Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
4 April 2026
A A
Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Ilustrasi - Anak PNS kuliah malah menderita karena UKT (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada banyak suka duka menjadi anak PNS atau ASN. Salah satu sukanya adalah bisa hidup berkecukupan, sedangkan dukanya adalah dianggap selalu cukup karena berkecukupan. Akibatnya, kesenangan anak PNS yang berhasil lolos PTN top, seperti UGM, hanyalah semu. Ada beban UKT tinggi yang menghantui sepanjang masa perkuliahan.

Gagal bahagia kuliah di PTN top karena UKT 

Sekitar enam tahun yang lalu, Kiya (bukan nama sebenarnya) (23) merasa senang karena berhasil lolos di UGM. Bagaimana tidak, UGM termasuk salah satu PTN terbaik di Indonesia.

Bukan main, Kiya juga merasa sangat bahagia karena mampu menembus salah satu PTN dengan jalur seleksi mandiri tersulit. Fakta bahwa Kiya berasal dari luar Jawa juga membuatnya kian bangga, sebab dia menjadi 1 dari 2 siswa di provinsi asalnya yang bisa berkuliah ke UGM.

Namun sayangnya, kebahagiaan ini tidak bertahan lama.

Tepat setelah menerima hasil pembagian uang kuliah tunggal (UKT), perempuan ini merasa dihajar hingga babak belur, begitu mengetahui dirinya mendapat UKT tertinggi kedua. 

“Pas pengumuman tuh, aku langsung dapat UKT tertinggi kedua. Golongan 7,” kata Kiya kepada Mojok, Sabtu (3/4/2026).

Kiya mengaku, dirinya tidak menyangka akan mendapatkan UKT tertinggi mengingat latar belakang keluarganya terbilang biasa-biasa saja. Karena status ekonomi keluarganya tergolong menengah, Kiya mengira dirinya akan mendapatkan kelompok UKT yang tidak terlalu tinggi.

Pembagian UKT di UGM menggunakan pengelompokkan. UKT terendah hingga tertinggi diurutkan dari kelompok satu hingga delapan.

Berdasarkan pembagian ini, serta pertimbangan ekonomi keluarganya, Kiya merasa dirinya seharusnya mendapatkan UKT golongan 4 atau 5. Namun realitasnya, kelolosan Kiya di UGM justru dihadiahi beban UKT golongan 7 untuk ditanggung selama kuliah.

Dapat UKT tertinggi di UGM karena status anak PNS

Setelah ditelusuri, Kiya mengetahui alasan yang membuat dirinya mendapatkan UKT tertinggi. Ia bilang, alasannya tak lain dan tak bukan adalah statusnya sebagai anak PNS.

Dirinya mencoba bertanya kepada beberapa teman yang juga berstatus sama, kemudian mengetahui bahwa mereka mengalami hal yang sama. Demikian pula ketika adiknya masuk kuliah, Kiya mengatakan, PTN lain menerapkan pengaturan UKT serupa sehingga adiknya dibebankan UKT tertinggi, sama sepertinya.

“Iya, UKT tinggi kalau anak PNS. Adikku juga sama kena UKT paling tinggi,” kata dia.

“Aku cari informasi rata-rata gitu yang ortunya PNS,” kata dia menambahkan.

Masalahnya, nominal UKT yang ditanggung selama kuliah tidaklah sedikit. Selain karena termasuk golongan atas, dapat dikatakan Kiya berkuliah di fakultas elite di UGM, yakni Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) yang biaya kuliah kelompok atasnya mencapai angka dua digit.

Iklan

“Jadinya aku harus bayar UKT di atas Rp11 juta  per semester,” kata dia.

Padahal, status PNS tidak dimiliki kedua orang tua Kiya. Ayahnya bekerja sebagai tenaga ahli, sedangkan sang ibu adalah PNS. Namun pekerjaan yang hanya dimiliki sang ibu otomatis membuatnya mendapatkan UKT senilai lebih dari Rp11 juta per semester.

“Padahal cuma ibu yang PNS, bapak enggak. Aneh banget,” keluhnya.

Orang tua PNS bukan berarti kaya, malah harus berjuang lebih keras karena stigma

Menurut Kiya, status dirinya sebagai anak PNS yang membuatnya mendapatkan UKT tertinggi tidak adil. Makin tidak adil dengan fakta bahwa hanya ibunya yang bekerja sebagai PNS, serta status dirinya sebagai anak dari tiga bersaudara.

Bukan berarti kebutuhan sehari-hari Kiya tidak tercukupi. Ia mengaku, pekerjaan orang tuanya yang dianggap stabil mampu membiayai kehidupannya dengan cukup.

Namun bukan berarti, Kiya hidup berfoya-foya dan bergelimang harta. Ia hanya hidup berkecukupan selama ini.

