Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Perjalanan Nanang, Tunanetra yang Diusir karena Buka Jasa Pijat di Malioboro hingga Menjadi Seniman Raba

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
8 Januari 2025
A A
Perjalanan Nanang, Tunanetra yang Diusir karena Buka Jasa Pijat di Malioboro hingga Menjadi Seniman Jogja. MOJOK.CO

ilustrasi - tukang pijat di Malioboro yang menggeluti seni rupa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seniman asal Jogja, Muhammad Haryanto (46) mengalami diskriminasi saat membuka jasa pijatnya di Malioboro. Melalui lukisannya, anak bungsu dari tiga bersaudara itu ingin mengungkapkan perasaan, pemikiran, dan pengalamannya sebagai tunanetra.

***

Iklan

Muhammad Haryonta atau yang akrab dipanggil Nanang adalah penyintas tunanetra yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat di Malioboro, Jogja sejak tahun 2024. Akhir-akhir ini dia merasa resah karena mendapat perlakuan tidak adil oleh Satpol PP. Dia dan teman-temannya sering diusir hanya karena kesalahan salah satu orang pemijat.

“Kadang-kadang mereka menganggap kami ini mengganggu, padahal kami hanya berjalan dan tidak pernah menggangu pengunjung,” ucap Nanang kepada Mojok, Selasa (7/1/2024).

“Saya sendiri tidak pernah menawarkan pijat pada pengunjung, karena saya sudah membawa tulisan ‘terima jasa pijat untuk wanita dan pria’. Jadi kalau saya tidak dipanggil untuk memijat saya tidak pernah menawarkan jasa saya,” lanjutnya.

Lebih dari itu, Nanang merasa ada banyak diskriminasi lain yang ada di sekitarnya. Penyintas tunanetra, kata Nanang, sering dimanfaatkan. Misalnya menjelang pemilu. Biasanya, ada petugas yang meminta KTP mereka tanpa tahu digunakan untuk apa. Mereka juga minta cap jempol untuk kompensasi kehadiran tanpa diberitahu jumlahnya.

Sering kali, penyintas tunanetra dilibatkan dalam kegiatan tapi malah menjadi tidak berdaya, hingga tiba-tiba diberi uang secara diam-diam oleh orang lain karena merasa iba.

“Jika hidup di lingkungan yang belum maju pemikirannya, kaum disabilitas mengalami penolakan karena kondisinya dianggap merepotkan,” kata Nanang. Oleh karena itu, dia belajar seni rupa sebagai upaya menyuarakan hak-hak mereka dan menjadi seniman di Jogja.

Tak merasa berbeda di lingkungannya

Sejak kecil Nanang tak merasa berbeda dengan anak-anak di sekitarnya. Di SD Intergrasi Sinduadi, Sleman, Yogyakarta dia bisa berbaur dengan teman-temannya. Anak bungsu dari tiga bersaudara itu bahkan pernah membonceng temannya naik sepeda.

Lukisan Beda Itu Indah. MOJOK.CO
Lukisan raba karya Nanang berjudul “Beda Itu Indah”. Dok. Muhammad Haryanto

“Sewaktu kecil, saya juga bermain sepeda, nabrak-nabrak, masuk parit, lalu ketawa bareng teman-teman,” ucapnya yang bahagia menceritakan masa lalunya.

Saat jatuh dari sepeda, teman-temannya berteriak kalau dia seperti “si buta”. Alih-alih merasa diejek, Nanang malah ikut berteriak. Sepulangnya dari bermain dia baru bertanya ke ibunya apa maksud dari “si buta” itu.

Ibunya menjawab dia tidak buta, tapi memang tidak bisa melihat dengan mata. Meski begitu, Nanang masih bisa “melihat” melalui mendengar, meraba, dan mencium bau. Oleh karena itu, dia merasa kondisinya wajar.

