“Bagi saya, menjadi disabilitas jujur tidak mudah. Namun ini tetap saya jalani dengan sepenuh hati menjaga nyala semangat dan tak kehilangan arah,” ujar Arif Prasetyo, peserta LPDP lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Merantau sejak kecil agar bisa sekolah
Dunia hadir tanpa rupa dan warna bagi Arif Prasetyo. Bahkan ia sering tersandung hingga terluka karena tak bisa melihat sejak kecil. Saat usia 6 tahun, Arif nyaris tak bisa mengenyam bangku sekolah dasar (SD) karena kondisi fisiknya.
“Dulu waktu daftar SD saya sempat ditolak 2 kali oleh 2 sekolahan, alasannya sama. Belum siap menerima disabilitas seperti saya,” ujar Arif dikutip dari laman resmi LPDP, Senin (13/4/2026).
Akhirnya, Arif harus merantau ke Kota Jogja di usianya yang baru 7 tahun untuk bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB). Oleh karena itu, Arif terbiasa hidup mandiri karena tinggal jauh dari orang tua.
“Karena itulah akhirnya saya merasa, ya mungkin, ya harus sekolah di SLB, tapi ini tidak menjadi sebuah halangan,” kata Arif.
Guna melawan diskriminasi yang dialaminya sewaktu kecil, Arif berusaha membuktikannya dengan karya. Ia bertekad membawa 1 piala setiap pulang ke rumah, yang kemudian ia pajang di ruang tamu agar setiap orang yang datang bisa melihatnya.
“Bahwa kondisi saya ini hanyalah fisiknya saja yang mengalami hambatan, tapi untuk berprestasi dan belajar, semua orang itu sama,” tegas Arif.
Kuliah di UIN Sunan Kalijaga dengan beasiswa
Sebagai anak yang lahir dari orang tua penyandang disabilitas, Arif juga ingin membuktikan bahwa disabilitas netra bisa mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi. Masalahnya, Arif menyadari kalau kuliah butuh biaya yang tak sedikit, sementara orang tuanya tak akan mampu secara ekonomi.
Ayahnya yang juga disabilitas netra mencukupi kebutuhan hidupnya sebagai pengamen. Saban hari, ia menjual suara di sepanjang Malioboro, Jogja. Begitu pula ibunya yang bekerja sebagai tukang pijat.
Tak sedikit akal, Arif kemudian mencari tahu soal beasiswa KIP Kuliah hingga akhirnya ia diterima di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jurusan Sosiologi. Meski begitu, bantuan itu sejatinya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Oleh karena itu, Arif nyambi berjualan parfum laundry dari kamar kosnya. Dengan penghasilan tersebut, Arif akhirnya mampu bertahan di perkuliahan hingga lulus sarjana. Tak berhenti sampai di situ, Arif kemudian melanjutkan kuliahnya sampai S2 di Jurusan Manajemen Pendidikan Islam.
Lanjut S2 dengan beasiswa LPDP
Agar bisa kuliah S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Arif memberanikan diri untuk mendaftar beasiswa LPDP Afirmasi Disabilitas. Jujur saja, waktu itu Arif kurang percaya diri dengan kemampuan Bahasa Inggrisnya.
Bukannya menyerah, Arif justru mendaftar ke lembaga penyedia tes TOEFL di Yogyakarta. Sayangnya, Arif harus kalah sebelum bertanding. Sama seperti peristiwa saat ia masuk SD dulu, beberapa penyedia tes TOEFL di Yogyakarta menolaknya karena belum siap mengakomodasi kebutuhan peserta disabilitas.
Namun, bukan berarti Arif hanya punya satu pilihan. Ia mencari jalan lain dengan mendaftar ke lembaga tes yang berbeda, tanpa lebih dulu menjelaskan kondisinya. Beberapa di antaranya, kata Arif, mulanya menerima tapi kemudian menolak saat mengetahui kondisinya.
Beruntung, tak semua lembaga yang ia daftar begitu. Ada satu lembaga yang justru terdorong untuk menyesuaikan sistem dan metode ujiannya agar lebih inklusif berkat kehadiran Arif. Setelah lama belajar di sana, Arif akhirnya berhasil membuktikan dengan meraih skor TOEFL melebihi batas syarat LPDP dan diterima beasiswa.
“Disabilitas itu banyak banget yang belum bisa meraih pendidikan tinggi, nah hadirnya LPDP membuat saya dan teman-teman disabilitas lainnya bisa meraih mimpi, bisa melanjutkan pendidikan tinggi, dan akhirnya teman-teman disabilitas bisa menikmati pendidikan yang setara,” ungkapnya.
Kontribusi usai dapat beasiswa LPDP
Perjalanan Arif tak berhenti pada capaian akademik. Lulus dari UIN Sunan Kalijaga dengan beasiswa LPDP, Arif turut berkontribusi, menguatkan sesama, sekaligus mendorong perubahan yang lebih luas di Yogyakarta.
Ia pun aktif dalam berbagai komunitas yang berfokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas, menghadirkan ruang-ruang yang lebih inklusif di tengah masyarakat. Salah satu inisiatifnya adalah kegiatan walking tour.
Kegiatan itu mengajak masyarakat dan pemangku kebijakan mengunjungi ruang publik seperti taman kota dan museum dari perspektif disabilitas. Melalui pengalaman langsung itu, Arif ingin menunjukkan bahwa inklusivitas bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan nyata yang harus diwujudkan dalam fasilitas publik.
Ia juga terlibat dalam komunitas sutradara film disabilitas Sat Adhirajasa, yang menjadi ruang kolaborasi bagi penyandang disabilitas dan nondisabilitas dalam berkarya di bidang film, akting, dan penulisan skenario, menciptakan karya yang setara sekaligus membuka akses representasi yang lebih luas.
Di sisi lain, Arif menyalurkan kecintaannya pada seni melalui band dan paduan suara sekaligus membuktikan bahwa ekspresi kreatif tak mengenal batas fisik. Ia juga menggagas Braille School, sebuah inisiatif untuk mengenalkan huruf braille kepada masyarakat umum, agar literasi braille tak hanya dimiliki oleh penyandang disabilitas netra, tetapi dipahami oleh semua.
Melalui komunitas Braillient Indonesia, Arif turut aktif dalam pendampingan belajar, peningkatan kemampuan bahasa Inggris, hingga produksi audiobook. Dari gerakan ini, ia berhasil menggalang dan menyalurkan 276 paket Iqro serta 20 paket Al-Qur’an braille.
Bagi Arif, inklusivitas bukan sekadar konsep, melainkan gerakan yang harus terus dihidupkan melalui karya, kolaborasi, dan keberanian untuk membuka jalan bagi yang lain.
“Saya kerap tersandung, terjatuh, bahkan terluka. Bagi saya yang disabilitas, menjalani perjuangan ini jujur tidak mudah. Namun ini tetap saya jalani sepenuh hati, menjaga nyala semangat dan tak kehilangan harap”, ucap alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Pernah Pamit ke Rektor Unesa buat Kuliah di Unair, Kini Jadi Wisudawan S2 Tunanetra Pertama dan Jadi PNS di Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














