Kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik di Indonesia kerap menjadi tolok ukur dalam berbagai hal. Mahasiswa yang berkuliah di sana dianggap dianggap berkualitas sama, padahal ada di antara mereka yang tidak benar-benar mencerminkan kualitas tempatnya menempuh pendidikan tinggi. Level mahasiswa magister (S2) UGM sekalipun tidak menjamin mutunya.
***
Beberapa mahasiswa yang sedang kuliah S2 di UGM berbagi cerita, mereka merasa mumet untuk alasan yang tidak perlu. Persoalannya, mahasiswa S2 seharusnya sudah lebih dewasa dan dapat memahami cara dunia akademik bekerja dibandingkan mahasiswa S1.
Namun, harapan itu tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Mereka justru harus menelan pil pahit, berupa realitas bahwa tidak seluruh mahasiswa S2 memiliki mutu yang setara. Mereka bisa jadi ketergantungan dan sepenuhnya mengandalkan artificial intelligence (AI) untuk mengerjakan berbagai tugas kuliah.
Sialnya, ketika kamu ditempatkan dalam kelompok yang sama dengan orang-orang ini, proses pengerjaan tugas kuliah akan lebih panjang dari seharusnya.
Mahasiswa S2 PTN terbaik, tapi sedikit-sedikit tanya AI
Nabila (bukan nama sebenarnya) (27) adalah salah satu dari mahasiswa tersebut. Perempuan yang tengah menempuh S2 di UGM ini mengaku tidak asing melihat teman-teman perkuliahan menggunakan AI.
Dalam kegiatan belajar sehari-hari pun, mereka kerap langsung mengirimkan prompt ke AI. Alih-alih berpikir lebih dahulu, AI seakan-akan menjadi jalan cepat untuk dapat memperoleh jawaban.
Misal, Nabila menggambarkan, materi kuliah yang seharusnya dibaca dan dipahami sendiri justru diproses oleh AI. Hasil tersebut barulah akan dibaca, kemudian diakui sebagai hasil pemikiran kolaborasi, atau bahkan sendiri.
Dengan begitu, kualitas mahasiswa S2 di PTN yang berlokasi di Jogja ini mengalami degradasi. Mereka yang ketergantungan kepada AI jadi kosong-melompong karena seluruh pengetahuannya bersumber, serta diolah oleh teknologi.
“Banyak lho mereka yang kopong,” kata dia, Rabu (15/4/2026).
Salah seorang teman di kelas Nabila, kata dia, terus-menerus menggunakan AI, seperti Claude. Penggunaan yang tidak berhenti sampai ketergantungan itu menimbulkan ketidakmampuan dalam memproses informasi sendiri.
Pada akhirnya, mahasiswa S2 UGM yang seharusnya memahami tugas kuliah dengan tingkatan studi yang lebih tinggi ini, malah tidak memahami pengerjaan tugasnya sama sekali. Pasalnya, mereka juga tidak mencoba membentuk fondasi terlebih dahulu, serta mempertanyakan penjabaran AI yang tidak jarang keliru.
“Itu temanku A pakai Claude terus sampai nggak paham sama penelitiannya, bahkan teorinya pun,” kata dia.
“Soalnya dia positif banget sama AI,” kata dia menambahkan.
Sepenuhnya nggak dikerjakan sendiri, parafrase pun enggan
Menurut Nabila, penggunaan AI sebetulnya tidak sepenuhnya salah. Kecanggihan teknologi hadir untuk dimanfaatkan. Penggunaannya dapat membantu memaksimalkan berbagai hal, termasuk kebutuhan kuliah.
Namun demikian, penggunaan AI tetap harus memahami batasan. Akal imitasi ini tidak dapat diterapkan untuk mengerjakan sesuatu tanpa upaya dikontrol. Artinya, penggunaan AI tidak bisa dilepaskan sepenuhnya.
Pengguna AI tidak dapat menelan mentah-mentah apa yang dikatakan teknologi tersebut.
“AI nggak apa-apa, tapi jangan telan mentah-mentah,” kata dia.
Nabila mengaku, ia merasa kesal ketika menemukan mahasiswa yang tidak menyaring kembali temuan AI. Sebab, menurut dia, penting untuk membaca kembali untuk dapat mengetahui celah eror yang tidak sesuai dari pengerjaan seharusnya.
“Aku jujur sebal sama yang nelan mentah-mentah. Apa lu nggak baca ulang? Aneh,” kata dia.
Selain itu, mengingat mereka menyandang status mahasiswa S2 di UGM sebagai PTN terbaik ketiga di Indonesia, keengganan untuk sedikit saja mengerjakan sendiri tugas kuliah ini terasa tidak pantas. Hal ini diperkuat dengan pengalaman Nabila yang pernah bekerja kelompok dengan mahasiswa yang ketergantungan dengan AI.
Dua orang yang pernah bekerja kelompok dengannya itu berujung menjadi beban kelompok. Mereka tidak melakukan pemrosesan informasi sendiri, melainkan melemparkan seluruhnya kepada AI. Masalahnya adalah mereka mempercayai sepenuhnya temuan AI, sehingga terjadi diskusi tidak perlu terkait benar atau salahnya pemikiran yang bukan bersumber dari temuan sendiri.
“Pengalamanku sih ada teman dulu waktu tugas, ada dua orang yang percaya banget sama ChatGPT,” kata dia.
Bikin gila mahasiswa UGM lainnya yang berusaha mati-matian mempertahankan mutu
Meskipun sebenarnya, Nabila mengatakan, dirinya tidak sepenuhnya menentang penggunaan AI. Bagaimanapun, perkembangan teknologi patut dimanfaatkan sehingga penggunaan AI diperbolehkan dalam batas seharusnya.
Seperti halnya etika penulisan artikel jurnal internasional yang mensyaratkan pencantuman penggunaan AI. Penggunaan dalam batasan untuk memaksimalkan tulisan, seperti pengecekan tata bahasa, tidak perlu dianggap berada dalam batas yang dapat diterima sehingga tidak perlu dijabarkan. Sementara itu, penggunaan lain wajib dicantumkan untuk dapat memverifikasi akurasi dari temuan dan orisinalitas.
Artinya, penggunaan akal imitasi tidak dipermasalahkan selama tidak mengambil alih fungsi akal utama manusia sebagai penggunanya sendiri.
Nabila mengaku, dia juga menggunakan AI untuk dapat mendukung kebutuhan kuliah. Lebih tepatnya, memaksimalkan capaian dalam kuliah. Misalnya, penggunaan AI seperti NotebookLM dimanfaatkan untuk akselerasi pembacaan dan pemahaman.
Sebab, pembacaan sendiri sering memakan waktu lebih lama.
“Aku tuh bisa yah baca paham gitu, tapi takes time,” kata dia.
Maka dari itu, ia bersiasat dengan melakukan pembacaan sekali. Kemudian, mengoperkan materi pembacaan ke AI, lalu membacanya kembali bersama untuk didiskusikan.
“Makanya hadir NotebookLM sangat membantuku, mempercepat pembacaan dan pemahaman aja,” kata dia menutup.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Malas dan Lelah Kuliah, Telepon Ibu Selamatkan Mahasiswa Keperawatan UGM hingga Lulus dengan IPK Sempurna dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














