Penerima KIP Kuliah dianggap sebagai mahasiswa yang beruntung. Hidupnya enak, mendapat uang beasiswa dari negara. Anggapan ini pula yang pada akhirnya bikin stigma bahwa mereka tidak boleh foya-foya. Harus terlihat miskin dan menderita.
***
Hampir setiap semester, selalu ada pemandangan yang berulang di media sosial. Di akun-akun menfess kampus, sering muncul postingan yang menampilkan seorang mahasiswa sedang memegang mengerjakan tugas di coffee shop atau memakai sepatu yang lumayan bagus.
Keterangan fotonya biasanya bernada sinis: “Katanya anak KIP Kuliah, kok nongkrong di kafe? Kok sepatunya bagus? Bantuan pemerintah salah sasaran nih!”
Kira-kira begitu isinya.
Banyak orang mendadak menjadi “polisi moral”. Mereka menuntut penerima bantuan KIP Kuliah untuk tampil miskin, merana, dan menderita. Seolah-olah, menjadi miskin berarti kehilangan hak untuk terlihat rapi atau sekadar duduk di kedai kopi.
Memang benar, penyaluran KIP Kuliah wajib dikawal agar tepat sasaran sesuai amanat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Dana dari negara mutlak harus jatuh ke tangan mahasiswa yang benar-benar memiliki keterbatasan ekonomi.
Namun, di balik ekspektasi publik yang seolah mengharuskan penerimanya tampil lusuh dan merana setiap saat, nyatanya ada “strategi bertahan hidup” yang sering kali kejam dan jarang dipahami oleh orang luar.
Mahasiswa KIP Kuliah dianggap “harap” ngopi di coffee shop
Sari (21), seorang mahasiswi di salah satu kampus negeri di Jogja, mengaku pernah menjadi korban sindiran teman sekelasnya. Temannya, yang masuk lewat jalur reguler, menyindir Sari karena sering terlihat mengerjakan tugas di sebuah kafe dan memesan kopi seharga Rp30 ribu
Sindirannya tajam. Sari dianggap menghamburkan uang negara untuk gaya hidup.
“Kayak seolah-olah yang boleh ngopi itu cuma mahasiswa kayak. Seolah-olah lambung orang miskin itu nggak boleh kena kopi kafe,” ujarnya kesal, saat ditemui Mojok, Jumat (6/3/2026) malam.
Padahal, kenyataannya jauh dari kata pamer. Kos-kosan Sari ukurannya sangat kecil dan tidak punya fasilitas Wi-Fi. Sementara itu, ia membutuhkan ruang yang nyaman serta jaringan internet buat mengunduh bahan-bahan skripsinya.
Alhasil, kopi seharga Rp30 ribu caranya self-reward sekaligus numpang Wi-Fi cepat dan AC selama berjam-jam untuk mengerjakan tugas akhir.
Uang beasiswa kecil, harus kerja part time buat bisa self-reward
Jika kita melihat data resmi, tuduhan bahwa Sari memakai uang negara untuk nongkrong itu secara matematis sebenarnya kurang masuk akal. Sesuai aturan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), bantuan biaya hidup KIP Kuliah dibagi menjadi lima klaster.
Di kota besar seperti tempat Sari kuliah (Klaster 2), bantuan yang cair adalah Rp800 hingga Rp950 ribu per bulan. Uang ini sudah harus terpotong Rp350 ribu untuk membayar kos.
Artinya, sisa uang jajan bulanan Sari, tak lebih dari Rp600 ribu. Jika dibagi 30 hari saja, jatah makan Sari hanya Rp20 ribu per hari.
“Boro-boro buat nongkrong, untuk makan sehat tiga kali sehari saja susah, megap-megap,” ungkapnya.
Lalu, dari mana uang kopi Sari? Nyatanya, sehari-hari Sari bekerja part-time sebagai penjaga kedai selama lima hari seminggu dari sore hingga tengah malam. Kopi yang ia minum di kafe itu, kata dia, murni dari hasil keringatnya sendiri.
Ia bekerja agar tidak dikucilkan dari pergaulan kampus sekaligus self-reward maupun healing setelah melewati hari yang berat.
“Bayangin, mau foya-foya aja kudu kerja dulu. Lantas, di mana letak kayanya?”
Sering asam lambung karena uang beasiswa telat cair
Selain dituduh hedon, mahasiswa KIP Kuliah juga sering dianggap punya “hidup enak”. Banyak mahasiswa reguler yang pusing membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) tiap semester merasa iri, mengira anak KIP hidupnya tenang karena biaya kuliah sudah ditanggung negara.
Di satu sisi, realitas ini harus diakui terjadi. Namun, tak bisa dipukul rata begitu saja.
Bagi Dika (21), yang kerap mendengar stigma itu, hanya bisa tertawa getir. Alih-alih hidup enak, mahasiswa penerima KIP Kuliah di salah satu PTN Jogja ini mengaku asam lambungnya sering kumat.
Penyebabnya? Ia harus makan mi instan dicampur nasi berhari-hari pada awal semester.
“Faktanya, dan ini jarang diketahui publik, dana KIP Kuliah sering telat cair. Uang saku itu nggak dibagikan per bulan, tapi dirapel per semester,” ujarnya.
“Tapi kan karena proses birokrasi dari pusat ke kampus yang panjang, dana ini sering baru turun satu hingga dua bulan setelah perkuliahan dimulai.”
Baca halaman selanjutnya…
“Kami juga punya hak terlihat bahagia,”