Namun, pada saat duduk di bangku SMP dia baru menyadari kondisinya yang buta dianggap berbeda oleh masyarakat di sekitarnya. Nanang bingung mengapa dia harus masuk sekolah luar biasa, tidak seperti teman-temannya. 

Salah satu guru bahkan selalu mengingatkannya agar membawa tongkat penuntun jalan, tapi dia tidak ambil pusing. Nanang mengaku sudah bisa menerima kondisi fisiknya. Dia pun lebih suka dipanggil penyintas tunanetra karena menggambarkan orang yang mampu bertahan dengan ketunanetraannya.

Seiring berjalannya waktu, dia ingin menginspirasi penyintas tunanetra lainnya melalui lukisan. Oleh karena itu, dia ingin menjadi seniman Jogja.

Dari tukang pijat menjadi seniman Jogja

Setelah lulus SMP, Nanang tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya karena keterbatasan ekonomi. Namun, semangatnya untuk belajar tak padam. Dia pun menempuh pendidikan informal di Panti Sosal Bina Netra Sadewa tahun 1998.

Selama tiga tahun di sana, Nanang belajar tentang anatomi patologi yakni ilmu yang mempelajari organ dan jaringan tubuh. Dari sana dia bisa mengetahui penyebab dan akibat dari sebuah penyakit. Pengetahuan itu juga menjadi bekal dia memperdalam kemampuannya memijat. 

Nanang kemudian menjalani profesinya menjadi jasa pijat panggilan hingga sekarang. Biasanya dia mangkal di Malioboro. Sayangnya, Covid-19 membuat pesanan pijatnya menurun. Pasca pandemi, bisnisnya belum juga pulih bahkan dia harus memulai dari awal lagi. 

Iklan

Hingga dia bertemu dengan pendiri Wayang Limbah Ki Samidjan dan anaknya, Kus Sri Antoro di tahun 2021. Keduanya memesan jasa pijat kepada Nanang. Layaknya tukang pijat seperti biasanya, Nanang pun mengobrol di sela-sela dia bekerja.

Saat itu dia tahu kalau Samidjan adalah pembuat wayang dari limbah plastik, sedangkan Kus adalah aktivis sosial yang juga sering menyuarakan isu kelompok minoritas termasuk disabilitas. Nanang yang merasa tertarik akhirnya mengutarakan keinginannya untuk bergabung. Dia ingin membuat suatu karya seni rupa dan menjadi seniman di Jogja.

“Saya tertarik dan menanyakan apakah mungkin saya membuat dan mementaskan Wayang  Disabilitas? Katanya, bisa asalkan saya belajar dan berlatih,” ucap tukang pijat di Malioboro itu.

Pelan-pelan belajar menjadi seniman Jogja

Melalui Wayang Limbah Ki Samidjan, Nanang akhirnya belajar menggambar dan melukis. Dia mulai belajar mengenal warna dan bentuk-bentuk dasar.

“Karena wayang kulit kebanyakan pipih, saya harus belajar mengenali karya dua dimensi. Gambar dan lukisan adalah contoh karya dua dimensi,” ujar tukang pijat di Malioboro itu.

Sebagai penyintas tunanetra, dia berhasil membuktikan bahwa dia bisa “melihat” dengan indera selainnya. Dia membagi dua perlengkapan catnya untuk melukis, yakni yang terbuat dari bahan alami dan sintetis akrilik. 

Setiap warna cat akrilik dia beri label dengan huruf awal warna tersebut. Sementara, untuk cat alami dia tinggal mencium baunya. Cat alami itu terbuat dari kunyit, sirih, kapur sirih, buah naga, dan bunga telang. 

Salah satu lukisan seniman raba di Jogja. MOJOK.CO
Salah satu karya Nanang, seniman Jogja. Dok. Muhammad Haryanto

Masalahnya tak berhenti sampai di situ. Saat dia berkunjung ke rumah teman, orang itu menunjukkan sebuah lukisan berbentuk kapal tapi setelah dia raba, Nanang justru kebingungan.

