubuh dan pikirannya beristirahat.
“Bukan menyerah, tapi lebih memilih ke meluangkan waktu buat istirahat sejenak menata ulang apa yang seharusnya dibenahi, dilakukan, dituntaskan, dan dicapai dengan terarah,” ujarnya.
Kini, perjuangan Aji pun terbayarkan, setelah ia berhasil menyelesaikan studinya dan mendapat gelar sarjana Hukum di UGM. Tak sekadar lulus, Aji juga mendapat predikat cumlaude dengan IPK 3,55.
Bagi Aji, menyelesaikan studi adalah bentuk tanggung jawab dirinya pada orang tua dan mimpi yang harus dituntaskan. “Selama kuliah, tentu momen wisuda yang dinanti dan cita-cita yang harus digapai,” ujarnya.
Bila menoleh ke belakang, Aji memaknai seluruh perjuangan itu sebagai proses yang penuh makna. “Mungkin jalan yang ditempuh nggak mudah. Tapi bisa jadi itu cara Tuhan memberi kenikmatan setelah pahitnya susah,” kata dia.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













