Siapa nyana, dari mimpi yang ditertawakan kemudian bisa kuliah ke luar negeri (Australia) dengan beasiswa LPDP. Setelah lulus harusnya punya kesempatan karier mentereng di Ibu Kota: sebagai staf anggota dewan. Tapi tawaran itu ditolak demi mengabdikan diri di kampung halamannya di pedalaman.
***
Ingatan pada kondisi kampung halaman melatar belakangi pilihan Felix Degei untuk pulang, alih-alih mengejar karier di kota besar atau luar negeri. Meski, sebagai alumnus universitas di Australia, ia sebenarnya punya daya tawar lebih.
Felix lahir di kampung Putaapa, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah. Dulu, semasa ia kecil, ia merasakan bagaimana sekolahnya hanya menyediakan sampai kelas empat SD saja.
Untuk melanjutkan dua kelas berikutnya (kelas 5 dan 6), tidak ada cara lain selain harus berangkat menuju kampung tetangga: Modio. Jaraknya 26 kilometer dari Putaapa.

Untuk menempuhnya, tidak ada transportasi selain kaki dan kondisi fisik sendiri. Karena memang rute perjalanan ke sekolah harus membelah hutan dan sungai saban hari.
“Pulang pergi itu pagi berangkat subuh sudah mulai jalan (kaki). Lalu habis sekolah pulang lagi. Begitu terus selama dua tahun,” tutur laki-laki kelahiran 1988 itu mengenang masa kecilnya, sebagaimana dituturkan dalam kisah-kisah awardee beasiswa kuliah luar negeri LPDP.
Ditertawakan karena mimpi kuliah di universitas Australia
Mimpi bisa kuliah di universitas Australia sebenarnya sudah terpupuk sejak kecil. Meski kala itu Felix sebenarnya belum punya gambaran juga perihal tersebut.
Jangan jauh-jauh Australia. Saat SMP saja Felix mengira kalau kuliah paling prestisius adalah sekolah tinggi di Nabire. Jayapura terasa jauh, apalagi luar negeri.
Namun, sejak mendengar nama “Melbourne, Australia” melalui sebuah radio Tiens milik sang ayah, ada letupan mimpi dalam diri Felix.
Radio itu menangkap siaran jauh dari Melbourne. Setiap kali penyiar menyebut, “Radio Australia dari Melbourne,” Felix berbisik dalam hati, “Suatu hari aku akan sampai di sana.”
Mimpi itu ditertawakan oleh teman-teman Felix. Karena faktanya memang: untuk mencapai kampung ibu kota distrik saja sulit, apalagi sampai ke kota besar seperti Nabire atau malah ke luar negeri.
Akan tetapi Felix tidak ciut hati karena berpegang pada petuah sang ayah yang seorang pensiunan Guru Agama Katolik di SD Negeri Inpres 1 Bumi Mulia Wanggar Nabire. “Kalau mau lihat orang yang beda warna kulit, beda rambut, mau ingin coba makanan yang beda dengan kita, mau ingin mengalami iklim, cuaca yang berbeda, ya harus belajar, teko lah, yang artinya sekolah,” kenang Felix atas petuah-petuah sang ayah.
Sempat gagal saat kejar beasiswa kuliah luar negeri sebelum kenal LPDP
Lulus dari SMA YPPK Adhi Luhur Nabire, Felix melanjutkan kuliah S1 Bimbingan dan Konseling di Universitas Cenderawasih dan lulus pada 2012. Ia sempat menjadi asisten dosen.
Motivasi dari seorang pastor yang bisa menembus Vatikan membuat tekad Felix untuk kuliah ke universitas di Australia semakin kuat. Maka ia kemudian memulai “perjalanan” mencari-cari beasiswa kuliah luar negeri.
Pada tahun 2013, Felix mendapat kesempatan kursus bahasa Inggris di Indonesia Australia Language Foundation (IALF) Denpasar Bali. Di sanalah ia mulai mengenal berbagai beasiswa internasional seperti Australia Awards, Fulbright, Chevening, dan ada LPDP.
Saat itu Felix mencoba melamar Australia Awards. Sayangnya gagal.
Tidak menyerah, Felix mengikuti pelatihan English Language Training Assistance (ELTA) yang didanai Kedutaan Australia. Ia kemudian mencoba mendaftar beasiswa lagi. Namun, kabar baik tidak kunjung datang. Sampai kemudian ia mencoba mendaftar beasiswa LPDP.
“Jadi sejak saat itu yang sebelumnya hanya menaruh hati ke Australia Award Scholarship (AAS) itu, saya berpikir kalau LPDP juga bagus ini. Karena sebelumnya belum terlalu tahu soal LPDP,” ucap Felix.