“Suka jadi anak PNS, cukuplah buat sebulan,” kata dia.

Kecukupan itu diberikan orang tuanya kepada Kiya dan kedua adiknya, di tengah beban finansial lain yang harus ditanggung dalam satu waktu. Bisa dibayangkan, adik pertamanya sudah masuk kuliah pada waktu bersamaan dengannya, sedangkan adik keduanya juga bersekolah. Artinya, orang tua Kiya harus bekerja semakin keras untuk bisa mencukupi semuanya.

Dengan UKT tertinggi yang secara langsung dibebankan kepadanya dan sang adik, Kiya mengaku merasa keberatan. Ia juga menyadari orang tuanya bekerja mati-matian untuk membayarkan biaya kuliah mereka.

Pasalnya, jumlah penghasilan per bulan sang ibu mencapai Rp7 juta hingga Rp8 juta, tetapi besaran penghasilan itu terasa pas-pasan untuk biaya hidup keluarganya. Kiya menyadari, ibunya sering kali mengikuti perjalanan dinas untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

“Kayaknya gaji ibu mau Rp7 sampai Rp8 juta total, tunjangan besar sama perjalanan dinas. Jadi, ibuku sering sengaja ikut perjalanan dinas buat nambah-nambah,” kata dia.

Kena pukul rata sebagai anak PNS

Untuk membantu meringankan bayaran biaya kuliah, Kiya selalu mencoba mengajukan keringanan UKT setiap semesternya. Masalahnya, potongan yang diberikan tidak seberapa.

Paling banyak, dirinya mendapatkan potongan sebesar 10 persen.

Padahal, besaran potongan biaya kuliah itu tidak cukup meringankan beban kedua orang tuanya.

“Harusnya dapat potongan, gaji PNS segede apa sih?” kata dia.

Menurutnya, biaya UKT tidak dapat dipukul rata karena statusnya sebagai anak PNS. Harus ada pertimbangan pekerjaan dan penghasilan kedua orang tua, serta status ekonomi keluarga, sebagaimana pertimbangan menyeluruh untuk mahasiswa yang orang tuanya adalah pekerja swasta.

Penerapan UKT yang langsung tinggi semacam ini, kata Kiya, secara tidak langsung menunjukkan bagaimana PNS “dicap” sebagai pekerjaan paling sejahtera tanpa mau melihat kebenarannya. Orang tuanya, sang ibu tepatnya, bukanlah PNS untuk Kementerian/Lembaga dengan gaji besar, tetapi harus diganjar biaya besar karena memiliki status yang sama.

Mereka masih harus mengatur penghasilan untuk berbagai kebutuhan, tapi langsung dijatuhi sanksi biaya kuliah anak yang tinggi. Padahal, masih ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi sehari-harinya.

“Dikira orang nggak makan ya di rumah?” tukasnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 April 2026 oleh

Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Innova Reborn: Mobil Keluarga yang Paling Punya Adab (Wikimedia Commons)
Pojokan

Innova Reborn: Mobil Keluarga yang Paling Punya Adab, Tidak Mengeluarkan Aura Brengsek seperti Fortuner dan Pajero

4 April 2026
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO
Esai

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

3 April 2026
Ambisi beli mobil sebelum usia 30. Setelah terbeli Suzuki Ertiga tetap tidak bisa senangkan orang tua dan jadi pembelian sia-sia MOJOK.CO
Sehari-hari

Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia

3 April 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO
Edumojok

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang! MOJOK.CO

Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang!

30 Maret 2026
Pilih side hustle daripada pekerjaan kantoran

Pilih Tinggalkan Kerja Kantoran ke “Side Hustle” demi Merawat Anak, Kini Kantongi Rp425 Juta per Bulan dan Lebih Dekat dengan Keluarga

31 Maret 2026
kerja di kafe Jogja stres. MOJOK.CO

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

Penyesalan Penumpang Kereta Eksekutif: Bayar Mahal untuk Layanan Mewah, Malah Lebih Nyaman Pakai Kereta Gaya Lama

31 Maret 2026
Diledek ibu karena merantau dari Jakarta ke Jogja. MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pulang ke Jakarta setelah Sekian Lama, malah Diledek Ibu Saat Kumpul Keluarga karena Tak Bisa Sukses seperti Saudara Lainnya

29 Maret 2026
Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) diajar dosen absurd. Mata kuliah (matkul) apa yang diajar apa. Fokus mengharamkan dan mengkafirkan pihak lain MOJOK.CO

Diajar Dosen “Absurd” saat Kuliah UIN: Isi Matkul Paksa Sesatkan dan Mengafirkan, Ujian Akhirnya Praktik Wudu yang Berakhir Nilai C

29 Maret 2026

Video Terbaru

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026
Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.