“Mulanya saya bertanya kabar dia, lalu saya bertanya soal lukisan kapalnya. Bagaimana bentuk kapal itu? Mengapa hanya rata saja di dalam kanvas?” tanya Nanang saat itu.

Guna mencari referensi lain dalam melukis, Nanang berkunjung ke sebuah pameran lukisan yang berlokasi di Taman Budaya Yogyakarta pada Januari 2022. Di sana, dia ingin menyentuh lukisan tersebut tapi dilarang dengan alasan bisa merusak keindahan.

Nanang yang bermimpi menjadi seniman Jogja itu pun mencoba pengalaman lain dengan pergi ke Candi Borobudur dan meraba relief di sana, tapi masih bingung karena bentuknya yang rumit. Sementara, dia baru mengenal bentuk dasar seperti segi tiga, segi empat, lingkaran, serta bentuk tiga dimensi seperti kotak, bola, bulat telur, dan tabung.

Mempelopori seni raba

Meski menjumpai banyak tantangan, Nanang tak ingin menyerah. Dia ingin membuktikan bahwa penyintas tunanetra bisa berkarya lewat seni. Terlebih seni rupa yang notabennya membutuhkan kemampuan melihat.

“Saya tidak bisa melihat, tetapi saya masih bisa mendengar, membau, mencecap, dan meraba. Apa mungkin seni rupa dibikin dan dinikmati dengan kemampuan saya?” tanyanya pada diri sendiri kala itu.

Namun, Nanang yakin bahwa seni bisa menjadi sarana dia mengungkapkan perasaan, pemikiran, dan pengalamannya sebagai penyintas tunanetra. Berkat usahanya dia berhasil membuat 11 lukisan yang pernah dipajang dalam pameran tunggalnya berjudul “Seni Raba Menggambar Suara”.

Pameran itu menjadi pelopor lukisan seni raba bagi penyintas tunanetra, sekaligus yang pertama dan diakui oleh Lembaga Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Tukang pijat di Malioboro itu tak menyangka, dia berhasil menyuarakan isu-isu sosial melalui lukisannya.

Salah satu lukisan pertamanya berjudul Jangan Putus Asa. Lukisan itu, kata dia, terinspirasi dari seorang kawan perempuannya yang merupakan pejuang agraria di Parangtritis. Dia ingin menyampaikan pesan untuk tidak putus asa dalam memperjuangkan kesetaraan dan hak-hak disabilitas.

Beberapa karya Nanang menggunakan medium seperti kanvas, spon ati, dan akrilik. Nanang kemudian melukis medium itu dengan abstrak menggunakan cat. Uniknya, dia menambahkan manik-manik untuk membentuk aksara. 

“Saya mampu mendengar suara, tapi katanya suara tidak berwujud, tidak bisa dilihat, disentuh, apalagi diraba. Saya mampu meraba benda, tapi deskripsi saya mengenai benda itu boleh jadi beda dengan yang terlihat,” ucap seniman Jogja itu.

“Padahal, saya ingin berkomunikasi, saya ingin bercerita lewat seni rupa,” lanjutnya. Oleh karena itu, Nanang melukis. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pembuktian Alfian: Dianggap Sebelah Mata karena Buta, Kini Diangkat PNS dan Raih Gelar S2 atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2025 oleh

Tags: hak disabilitaspameran seni rupapedagang malioboropilihan redaksiseni rabaseniman jogjatukang pijat di jogja
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Pelaku pembakaran hutan di Kalimantan dan titik lemah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia MOJOK.CO

Titik Lemah Penanganan Karhutla di Indonesia: 72 Orang Sengaja Bakar Hutan untuk Buka Lahan, Jadi Ancaman Ekosida

23 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 MOJOK.CO

Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

19 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

17 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.