“Puji Tuhan, Tuhan buka jalan, dan saya di 2016 itu menjadi salah satu penerima LPDP,” sambung Felix mengenang masa itu.
Pada Januari 2017, Felix pun berangkat ke Australia untuk menempuh Master of Education di The University of Adelaide.
Survival anak kampung pedalaman saat kuliah di universitas Australia, sisihkan uang beasiswa buat biaya kuliah adik
Setiba di Australia, Felix benar-benar harus survive. Sebelum berangkat, Felix melacak jejaringnya saat di ELTA dan persiapan AAS kala itu. Ia kemudian menemukan seorang guru asal Merauke yang sedang studi di Flinders University.
“Kakak, ibu kita sama-sama dari pedalaman Papua, saya ada rencana seperti ini, saya ingin lanjut dan kiranya ibu bisa bantu saya untuk setelmennya dulu?” sapa Felix saat menghubungi guru tersebut dari media sosial.
Syukur guru tersebut ringan tangan membantu Felix: menjemput Felix saat pertama kali tiba di Australia hingga menampung Felix di dua minggu pertama sampai mendapat share house tidak jauh dari universitas.

“Saya tinggal delapan orang. Saya satu-satunya yang berasal dari Indonesia. Kalau mau survive, mau komunikasi dengan mereka, harus pakai bahasa Inggris,” ujar Felix.
“Puji Tuhan saya tidak mengalami culture shock yang terlalu berlebihan, karena saya memang datang untuk belajar. Yang saya tidak tahu, saya tanya,” imbuhnya. Dan memang begitulah Felix pada akhirnya: mencoba memanfaatkan setiap kesempatan untuk menambah wawasan dan keterampilan.
Tidak hanya itu, Felix ternyata juga menyisihkan dana beasiswa kuliah yang ia terima untuk membantu membiayai kuliah S1 kedua adiknya di APMD (Akademi Pembangunan Masyarakat Desa) Yogyakarta dan Universitas Cenderawasih sampai keduanya lulus.
Tolak tawaran karier di dewan demi mengajar anak-anak kampung pedalaman
Sebagai lulusan sebuah universitas di Australia, Felix jelas punya daya tawar lebih. Ia bisa menjadi dosen tetap di Universitas Cenderawasih. Ia bahkan sempat diminta membantu staf atau tenaga ahli dari seorang anggota DPD RI di Jakarta.
Namun tawaran tersebut justru Felix tolak. Ia lebih memikirkan kampung halamannya: Putaapa. Ia memikirkan sekolah-sekolah di pedalaman dengan gedung tanpa guru. Ia memikirkan siswa SMA yang belum lancar membaca dan berhitung. Ia terbayang masa lalunya ketika Bahasa Indonesianya menjadi bahan ejekan saat SMA.
“Kalau saya menghilang, itu tidak baik,” katanya pelan. Oleh karena itu ia memilih kata hatinya untuk pulang ke Nabire, menjadi seorang guru.
Sejak 2019, rutinitas Felix nyaris tanpa jeda. Pagi hari ia mengajar di SMA Negeri 1 Plus KPG (Kolese Pendidikan Guru) Nabire sebagai guru honorer. Siang hingga sore ia mengajar di Unit Pelaksana Program PGSD milik Universitas Cenderawasih di Nabire. Ia juga mengajar di Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) dan menjadi tutor Bahasa Inggris di sekolah persiapan Imam Katolik.
Anak-anak SMA yang Felix ajar mayoritas berasal dari pedalaman baik pesisir maupun pegunungan. Ia mendapati betapa banyak anak-anak SMA belum bisa baca tulis dan perkalian.
“Jadi perkalian 1 sampai 10 itu kita harus tunggu sampai menit, sampai lama keringatan mereka melafalkan membaca dengan lancar. Berbicara dengan baik itu jauh dari yang seharusnya di tingkat SMA,” tuturnya menerangkan kondisi anak-anak di sekolahnya.
Tidak jarang beberapa guru pendatang yang bukan orang Papua kerap terheran: apakah mereka salah masuk kelas? Dan karena itulah merasa perlu mengabdikan dirinya untuk mereka: anak-anak Papua, mengantarkan mereka meraih mimpi yang lebih tinggi.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
Sumber: LPDP
BACA JUGA: Kuliah Teknik Pertambangan UNHAS hingga Dapat Beasiswa LPDP ke Tiongkok, Ubah Nasib Driver Ojol Jadi Supervisor atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














